SURAT UNTUK SEMUA KETUA PARPOL: PARTAI KALIAN DITUDUH LUMBUNG KORUPTOR

0
26

By. Fahri Hamzah

Sambil menikmati Jurnal ringan ini saya mencoba menulis surat terbuka kepada para pimpinan partai politik.
Mereka yang menentukan banyak hal di negara ini.

Kepada Pimpinan Partai Politik yang terhormat,
kepada yang tertuduh sebagai lumbung koruptor,
kepada Pusat Pengkaderan Politisi dan Pemimpin Negara…
Apapun partai anda,
Dimanapun posisi anda…

Tidakkah saudara mendengar, berita terakhir tentang sebuah kota yang hampir seluruh anggota legislatif daerahnya menjadi tersangka?

Ya, di kota Malang, negara hampir lumpuh di kota indah itu, tujuan negara berubah menjadi perang melawan korupsi, meski negara harus lumpuh.

Tidakkah saudara mengetahui bahwa mereka semua adalah anggota partai anda?
Aku tak perlu menyebut nama-nama partainya, sebab nanti partai baru yang belum ikut pemilu akan sesumbar norak seolah mereka harapan baru… seolah mereka lebih suci…

Mungkin anda tidak marah karena berita penangkapan pejabat negara sudah menjadi sinetron tiada akhir, hingga menjadi biasa, tetapi aku, entah mengapa, padahal aku tak lagi menjadi pengurus partai, tapi aku mengerti dan merasakan bagaimana tulang punggung demokrasi itu dibangun.

Membangun parpol jangan saudara reduksi menjadi membangun firma atau korporasi berjual pengaruh. Parpol adalah tulang punggung demokrasi.

Tanpa parpol maka punggung demokrasi kita patah dan kita kembali ke zaman gelap gulita.

Maka, pilihan membangun parpol adalah pilihan tidak saja rasional yang tak mudah bagi mereka yang hanya bermodalkan ide dan gagasan, parpol adalah jalan yang paling legal konstitusional untuk mengambil bagian dalam negara, ini jalan orang dewasa untuk berkuasa.

Tiada jalan lain bagi masa depan ide dan gagasan suatu kelompok yang ingin ikut memimpin negara dan berpengaruh dalam politik selain dikontestasikan melalui pemilu, dan peserta pemilu hanyalah partai politik.
Jalur pribadi terbatas.

Perkara membangun parpol adalah satu hal yang sudah berat, namun hal lainnya adalah menjaga narasi rasional anak bangsa untuk tetap melihat parpol sebagai masa depan dan puncak perjuangan kelompok. Ini sumber optimisme bahwa kita tetap akan menempuh pertarungan ide saja.

Maka, partai politik itu seharusnya suci dalam ide bukan karena ia benar tetapi karena ide dan pikiran adalah jalan damai.

Demikianlah reputasi kita bangun, namun ada yang ingin merusaknya dengan terus mengkampanyekan kebusukan parpol sebagai mesin produksi koruptor.

Inilah yang saya sedihkan, sesuatu yang mungkin para pimpinan parpol tidak merasa sedih.

Saya terpukul oleh ketidakberanian menjelaskan diri. Parpol telah jatuh dan ketakutan mereka telah melampaui seluruh sisa kebenaran yang masih mungkin dikatakan.
Mereka sembunyi.

Kesedihan dan kecemasan bercampur.
Seolah di masa depan tulang punggung demokrasi ini tidak diperlukan lagi.
Dan nanti perjuangan kelompok dapat disederhanakan dengan cara lain yang lebih efektif menurut kelompok penguasa.

Atau kelompok yang terus mengkampanyekan kebusukan partai politik ini seperti sedang memberi sinyal, bahwa ada jalan lain mengambil alih kekuasaan tanpa ikut bertarung dalam pemilu, mereka pergi ke istana mengetuk pintu dari belakang. Lewat dapur dan kamar pribadi sang raja.

Ada juga sebagain dari mereka yang karena menguasai akses jalur distribusi uang dan modal, menguasai frame public dengan kepemilikan media massa, bisa membangun partai dalam hitungan hari.

