Vergadering, Pawai Kebangsaan dan Kembalinya Cita-Cita Kemerdekaan

0
349

Oleh: Bambang Prayitno

Vergadering (Rapat Umum) adalah tradisi pergerakan. Di Indonesia, kaum pergerakan telah mentradisikan vergadering sejak 1900-an. Dimana saat itu, Tjokroaminoto dengan Syarikat Islam-nya telah memulai memobilisasi buruh, petani dan kaum pedagang untuk mengikuti vergadering di berbagai tempat dan mendengarkan gagasan para pemimpin mereka tentang perlunya kesadaran rakyat melawan penindasan dan kolonialisme.

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei juga tidak bisa dilepaskan dari peristiwa berbagai vergadering kelompok muda seluruh Indonesia pada saat itu. Dimana anak-anak muda mulai mematangkan seluruh gagasannya tentang persatuan dan nasionalisme dalam berbagai vergadering (rapat akbar); hingga kemudian, lahirlah Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 lalu dilanjutkan berkumandangnya Sumpah Pemuda setelah 20 tahun perjuangan.

Seluruh gelombang peristiwa yang menyertai Indonesia hingga hari ini, tidak pernah bisa dilepaskan dari momentum penyatuan kesadaran dan pensolidan gagasan tentang kehendak perubahan. Mulai peristiwa 1908, 1928, Kemerdekaan Indonesia 1945 dan sesudahnya (Rapat Raksasa Ikada yang diikuti kurang lebih 200.000 rakyat Jakarta pada September 1945), gejolak 1965, peristiwa 1978 dan Reformasi 1998; tidak pernah bisa dilepaskan dari pra-kondisi pematangan gagasan lewat medium vergadering.

*Ada Apa Dengan 18 Tahun Reformasi ?*

Momentum 18 tahun reformasi adalah momentum istimewa. Karena; pertama, di tahun inilah, saat yang tepat bagi kita untuk mengingat kembali apa saja yang telah berubah dari Indonesia, sejak kata reformasi didengungkan. Apa saja tuntutan rakyat dan mahasiswa yang hari ini telah berubah menjadi kenyataan yang menggembirakan. Atau mungkin melenceng menjadi peristiwa menyedihkan; karena tak juga terwujudnya tuntutan kita 18 tahun lalu.

Yang kedua, kita sedang mempersiapkan takdir perubahan bangsa kita. Belajar dari sejarah masa lalu, bahwa setiap 20 tahun, Indonesia selalu mengalami gelombang peristiwa dan perubahan besar. Jika isyarat zaman ini kita baca dengan kejernihan, maka yakinlah, kita akan dihentakkan oleh kesadaran dan tanggungjawab untuk menjadi bagian dari kaum pembaharu yang bertugas mempersiapkan ‘Indonesia Baru’ atau peristiwa besar dalam beberapa tahun kedepan.

Vergedaring di seluruh Indonesia menjadi semacam panggung untuk mematangkan gagasan dan narasi masa depan Indonesia. Dan di tahun inilah, di momentum hari reformasi-lah, kita memulainya.

Siapa Penyelenggara Vergadering 18 Tahun Reformasi ?

1. Organisasi pergerakan (Cipayung Plus, BEM Nusantara, BEM-SI, dan seluruh organisasi pergerakan lainnya)
2. Ormas kepemudaan nasional dan daerah serta LSM dan kelompok pergerakan tani dan buruh
3. Para pemikir dan kaum intelektual negeri ini

Apa Temanya ?

1. “Reformasi Setelah 18 Tahun: Mempersiapkan Indonesia Baru”
2. “18 Tahun Reformasi: Kenangan, Mimpi dan Asa Generasi Baru”

Bagaimana kegiatannya ?

1. Di Jakarta, kita akan mengadakan vergadering (Rapat Akbar).Dengan Keynote Speaker H. Fahri Hamzah (Tokoh utama Reformasi) dan beberapa tokoh pergerakan.

2. Di seluruh daerah di Indonesia, kita akan melakukan vergadering dengan melibatkan seluruh aktivis pergerakan daerah yang diisi dengan refleksi, pembacaan puisi dan ‘Ikrar Menuju Indonesia Baru’.

3. Di media sosial, kita akan melakukan vergadering dalam bentuk meramaikan dunia maya dengan berbagai status, twit, meme dan foto, yang berisi harapan, cita dan gagasan anak-anak muda tentang Indonesia masa depan dengan menyertakan beberapa pilihan tagar:

#vergadering18tahunreformasi #18tahunreformasi #generasibaru #indonesiabaru #welcomethemillenials

Semoga Vergadering 18 Tahun Reformasi ini bisa menjadi media untuk menguatkan barisan, mensolidkan gagasan, menyemaikan semangat generasi baru -terutama generasi millenial- akan cita-cita Indonesia masa depan di hadapan kita.

Lalu, setelah satu setengah tahun kemudian, apakah rapat umum, pengumpulan massa, konsolidasi seluruh aktivis muda pascareformasi dan anak-anak muda millenial Indonesia itu masih relevan ?


Penulis adalah aktivis sosial politik dan pimpinan nasional KAKAMMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here