Tuan dan Puan, Sambutlah Tahun Politik

0
59

 

Di atas pentas itu,
Seorang hulu balang pidato pembuka
“Tuan dan puan,
Sambutlah tahun politik!”

Gegap gempita tepuk tangan
250 juta penonton dari Aceh hingga Papua.
Ada yang berdiri.
Ada yang siul cuit cuit
Ada yang yel membahana

Sang hulu balang umumkan acara:
“Akan ada nyanyi dan tarian
Kontenstan para kepala daerah
171 wilayah.
Puncak acara,
Bersiaplah sambut para calon lurah
Yang akan pimpin ini negeri.
Tuan dan puan,
It is show time.
Sambutlah tahun politik!”

Tirai terbuka
Gong dibunyikan
Kertas warna warni turun dari plafon
Pesta dimulai

Tapi Anwar diam terpaku.
Di barisan penonton yang bersorak,
Anwar dingin berjarak.
Terpisah dari kumpulan tepuk tangan.
Tahun politik dibencinya dari segala.

Celaka, ujar Anwar.
Akan datang lagi para amatir.
Para anak bawang tak ngerti masalah
Sekedar ingin kuasa.
Nasib orang banyak dipertaruhkan.

Kacau, keluh Anwar.
Akan datang lagi para pendusta.
Tawarkan gula gula.
Setelah terpilih, ia tiada beda.

Bahaya, seru Anwar.
Bersama tahun politik,
Datang pula para pedagang.
Politik hanya menjadi toko kelontong.
Mereka buka lapak.
Keruk uang sesukanya.

Anwar kenang ratusan kepala daerah.
meringkuk jadi tersangka.
Ia ingat bupati hingga gubernur,
menteri hingga ketua DPR,
sekda hingga pimpinan partai,
Terciduk penjara.
Berlagak pejuang ternyata pencoleng.

Oh, keluh Anwar,
Ini negeri akan kemana?
Mengapa di pentas itu tiada lagi gagasan?
Mengapa hanya ada abu?
Kemana itu api?
Celaka!!!

Anwar terpesona.
Harun yang duduk di sebelah,
Begitu bahagia.
Beda dengannya.
Sangat berbeda.
Harun tonton pentas tahun politik,
dengan seluruh diri.

Harun, ada apa?
Mengapa kau tepuk tangan?
Tak kah kau sadari?
Ini tahun politik.
Akan pecah belah ini negeri?

Harun senyum saja.
Dikenalnya Anwar hingga batin.

Ujar Harun,
Anwar kaca matamu terlalu buram.
Kau hanya lihat gelap.
Tak kau sadari warna warni.
Lihatlah itu pelangi.

Anwar, sapa Harun.
Kembangkan pengertian.
Ini negeri masih kanak kanak.
Walau tua usia.
Tapi demokrasi barang baru.

Kanak kanak belajar berjalan.
Tak apa sesekali jatuh.
Kanak kanak belajar ucap.
Tak apa sesekali salah.
Kanak kanak belajar bermain.
Tak apa sesekali melukai.
Lihat ia dalam kanvas besar.
Pada waktunya,
Semua akan indah.
Ayo berdiri, tepuk tangan.
Sambutlah tahun politik.

Jika kau diam.
Mampuslah dirimu.
Terpilih pemimpin buruk.
Belang belang hidupmu kelak.
Tiada kau bisa hindari.
Politik akan atur bahkan posisi ranjangmu.
Politik akan atur nafasmu.

Ayo ambil bagian.
Goreskan warnamu.

Hulu balang di pentas itu terus bicara.
Dirangkainya aneka kata.
Tahun politik telah tiba.

Di bagian penonton,
Duduk Anwar yang beku ambil jarak.
Namun ada pula Harun.
Ia tak henti berdiri tepuk tangan.

Ayo Anwar, ujar Harun lagi.
Tahun politik telah tiba.
Daripada kau cerca gelap.
Lebih baik kau bawa lilin
Daripada mengeluh soal kelam,
Ayo bawa cahaya!

Langit Indonesia membentang
Bulan, Bintang, dan Matahari
Terbit bersama

Januari 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here