Partai tumbuh langsung pakai iklan: ANTI KORUPSI ANTI INTOLERANSI.

Banyak yang menganggap bikin parpol seperti bikin jalur pemasaran barang; tak ada konsolidasi ide dan gagasan, tak pernah melakukan pendampingan atas kelompok marginal, basis dan platform perjuangan bisa disusun belakangan, namun eksis listed sebagai peserta pemilu pakai konsultan.

Tapi, kita menghormati mereka yang memiliki kesadaran demokrasi maju dengan mendirikan partai politik.
Adapun niat kita jangan adili. Tapi penguasa media massa, seorang jenderal atau pengusaha yang ingin berikhtiar membangun bangsa dengan mendirikan parpol harus tetap diapresiasi.

Bahwa kita tahu mereka juga akan menjadi mangsa sistem ini itulah masalahnya. Pernah ada partai di masa lalu berkampanye anti korupsi, tutup mata dan telinga; KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI! tapi akhirnya mereka terkena pukulan mereka sendiri bahkan bintang iklannya pun masuk bui.

Disinilah darahku mendidih mendengar berita dan tuduhan bahwa semua partai politik hari ini tertuduh sebagai perusak bangsa, semua kader parpol yang dibina melalui pendidikan politik berjenjang seolah hanya dilahirkan untuk menjadi garong uang negara.

Dan menyedihkan bagi bangsa karena seolah tiada hari tanpa berita mangsa KPK, dan cerita itu sukses membuat rakyat sprt gembira tiap ada pejabat negara yg ditangkap KPK, kebencian trhdp pejabat publik yg mengakibatkan distrust thdp negara semakin menjadi jadi.

KPK telah berhasil membuat hampir semua lembaga negara nampak busuk. Tak tersisa tinggal hanya KPK. Maka KPK adalah sisa harapan bangsa. Kalau lembaga mau bersih pakai orang KPK. Demikianlah parpol juga berlomba mencari mantan KPK untuk dicalonkan menjadi pejabat negara.

Alumni KPK menyebar menjadi penyelamat lembaga negara dan juga parpol. Mereka dicalonkan menjadi inspektorat, direksi, komisaris, kepala daerah pendamping bak obat pemutih. Atau Jadi caleg dan anggota partai yg menjamin bahwa partai itu sekarang suci terlahir kembali.

Tapi Pertanyan reflektif yg harus kita ajukan hari ini adalah apakah tujuan utama solidaritas agung bernama negara ini dibangun untuk perang lawan korupsi? Mengapa negara menyerahkan semua tenaganya untuk membolehkan KPK mendefinisikan diri menjadi apa dan melakukan apa?

Dalam kasus DPRD yg Malang itu, 41 dr 45 anggota DPRD yg krn mengaku menerima pemberian uang dr seorang ketua DPRD senilai 12,5-15 juta membuat KPK mengambil tindakan membakar habis lembaga yg tanpanya pemerintah daerah yg mengurus urusan khalayak ramai tak bisa berjalan.

Setelah sekian lama mengintip dan menyadap mereka, KPK menunggu waktu yang tepat untuk mempermalu mereka dan mempermalu partai politik semuanya. KPK Memberangus habis orang2 yg dlm posisinya hrs mendapat legitimasi rakyat melalui pemilu langsung yg mahal.

Pimpinan Parpol yg terhormat,
Apakah saudara mengerti dengan apa yang terjadi? Apakah anda percaya bahwa seluruh kader itu korupsi? Jika demikian untuk apa politisi terus berani mengajukan diri untuk menjadi pemimpin negeri ini?

Saya ingin mengaja saudara melakukan refleksi setelah 16 tahun UU anti korupsi Uu No 30/2002 dijalankan, bhw maksud dr UU itu dibuat adalah agar tercipta national integrated system dmn semua unit dlm system lembaga negara terbebani tugas pemberantasan korupsi yg sama.

