Sandi, Opang, Dan Psikologi Sosial

0
290

Peristiwa yang dialami oleh Sandiaga Uno pada Jumat kemarin (3/11), saat ia menegur seorang tukang ojek pangkalan (opang) yang melewati jalur trotoar, kemudian ia dibentak dengan kata-kata kasar oleh tukang ojek tersebut, bagi saya bukanlah peristiwa yang sederhana. Sebab ini bisa menjadi indikasi bahwa ada kondisi psikologis yang sedang tidak stabil ditengah-tengah masyarakat kita, khususnya pada kalangan menengah ke bawah.

Emosi yang muncul dari diri si oknum Opang ini, sepertinya adalah akumulasi dari kesulitan hidup yang tengah ia alami. Sehingga saat ia sedang berupaya membangun inisiatif mempercepat jarak tempuh menuju sumber pendapatannya, dan nekat melanggar aturan-aturan jalur berkendara, kemudian saat itu ia mendapati ada orang yang tiba-tiba melarangnya, maka emosinya pun naik. Tanpa sempat berpikir bahwa tindakannya salah dan tanpa menyadari siapa orang yang menegurnya, oknum Opang ini terus saja marah-marah. Saya yakin, jika si oknum Opang ini orang yang berkecukupan, tidak sedang dalam tekanan ekonomi, ataupun juga sedang tidak banyak masalah, maka ia tidak akan cepat naik tensi.

Saat pertama kali saya membaca judul berita tentang kejadian tersebut, saya sempat cemas. Namun kecemasan saya kemudian mereda saat tahu bahwa Sandi meresponnya dengan kesabaran, tidak baper. Karena tidak terbayangkan oleh saya, jika respon Sandi justru ikutan emosi dan memperkarakannya ke hukum. Dalam peristiwa ini, saya juga perlu mengapresiasi kedewasaan Sandi dalam bersikap sebagai seorang pemimpin. Tidak tersulut emosi walaupun dihadapkan pada situasi yang sangat tidak nyaman secara manusiawi. Padahal dalam hal ini, Sandi punya hak untuk menyeret si oknum Opang ke pengadilan, karena telah melakukan penghinaan dan tindakan yang tidak menyenangkan.

Apa yang tengah terjadi pada Sandi dan oknum Opang ini, tentu penting untuk menjadi bahan refleksi , khususnya kepada para pemangku kebijakan, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Bahwa hari ini bangsa kita tengah dihadapkan pada satu kondisi psikologi masyarakat yang tidak stabil. Apa yang dilakukan oknum Opang itu hanyalah satu contoh kecil, dari realitas masyarakat yang ada. Saya yakin, masih banyak orang seperti oknum opang diluar sana yang mungkin bisa lebih kasar dan ganas. Dalam hal ini,Sandi termasuk beruntung hanya dicaci maki. Tidak sampai di pukul atau pun tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Karena kita tahu, orang yang tengah mengalami kesulitan ekonomi ataupun tengah banyak masalah, biasanya cenderung akan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas. Apalagi jika selama ini dia terus hidup miskin, bisa pakai cara senggol bacok itu orang. Tidak peduli walaupun tindakannya itu salah. Sebab orang-orang miskin akan cenderung susah dalam mengendalikan emosinya.

Oleh karenanya, para pemangku kebijakan ataupun para pemimpin di negeri ini, harus memiliki pikiran-pikiran yang bermutu, pikiran yang paham dengan apa yang tengah menjadi masalah dimasyarakat kemudian memberikan solusinya, pikiran yang mampu mendistribusikan keadilan, dan juga pikiran yang mampu mendistribusikan kesejahteraan. Sehingga, kedepan tidak ada lagi orang-orang seperti oknum si opang dibangsa ini. Dan satu hal yang paling penting, bahwa para pemimpin di negeri ini harus memiliki kedewasaan dan kesabaran yang tinggi saat menghadapi semua tindak tanduk rakyatnya. Apa yang sudah dilakukan Sandi dalam merespon kelakuan si Opang, sudah cukup benar. Dan beberapa program merakyat seperti Oke Oce yang digagas Sandi untuk mengurai problem ekonomi masyarakat Jakarta, juga sudah cukup benar. Tinggal pelaksanaannya saja yang perlu konsisten dilakukan, dan juga perlu pengawalan serta support bersama dari masyarakat.

Lalu satu hal lagi yang penting juga untuk diteladani, bahwa semangat Sandi untuk mendekatkan masyarakat dengan agama (mulai menyalakan adzan di setiap ruang balai kota), adalah satu tindakan yang pas pula untuk mengurangi jumlah orang seperti si Opang itu. Karena biar bagaimanapun, kedekatan seseorang dengan agama, merupakan faktor penting dalam pengendalian emosi hidupnya. Semoga kedepan, bangsa ini benar-benar serius dalam memikirkan nasib masyarakat, sehingga jumlah orang-orang seperti si Opang itu tidak semakin membesar.

Jakarta, 04 November 2017

Oleh Setiyono (aktivis dan pemerhati ibukota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here