Wawancara Fahri Hamzah: Proyek Citra Ekstrimisme Islam, Trudeau dan Kepemimpinan Nasional 2019

0
111
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pada Reuni Akbar 212. 2017

Tanya: Bang Fahri, kemarin waktu di Reuni 212, bang Fahri bilang tentang adanya upaya menghancurkan citra Islam di Indonesia. Bahwa Islam itu identik dengan radikalisme dan ekstrimisme. Bagaimana Proyek Ekstrimisme ini berjalan untuk menggiring opini publik tentang umat Islam?

Jawab: Kita sebenarnya bisa melakukan kajian historis, bisa melakukan kajian politik. Tapi teori-teori tentang benturan peradaban yang dulu pernah kita gandrungi. Tahun 1990an ada pakar yang sempat menyampaikan itu dan semua terkaget. Lalu ada buktinya bahwa, secara konsisten, terutama sejak 911, itu ada kampanye negatif terhadap Islam, pada umat Islam, negara Islam. Bahkan pada pribadi Islam.

Saya mengingat dulu perdebatannya cukup detail, diantara pemimpin-pemimpin Islam. Dulu jaman Anwar Ibrahim pernah dituduh menjadi fundamentalis, hanya karena dia sholat lima waktu. Atau karena sering mengucapkan salam. Di kampus-kampus juga begitu. Di Indonesia dulu ada pelarangan jilbab dan lain sebagainya.

Jadi pada dasarnya, anasir-anasir konflik dalam peradaban itu ada. Tapi kemudian, ada orang yang menggunakan anasir-anasir konflik itu sebagai cara untuk melemahkan. Jadi misalnya, kalau di Indonesia ini dikembangkan kecurigaan pada umat Islam atau Islampobhia, pasti yang rugi bangsa Indonesia. Yang mayoritas kan orang Islam. Yang akan merasakan perpecahan dan defisit sosial di dalam masyarakat itu pasti orang Islam.

Hal-hal ini tentu kemudian kalau bicara teori Proxy War dan Benturan Peradaban tadi, tentu ada Proyeknya. Ada orang yang mendesainnya. Perang baru itu tidak dilakukan dengan perang bersenjata, berhadap-hadapan. Tapi dengan cara melemahkan suatu bangsa, dengan cara memperbanyak masalah dalam tubuh bangsa ini. Dan itu yang terjadi di Indonesia.

Sebagai Eksponen Reformasi 98, saya dulu menganggap bahwa setelah setelah selesai peristiwa Reformasi, kita akan membangun negara yang kuat, ekonomi yang kuat. Tapi ternyata, PR bangsa ini diperpanjang. PR nya bernama terorisme, PR nya bernama Narkoba. PRnya bernama korupsi. Bangsa ini tak selesai-selesai.

Dan menurut saya, kadang-kadang pendekatan kita itu bukan menyelesaikan. Tapi memperpanjang masalah. Itu yang saya kritik.

Jadi misalnya, saya tak bisa membayangkan, kok bisa Pak Jokowi bisa ngga hadir didepan jutaan peserta Reuni yang begitu banyak. Padahal dia Alumni dari 212 setahun yang lalu. Apa sebenarnya kesulitan dia ?. Datang saja. Ucapkan selamat. Ucapkan “terimakasih diundang, saya berbahagia dan ikut berbahagia. Inilah wajah umat kita dan karenanya kita berbahagia karena punya bangsa dengan muslim yang toleran”.

Gitu dong. Ini malah dia mengentertain kelompok-kelompok yang menuduh ini politik, ini permisif terhadap teroris. Ini ada lambang ISIS dan lain sebagainya. Ini kan kekanak-kanakan. Saya kira itu yang membuat saya prihatin dan kemudian saya pidatokan.

Tanya: Bang Fahri, lantas bagaimana cara kita untuk menggiring opini publik, mengembalikan kepada trek yang benar bahwa Islam itu umatan washatan?

