Unchallenged- 1

0
59

by. Imam Shamsi Ali*

Di tengah konflik yang menjamur di dunia Islam saat ini, yang menyebabkan umat ini harus menanggung akibat yang sangat dahsyat. Kerusakan bahkan kehancuran kota-kota peradaban, seperti Baghdad dan kota-kota Syam (di Suriah), bahkan ribuan korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk kaum wanita dan anak-anak memiriskan jiwa.

Sementara itu, dunia Islam terus menerus mengalami konflik dan masalah internal. Dari perang saudara, baik sesama agama maupun sesama bangsa dan suku. Kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan seolah menjadi ikon dunia Islam saat ini.

Di tengah semua itu, bagaikan Isra’ Mi’raj Rasul terjadi di tengah terpaan badai, Islam justeru mengalami perkembangan pesat. Islam melaju menjadi agama dengan perkembangan terpesat dunia. Bahkan diprediksi di tahun 2050 mendatang, Islam akan menjadi agama dengan pemeluk terbesar di dunia.

Pertanyaannya adalah kira-kira faktor apa saja yang menjadikan Islam begitu solid, kuat dan laju tidak tertahan? Pemeluknya mungkin saja termarjinalkan, dilemahkan, dizholimi, bahkan dimatikan. Tapi yang pasti cahaya Islam tidak akan pernah terhentikan oleh siapa dan apapun.

Sungguh Islam itu adalah cahaya. Iya cahaya. Dan bukan cahaya seperti biasa. Tapi cahaya Tuhan. Cahaya yang adanya di atas cahaya (Nuur alaa nuur). Cahaya inilah yang dijamin Allah SWT kelestarian esksistensinya, apapun keadaan yang mengelilingi.

Berikut adalah faktor-faktor soliditas Islam sehingga tetap eksis, bahkan maju berkembang di tengah resistensi yang keras sekalipun.

1. Janji Allah Pasti adanya

“Allah tak akan pernah mengingkari janjinya”. Itulah janji pasti Ilahi. Bahwa kemenangan pada akhirnya berada di pihak kebenaran. Janji-janji itu dalam keragamannya berulang kali disampaikan dalam Al-Quran.

“Janganlah kamu merasa hina, jangan pula bersedih, karena sesungguhnya kamu di posisi tertinggi jika kamu mengetahui”.

“Sesungguhnya golongan Allah (hizhullah) itu adalah golongan yang menang”.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah tapi Allah tetap menyempurnakan cahayaNya. Walau mereka tidak menyenangi”.

Itulah sebagian janji-janji Allah untuk agama ini. Ini pula yang menjadi optimisme besar bahwa tantangan-tantangan yang ada saat ini, tidak saja akan berlalu. Tapi justeru akan berbalik menjadi peluang-peluang untuk mempercepat kemenangannya.

Contoh teraktual barangkali adalah realita bahwa saat ini, pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika, Islamophobia tidak saja di pinggir-pinggir jalan. Kini phobia dan kebencian itu keluar dari Gedung Putih. Jika dulu Islamophobia itu adalah kasus sporadis di sana-sini. Kini Islamophobia itu berbentuk kebijakan publik yang keluar dari Gedung Putih.

Tapi di tengah kelamnya masa-masa kini, terbersit sinar mentari di upuk seberang. Kebijakan-kebijakan yang menyudutkan umat Islam justeru berbalik menjadi peluang dakwah yang luar biasa. Masyarakat Amerika membuka mata jika umat Islam adalah bagian integral dari bangsa Amerika, dan karenanya wajib dibela.

Bulan Februari 2017 lalu misalnya saya memimpin rally atau demonstrasi dengan pesan: hari ini saya juga Muslim (today I am a Muslim too). Tidak kurang dari 7000 sahabat non Muslim yang keluar ke jalan dan mendeklarasikan “hari ini saya juga Muslim”.

Artinya kebencian dan permusuhan yang kamu lakukan kepada Muslim sejatinya diperlakukan kepada semua. Seperti yang sering saya sampaikan: “an attack on any is an attack on all”.

