Sekjen KAKAMMI : Pemimpin Harus Memiliki Narasi Kebangsaan

0
255

“Pemimpin Indonesia harus memiliki narasi kebangsaan dan kenegaraan yang kuat. Hal ini diperlukan karena besarnya sumber daya yang dimiliki bangsa Indonesia, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya politik dan sosial budaya”. Demikian disampaikan oleh Rahman Toha (Sekjend Keluarga Alumni KAMMI) dalam diskusi bertema “Siapa Presiden RI 2019”, yang diadakan oleh Garuda Nusantara Center, 12 Oktober 2017 di kawasan SCBD, Jakarta.

Kita melihat pemimpin yang tidak memiliki narasi akan gagap menghadapi kompleksitas dinamika yang ada dan pada akhirnya dia tidak mampu menghadirkan dirinya dalam dinamika kebangsaan sebagai pemimpin yang utuh.

“Coba kita perhatikan pemimpin sekarang, dalam diskursus pemberantasan korupsi pun ternyata hanya berkisar pada penguatan KPK. Tapi kepolisian dan kejaksaan yang jadi sorotan dianggap tidak kunjung memberikan perubahan dan perbaikan” Kata Rahman

Dalam isu senjata antara TNI dan Polri pun kita melihat ada adu argumen yang cukup berbahaya. Bagaimana situasi bangsa dan apa maunya kita ke depan, dalam konstelasi politik memanas dengan sistem demokrasi terbuka ini?. Akhirnya yang kita dapatkan adalah kegaduhan demi kegaduhan yang tidak produktif .

Selain Rahman Toha, hadir dalam diskusi tersebut peneliti LIPI Siti Zuhro, pengamat dari UI Rocky Gerung dan direktur SMC Syahganda Nainggolan. Siti Zuhro menyampaikan bahwa selain memiliki kapasitas dan komitmen kuat, Indonesia perlu sosok ‘strong leadership’.

Sementara Rocky Gerung menilai minimnya dialektika dan argumentasi dalam dunia politik indonesia. Yang menguat justru sentimen politik. Sehingga pemimpin dan elit politik bukannya memperkuat konvergensi sosial malah sering menjadi penyebab divergensi sosial. Rocky menilai pemimpin ke depan haruslah pemimpin yg memiliki dan menjamin tumbuhnya tradisi argumentatif dan kebebasan berpikir maupun berpendapat.

Menambahkan kesimpulan diskusi, Syahganda Naigolan menyampaikan perlunya pemimpin yang mampu membangun rekonsiliasi nasional. Perlu sosok pemersatu yg memang sedang diperlukan oleh Indonesia dalam menghadapi fenomena bipolarisasi sosial politik masyarakat. Syahganda menegaskan sosok Jendral Gatot Nurmantyo memiliki kriteria pokok ini. Sejumlah figur muda pun patut menjadi perhatian kita, kurang dari dua tahun masih memungkinkan lahirnya pemimpin alternatif pilihan rakyat.

Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here