Jawab: Sebenarnya bukan opini publik. Memang harus ada kepemihakan pemimpin. Seperti yang saya ungkap di twitter saya itu. Di Kanada itu ada Perdana Menteri anak muda, anak dari Perdana Menteri lama yang legendaris, Pierre Trudeau. Saya sangat menggemari dan membaca biografinya. Dan masih sempat menonton film-filmnya.

Pierre Trudeau seorang politisi yang hebat. Sekarang dia punya anak Justin Trudeau yang sekarang jadi PM Kanada. Justin Trudeau itu orangnya rasional. Waktu Amerika dan Eropa itu anti imigran, dia bilang “gimana sih ini. Orang datang kan sedang susah (karena jadi korban perang). Kok malah kita anti”. Akhirnya dia mengucapkan selamat datang dan menyambut pengungsi Timur Tengah itu dengan tradisi Islam, Welcome to your country dan sebagainya.

Akhirnya apa. Tenang masyarakatnya itu. Tapi di negara-negara yang ada tendensi untuk memusuhi imigran, akhirnya situasinya kacau. Lihat saja Amerika sekarang. Berantakan. Sampai orang-orang kulit putihnya menjadi radikal. Terganggu jiwanya gitu lho. Sama, di Indonesia ini, kalau politisi, atau presidennya, atau orang-orang yang dibayar dalam diskusi, saban hari ngomong “Radikal, Anti Kebhinnekaan”, nanti justru membuat orang-orang yang moderat jadi radikal.

Ngga gitu cara menyelesaikannya. Tapi dengan melibatkan diri dalam perasaan umum. Menenangkan rakyat, bahwa kita ini sebenarnya tidak punya masalah. Dan harusnya begitu. Dan ini yang saya tentang dari cara pemerintah menyelesaikan masalah sekarang. Kalau cara pertentangan ini terus dibangun pemerintah dan dijadikan kebijakan politik, ini bisa berbahaya.

Tanya: Kalau kaitannya dengan UU Ormas yang sudah disahkan, itu bagaimana ?

Jawab: Itu kan sudah kadung disahkan. Kalau memang kita nanti memimpin. Kalau saya dikasih kesempatan memimpin bangsa ini, hari pertama akan saya batalkan UU tersebut. Saya akan kembalikan hidup rakyat kedalam situasi normal. Dengan UU Ormas lama. Dengan pembinaan. Dengan dialog dan negara menjadi pengayom dari masyarakatnya.

Batalkan itu UU Ormas di hari pertama kepemimpinan saya. Dan saya juga yakin, UU ini maksudnya untuk jangka pendek. Makanya saya punya dugaan-dugaan. Pemerintah itu punya list. Punya daftar ormas. Bubarin ini, bubarin ini. Dan seterusnya yang masuk daftar list. Tinggal cari waktu. Dan itu bencana sekali. Karena itu bisa mendatangkan prejudice secara sepihak dari pemerintah untuk membekukan kegiatan masyarakat. Dengan aksi-aksi sepihak.

Padahal kita tidak boleh membiarkan dalam demokrasi, adanya perampasan hak tanpa melalui mekanisme pengadilan. Itu sudah terjadi. Tapi itu tentu akan kita tentang. Kita lawan. Kita ingin membangun suatu bangsa yang memiliki tradisi dialog. Dengan tradisi berpikir.

Seperti sekarang misalnya, pemerintah mengintroduksi narasi anti-khilafah. Misalnya ini ya. Hanya karena teman-teman Hizbut Tahrir kampanye Khilafah. Lho, salahnya khilafah apa ?. Khilafah itu sistem pemerintahan. Pernah ada. Seperti kesultanan dan kerajaan di masa lalu. Ada kekhilafahan sebagai satu sistem pemerintahan. Sebagai satu obyek kajian dan cita-cita silahkan saja. Itu tidak bisa dihentikan, karena itu cara berpikir orang.