Itulah satu contoh nyata betapa tantangan bisa berbalik haluan menjadi peluang.

2. Kekuatan ruhiyah Islam yang tak terkalahkan

Kekuatan pertama dan terutama (primary) dalam Islam itu bukan pada kekuatan ekonomi, bahkan tidak pada kekuatan persenjataannya. Sejarah membuktikan bahwa 303 prajurit dengan persenjataan sederhana mampu mengalahkan 1000 lawan dengan persenjataan yang lebih lengkap.

Sejarah juga membuktikan bahwa peperangan-peperangan sengit justeru terjadi di bulan Ramadan, dan dimenangkan oleh umat ini.

Semua itu menandakan bahwa kekuatan Islam itu bukan pertama kali pada kekuatan fisiknya. Tapi terletak pada kekuatan spiriualitas (ruhiyah) yang terbangun di atas keyakinan yang solid.

Di sekitar penghujung tahun 2007 lalu, di pagi hari di Muslim salju, saya tiba di Islamic Center New York agak dini. Terkejut karena ternyata di ruang tamu sudah menunggu seorang tamu, wanita Amerika yang nampak berpakaian rapih dan apik, walau tidak memakai kerudung.

“Good morning Miss!” Sapa saya.
“Hello, good morning”, jawabnya sambil tersenyum.

Sambil berlalu saya permisi sebentar untuk masuk ruangan kantorku. Selain mengambil buku catatan, juga meletakkan tas yang penuh dengan buku dan laptop pagi itu.

“Yes Miss, what I can do for you this morning”, saya memulai dialog pagi itu.

Sambil memperbaiki duduknya, sang wanita baya itu kembali tersenyum, tapi nampak sangat sopan dan berhati-hati. “I wanted to ask a few questions Sir”, jawabnya.

Singkat cerita, sang wanita itu ternyata dulu pernah bekerja di sebuah NGO di beberapa negara Muslim, termasuk Jordan, Turki, dan Suriah. Dan saat ini beliau adalah pegawai di salah satu bagian di kantor Pusat PBB New York.

Beliau menanyakan tentang sebuah pengalaman yang menurutnya seolah-olah menghantuinya (hunting her). Pengalaman itu adalah pengalaman mendengarkan keindahan suara azan di Turki.

“I left Turkey six months ago. But the voice is remaining in my ear and head” (Saya sudah selesai tugas dari Turki sejak 6 bulan lalu. Tapi suara itu seolah menetap di telinga dan kepala saya), katanya.

Saya kemudian menjelaskan apa azan itu, dan yang terpenting kenapa seolah masih terngiang di telinga. Bahwa azan itu bukan nyanyian atau panggilan biasa. Itu adalah suara panggilan suci untuk menghadap kepada kesucian tertinggi. Dan karenanya keindahannya tidak pada langgam atau bentuk alunan suaranya. Tapi pada makna yang terkandung di dalamnya.

Semakin terbuka hati seseorang (tidak tertutup) semakin pula terasa keindahannya. Mendengarnya bukan sekedar dengan telinga kasat. Tapi pendengaran batin yang dalam.

Alhamdulillah, setelah mendengarkan uraian singkat tentang arti azan dan makna-makna yang terkandung di dalamnya, Margarita, demikian nama wanita itu, memeluk Islam.

Itulah sentuhan ruhiyah. Hatinya menjadi hidup dan subur dengan suara azan yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas. Sebuah kekuatan yang menjadikan agama ini akan terus eksis dan berkembang.

3. Rasionalitas yang matang

Islam itu adalah agama yang sangat rasional. Sayangnya, masih banyak pengikutnya yang kurang rasional. Demikian seringkali saya sampaikan di mana-mana.

IQRA sebagai perintah pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah bukti nyata akan urgensi rasionalitas dalam beragama. Bahkan keimanan kepada “laa ilaaha illa Allah” sekalipun bukan berarti sekedar dogma buta. Iman dalam Islam terbangun di atas “keilmuan” yang jelas.

“Fa’lam annahu laa ilaaha illallah” (ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Dia).