Dan KPK dlm situasi transisi dilahirkan sbg trigger bg lembaga penegak hukum untk mengembalikan trust public pd lembaga inti negara, penindakan hny dilakukan atas kasus raksasa dibatas 1 Milyar rupiah yg memiliki efek koreksi dan perbaikan pd system peninggalan orde baru.

Mudah memahami bahwa demokrasi itu bekerja berbasis system, tiap ada korupsi harus direspon dengan penguatan sistem agar waspada hingga system menjadi kuat dan tak memberikan sedikitpun celah bg kreativitas jahat, dan sistem akan bekerja otomatis menambal lubang korupsi pada dirinya.

Sementara komisioner KPK datang silih berganti, tanpa legacy berupa system yang kuat, kita hanya akan melihat mereka sibuk mengulangi pekerjaan yang sama, dan itulah kegilaan.
Cara kerja KPK hari ini hanya seperti membuang air dari perahu, sementara bocor tak pernah ditutup.

Dan kita terlihat sibuk bekerja dan takjub dengan tepuk tangan, situasi ini hanya akan membuat kita terus mengutuk diri sendiri sebagai bangsa maling, kita akan terus menghadirkan cerita dimana kita sebagai sesama anak bangsa saling memakan dan mencabik satu sama lain.

Pimpinan parpol yth,
Situasi ini harus dihentikan, KPK tidak mampu lagi bekerja di atas rel yang seharusnya sesuai perintah UU 30/2002. Ketidakmampuan itu membuatnya menjadi liar dan justru menjelma sebagai anomali yang merusak system.

KPK tak lagi bekerja sesuai UU karena tugas trigger terhadap lembaga penegak hukum lain justru dikubur dengan MoU untuk tidak saling mengganggu. Sementara itu lembaga perwakilan dan peradilan terus menjadi bulan bulanan, partai politik diblackmail sebagai penghasil koruptor.

Saatnya kita hentikan bangun system transisi dan mempercayakan kembali pemberantasan korupsi pada lembaga inti negara. Banyak yang berkata polisi dan jaksa belum baik, lalu sampai kapan kita akan membuatnya baik tanpa diberi peran yang utuh?

Negara akan tetap ada tanpa KPK, namun negara tak akan ada tanpa adanya Polisi dan jaksa sebagai lembaga inti negara.
Mereka tidak akan bisa melakukan perbaikan jika tidak melalui koreksi langsung dari public atas tiap tindakannya. Itulah cara membangun sistem inti negara.

Maka satu-satunya cara memberi ruang perbaikan pada lembaga inti negara tersebut adalah dengan menghilangkan KPK, transisi pun kita nyatakan usai.
Dan kita hidup dalam era demokrasi penuh yang sebenarnya adalah racun bagi korupsi.

Pimpinan Parpol yth,
Meski saya ragu dengan situasi terkini, pesan ini tetap saya sampaikan.
Sebagai warga yang melihat semua ini dari dekat.
Saya tau bagaimana sandera ini diakhiri.
Sulit sekali.
Semua pimpinan parpol telah berhutang budi, berhutang nyawa.

Ada suatu situasi seolah pimpinan parpol masih menunggu eksekusi.
Kalau tidak pejabat paling tinggi maka ada pejabat paling penting.
Pukat harimau KPK telah menjaring seluruh dosa dan semua telah tercatat dalam daftar eksekusi KPK: Diam atau mati.

Dalam suasana inilah pemilu yang akan datang kita nanti. Dan calon presiden tak punya pilihan lagi.
DUKUNG KPK BERANTAS KORUPSI.
Hanya satu semboyan yang masih bisa memberikan tambahan suara.
Karena ide dan idealisme sudah tak ada lagi.

Semoga lahir generasi yang menggunakan mata hati.
Sebab kemunafikan ini menyesakkan dada.
Orang-orang berlomba nampak bersandiwara.
Akrobat di sana-sini.
Apakah partai saudara seperti itu?
Semoga ada jalan baru.
Ada Arah Baru.
Bagi negeri ini.
Terima kasih.

Twitter @Fahrihamzah 13/9/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here