Sanad dari Garut 3

0
140

Jakarta, Radarnusa.com – Ratusan orang tampak siap – siap mendengarkan sang singa podium begitulah pembawa acara memanggil beliau untuk ke mimbar. Beliau menyapa terlebih dahulu kepada KH Abdil Qodil Jaelani, Bang Fahri mengungkapkan kenapa sekarang seperti ini karena bang fahri saat mahasiswa di UI sering mengantar beliau sejak mahasiswa. Beliau memilih untuk hadir di Garut meskipun pada saat ini ada juga undangan yang sama dari Sumut karena ada kenangan tersendiri dari Garut.

Bang Fahri menyampaikan Pemerintah Garut harus menjaga bangunan masjid ini sebagai bagunan warisan sejarah. Dan pemweintah wajib menjaganya. Tambah serius audiens ketika Bang Fahri menyampaikan tentang realitas umat, banyak orang yang berbicara umat yg dianggap tidak nasionalis, padahal mereka jauh lebih nasionalis.

Islam menjadi panduan bagi siapapun dari mulai melahirkan sampai meninggal, agama tumbuh dan bersatu dengan umat. Kelebihan Islam adalah “the power System” islam merupakan ajaran yg sempurna. Dari mulai tidur sampai bangun kembali bahkan sampai pengaturan kekuasaan.

Kemudian bang Fahri mencoba mengungkap tentang sejarah, mengajak para audiens untuk melek terhadap sejarah terutama sejarah Islam misalnya Mahapahit, Pajajaran dan seterusnya yang sekarang di abadikan menjadi nama bandara di Indonesia.

Ada Sultan Ternate, Sultan Malikushaleh, Sultan Hamid, dan seterusnya. Imperium Islam hadir sebelum negara lahir.  Belanda merupakan negara di eropa yang tidak memiliki posisi yang kuat di dunia, namun ketika Belanda mengambil rempah – rempah  di Indonesia menjadi negara tersebut di perhitungkan.

Bang Fahri memberikan semangat para audiens yang mengungkapkan tentang realitas ummat saat ini, pekikan takbir tambah menggemuruhi suasana di Pesantren Cipari. Negara ini harus di jaga agar tidak ada penyimpangan terhadap sejarah bangsa Indonesia, bang Fahri menyampaikan apa yg di khawatirkan oleh ketua MUI yaitu ingin mensekulerkan Negara Indonesia.  Semua tampak menyimak dg serius apa yg di sampaikan bang Fahri. Intonasi dan cara bang Fahri menyampaikan dalam pidatonya membuat para audient tampak semangat.

Hari ini ada kesan seolah – olah bahwa islam tidak pancasilais, ada sekelompok yang berusaha untuk mengaburkan sejarah dan sering membentur – benturkan dan itu adalah watak dari komunis. Pengaburan sejarah juga diberlakukan kepada para tokoh bangsa, misalnya kepada Bung Karno yang seolah – olah Bung Karno bukan tokoh agama.

Bang Fahri menyampaikan santri harus berpikiran luas seperti Bung Karno, karena pikiran luas ini lah Bung Karno di tarik seolah olah kelompok dari kalangan merah. Presiden Keluarga Alumni KAMMI ini membawa semangat para audiens dengan mengenang tentang heroiknya aksi bela Islam. Celotehan audiens sampai mengatakan aura 411 dan 212 serasa hadir di pesantren tersebut.

Sebagai penutup pesan , Bang Fahri menyampaikan pertama kita harus berani menyampaikan bahwa kita ummatan wastahon, Islam harus turut andil dalam membangun bangsa Ini.  Kedua, umat harus merapatkan barisan, siap melawan  kelompok perongrong bangsa ini. Terakhir,  ke depan kita mempunyai harapan agar kelak lahir pemimpin yang lahir dari ummat yg mendekatkan kepada jalan Allah SWT, jangan sebaliknya.

Hendro

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaSanad dari Garut 2
Berita berikutnyaSanad dari Garut 4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here