Itulah sebabnya ribuan ayat dalam Al-Quran barbicata tentang alam semesta. Matahari, Bulan dan bintang, bumi dan lautan, bahkan diri manusia itu sendiri semuanya adalah “aayaat” (tanda-tanda) keesaan dan kebesaran Allah.

Logika atau rasionalitas Islam itu sederhana tapi jelas dan tegas. Misalnya: “Kalau seandainya ada tuhan selain Allah maka akan rusak keduanya (langit dan bumi).

Logika ini sederhana tapi tegas menolak argumentasi apapun kemungkinan adanya tuhan selain Yang Maha Wujud. Bahwa seandainya ada tuhan lain selain Alah akan hancur alam semesta ini (langit dan bumi). Karena pasti tuhan-tuhan itu sama-sama berkuasa mutlak, dan mutlak mengalahkan yang lainnya. Maka pasti terjadi “bentrokan” di antara kedua kekuatan mutlak itu, yang berakibat kepada kehancuran langit dan bumi.

Di suatu malam di bukan Ramadan, di sebuah masjid di kota New York, hadir beberapa mahasiswa/mahasiswi dari NYU. Mereka hadir di masjid itu untuk ikut merasakan nikmatnya berbuka puasa. Entah apa di benaknya, salah seorang mahasiswi warga Amerika keturunan India bertanya: “apa yang istimewan dari ajaran Islam?”.

Malah lebih jauh mengatakan: “jika anda bisa menyampaikan ke saya keistimewaan Islam, dan tidak ada pada agama lain, saya memeluk agama Islam”.

Awalnya saya kira dia bercanda. Tapi tetap saya mencoba memutar otak untuk menemukan jawaban yang pas.

“What is your religion?”, saya memulai.
“I am a Hindu”, jawabnya singkat.

Saya terpikir jawaban yang paling pas untuk mahasiswi ini adalah keesaan Tuhan. Maka saya sampaikan bahwa kami orang Islam percaya hanya kepada Tuhan yang Maha Tunggal.

Sang mahasiswi itu tertawa sambil mengatakan: “I also do the same”.

“But how those idols? You do worship uncountable idols”, kata saya.

Mahasiswi itu lalu nampak serius lalu berkata: “we Hindus believe in One God. Those idols are not gods. Each of those only represents certain aspect of god”.

Mendengar jawaban itu saya kembali memutar otak bagaimana menjawab sang mahasiswi yang pintar ini. Tiba-tiba logika SD saya timbul.

“Are you an American?”, tanya saya singkat.
“Yes sir!”, jawabnya tegas.
“Do you like to meet your president?”, tanya saya lagi.
“Of course!”, jawabnya.

Saya diam sejenak lalu melanjutkan: “which one is preferable to you? Meeting your president directly or through one of his assistants?”.

“Meeting him directly!” Jawabnya singkat.

Saya kemudian memgambil alih sepenuhnya percakapan itu. Seraya melihat ke semua mahasiswa/mahasiswi yang ada pada malam itu saya katakan: “itulah keuniikan Islam. Bahwa keyakinan kita kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, juga diikuti oleh pengabdian semata kepadaNya. Dan semua itu meniadakan adanya sekutu Tuhan dalam aspek apapun”.

Mendengar itu sang mahasiswi tadi nampak mengangguk dan tersenyum. Sambil bercanda, saya tanyakan kepadaNya: “So?” (Lalu bagaimana?”. Maksud saya akankah dia memenuhi janjinya masuk Islam?

Ternyata di luar sangkaan saya sang mahasiswi itu serius dan berkata: “yes I wanted to embrace Islam!”.

Malam itu dia mendeklarasikan “laa ilaah illa Allah, Muhammadan Rasulullah” disaksikan oleh mahasiswa/mahasiswi lainnya.

Itulah bukti rasionalitas Islam. Sederhana, jelas dan tegas. Dan ini pula yang menjadikan agama ini berkembang pesat, unchallenged, walau tantangan itu semakin meninggi. (Bersambung).

Jkt-Dubai, 26 April 2018.

* Presiden Nusantara Foundation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here