Sahur Hari Kedua: Tuhan-Tuhan Kecil (1)

0
48

By. Denny JA

Didakinya itu harta
Dijadikannya berhala
Setelah di puncak sana,
Aha! Tiada mutiara

Diselaminya itu kuasa
Ia sembah bagai berhala
Setelah sentuh dasar samudera
Astaga, tiada mutiara

Ia haus kesenangan
Kesini dan kesanai
Setelah mencoba segala
Alamak! Tiada mutiara (2)

Kini ia cari guru
Dari tugu ke tugu
Sampailah ia ke puncak ilmu
Kecewa! Tiada mutiara (3)

Harimau dalam diri
terus mengaum nyeri
Lapar mencari mangsa
Mencakar menyilet sukma
Luka terus menganga

Kini Darta berhenti mencari
Masuk ke dalam diri
Tak lagi dihiraukannya berhala
Dikuburnya Tuhan Tuhan kecil
Luka mengganggu tak lagi (4)
Derita, ia teguk nikmati

Justru ketika behenti mencari
Syukuri apa yang ada (5)
Ya Allah, ditemukannya itu mutiara
Tak dimana- mana***

Sahur hari kedua
Mei 2018

Catatan Kaki

1. Ini puisi esai mini, dialog saya dengan Juz 2 Al Quran, Al- Baqarah [2.142-252]

2. Banyak yang memilih menghamba kepada selain Allah. Di dunia modern, orientasi yang berlebih kepada harta, kuasa, ideologi, negara, kesenangan membuat semua itu seperti tuhan-tuhan kecil.

Tapi bagi yang beriman, mereka tak menghamba kepada tuhan- tuhan kecil itu. Lebih kuat cinta mereka kepada kebenaran, kepada Allah. ”[Qur’an, 2.165]

3. Telah dilahirkan para guru suci, membawa kabar, perspektif dan pencerahan. Satu guru membawa ajaran berbeda dengan guru lainnya.

Puncak dari mereka adalah para rasul yang membawa kita suci, yang juga membawa kabar tentang hal yang belum diketahui zamannya. [Qur’an, 2.151]

4. Ibarat lempeng besi, ia ditempa palu, dibakar api, agar halus menjadi piala. Hal yang sama pada batin manusia. Setiap individu diberi luka. Ia akan pula diuji dengan rasa takut dan lapar, derita, kehilangan harta benda, dan sumber penghasilan. (Qur’an, 2.155]

Tapi mereka yang sabar, menjadikan kesulitan sebagai vitamin memperkuat batin, dan terus mendekat kepada Allah

5. Atas apapun yang datang, bahagia atau derita, kembangkan rasa bersyukur. Kadang derita mengajar kita lebih banyak. Kadang karunia Tuhan diberikan setelah datang dulu ujian derita.

Rasa bersyukur itu mendekatkan diri pada kebahagiaan, dan pada Allah, Tuhan semesta alam. ”[Qur’an, 2.185]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here