Saya mendefinisikan kekhilafahan berbeda dengan Hizbut Tahrir. Saya berbeda pendapat dengan mereka. Tapi biarkan saja mereka. Itu kan pikiran mereka. Orang itu, kalau mengangkat senjata dan melakukan kekerasan, baru berbahaya. Dulu kita membubarkan PKI. Kenapa PKI dibubarkan. Karena dia itu partai politik lalu memberontak terhadap NKRI. Dia mencanangkan perang sipil. Baru dibubarkan.

Ini kan Hizbut Tahrir baru menyampaikan pikiran saja. Kalau orang mau berkuasa itu kan tahapannya, bikin partai dulu, ikut pemilu dulu, ikut kontestasi, dilihat idenya dibeli orang apa tidak. Ini dialektika. Tiba-tiba tegang. Wah, awas kekhilafahan. Apa ini ?. Sebabnya karena orang-orang ini dangkal tentang Islam. Tidak mengerti agama. Lalu menyebarkan kecemasan. Takut dengan jihad. Takut dengan khilafah. Takut dengan jamaah. Macam-macam yang ditakuti.

Seperti dengan kata “Kafir”. Misalnya. Takut dengan kata kafir. Lho bagaimana, di Kitab Suci umat Islam memang ada kata “kafir”, masa mau dihilangkan?. “Kafir” itu terminologi dalam agama. Dia tidak akan masuk dalam sektor kenegaraan. Karena itu beda. Kata “Kafir” tidak akan masuk dalam UU manapun. Itu mustahil dan tidak boleh.

Tapi istilah “kafir” ini ada didalam Al-Qur’an. Lho, ya ngga mungkin dihilangkan. Biarin saja. Dan orang tidak perlu tersinggung. Sama dengan kalau ada orang nonmuslim melabeli kita yang muslim dengan istilah kafir. Ya tidak apa-apa. Itu kan ada didalam Kitab Suci mereka. Memang kita kafir kok dalam definisi agama mereka. Itu istilah biasa. Itu keyakinan. Masa mau dilarang.

Itu terminologi agama. Siapapun mesti santai dan rileks dong. Karena kita tidak beragama seperti mereka, kita disebut kafir. Karena mereka tidak beragama seperti kita, kita menyebut mereka kafir. Itu bukan hinaan. Jadi, ini daripada dibuat sebagai sumber ketegangan, dibuat biasa saja lah. Terbiasalah. Itu terminologi khas dari agama-agama. Tidak mungkin dihilangkan.

Tanya : Kemudian terakhir bang, himbauan untuk umat Islam, kira-kira bagaimana sikap kita dengan penguasa yang phobia dengan simbol-simbol keIslaman ini, apa yang harus kita lakukan?

Jawab : Ya kita mesti mencari jodoh bagi umat Islam. Karena umatnya sudah ada. Kita ini umat lama dan sudah tua. Mulai dari Aceh hingga Tidore. Jailolo. Sultan-sultan ini. Kaharuddin, Bafaruddin, Malikussaleh dan seterusnya, ini semuanya namanya umat. Umat ini yang menghuni nusantara. Sejak lama. Tapi jodohnya belum ada.

Jodohnya adalah pemimpin yang memahami sejarah, membaca naskah, dan membaca kesadaran yang lahir dari bumi pertiwi kita ini, menjadi pemimpin yang otentik. Lahir dari saripati Indonesia. Dan dia akan menjadi jodoh kita. Sehingga tenanglah bangsa ini. Jadilah kita bangsa besar. Kalau sekarang, orang tidak tenang, karena kita diganggu terus. Bagaimana orang bisa tenang kalau setiap hari diganggu.

Demikian wawancara ini. Semoga rakyat Indonesia segera menemukan jodohnya.

Sumber: wawancara SuaraMuslimTV di Nusantara 3 Lantai 4 DPR RI, 4 Desember 2017. Link: https://youtu.be/Zj09zVekczw

#PawaiKebangsaan
#PawaiPersatuan
#MerdekaBro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here