Reuni 212 dan Pawai Kebangsaan Menjawab Siklus Sejarah Bangsa

0
119
tamatnya penyinyir reuni 212 di ilc
Aksi Reuni 212 (foto: radarnusa)

Reuni Akbar 212 baru saja menjadi momentum apik bagi ummat. Betapa jutaan ummat berduyun-duyun sejak dinihari memenuhi lapangan Monas dan sekitarnya, gelombang manusia yang merindukan persatuan dan kebangkitan untuk bangsanya. Subuh berjamaah dipadu dengan dzikir akbar dan kumandang lagu Indonesia Raya menggetarkan seantero tanah air hingga mendunia. Ummat seolah memberi pesan: Bangsa ini ada karena ummat terus menjaganya tetap berdiri.

Salah satu orator reuni 212 Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebutkan bahwa ummat ini telah ada sejak dahulu dan terus ada untuk mempertahankan bangsanya. Dan bersatunya ummat baik untuk persatuan negeri ini. maka jangan ada kecurigaan jika ummat berkumpul dan melakukan reuni.

Ada tiga hal yang menjadi agenda besar ummat untuk memenangkan hati rakyat menuju tahun politik 2018-2019. Hal mana yang perlu menjadi perenungan dan pendalaman kita agar terangkai dalam manajemen strategi gerakan politik kebangsaan.

Pertama, NARASI sebagai peta jalan (road map) yang disepakati secara menyeluruh oleh tokoh pemimpin dan ummat secara umum. Narasi menjadi rangkaian momentum yang hadir atau diciptakan secara terencana dan massif. Momentum besar yang tercipta harus terangkai dalam agenda dan pencapaian terukur.

Setiap momentum nampak hanyalah peristiwa dalam ruang dan waktu. Kitalah yang memberi makna dan kedalaman untuk menjadikannya penting dalam pencapaian gerakan. Narasi ummat dan bangsa ini disutradarai oleh para maestro dan ‘seniman’ gerakan. Seringkali kita terjebak pada pencapaian teknis dan tampilan yang melelahkan, sedikit sekali kita memperdalam pencapaian menyeluruh dan kapasitas kolektif untuk berkata: sudah saatnya ummat memimpin, menemukan figurnya sebagai jodoh ummat bersama-sama mengelola bangsa ini.

Alarm sejarah bangsa membangunkan kita dalam momentum 20 tahunan. Artinya disadari atau tidak, direncanakan atau tidak, selalu ada mekanisme ‘pergantian generasi’ dalam siklus 20 tahunan tersebut (1908, 1928, 1945, 1965, 1978, 1998, 2018?). Kitalah yang membaca makna dari rangkaian momentum itu. Seperti siklus alam yang punya momentum untuk ‘berganti kulit’ dengan perubahan cuaca dan iklim atau bahkan dengan bencana alam sekalipun, gempa, gunung meletus, tsunami, dan lainnya. Pun siklus alam memberi pesan ‘mengganti generasi dan peradaban manusia’.

Narasi adalah perencanaan, rekayasa sosial, pemaknaan, dramatisasi dan penyambutan momentum, yang memang sudah matang untuk tercipta. Gelombang sejarah akan hadir, positioning kita dimana?. Sebagian besar akan terjebak dalam gelombang itu, sebagian kecil akan menunggangi gelombang untuk dirinya (riding the wave), dan lebih sedikit lagi yang mengarahkan gelombang ke arah yang bermanfaat, menjadi pemimpin sejarah.

Kedua, JARINGAN yang luas dan solid untuk mengarahkan gelombang perubahan. Narasi menciptakan alurnya dan jaringan meluaskan gelombangnya. Jaringan yang luas dan solid lahir dari proses panjang kaderisasi, ideologisasi, kepercayaan dan kekuatan memberi pengaruh.

Jaringan setiap wilayah gerakan dapat dipercepat dengan pengaruh ketokohan dan organisasi. Model jaringan yang bertingkat ataupun berantai disesuaikan dengan situasi yang melingkupinya. Guidance gerakan akan mengarahkan jaringan pada kerja positif merangkai narasi dalam momen-momen bersejarah.

Ketiga, FIGUR Pemimpin sebagai sosok yang menjadi tampilan narasi sejarah. Meminjam istilah Fahri Hamzah: Pemimpin adalah ‘jodoh’ ummat dalam mengatur gelombang kebangkitan. Pemimpin hadir sebagai sosok yang mewakili karakter ummat yang kuat, mampu mengelola perbedaan dan menjadi pembela ummat terdepan.

Saat ini kita mampu mengisi ruang momentum ummat seperti 212 dan reuninya. Jejaring ummat pun teruji dan terbukti dengan jutaan massa yang hadir di Monas. Namun pemaknaan dalam narasi masih perlu diperdalam sebagai momentum ummat untuk memimpin negeri pada 2019.

Dalam perspektif inilah Pawai Kebangsaan hadir sebagai sebuah gerakan sosial untuk mengadvokasi ummat sekaligus mengantarkan ummat ke ruang bernegara.

Ketenangan jutaan ummat dalam memberi aspirasi di reuni 212 mendapatkan jempol dunia. Lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama di pagi seusai sholat Subuh dan dzikir adalah pertanda besar kesiapan ummat menjadi Indonesia seutuhnya. Belum pernah ada momentum sebesar ini dimana lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan secara bersama jutaan manusia.

Pawai Kebangsaan yang digagas Keluarga Alumni KAMMI dan aktivis Indonesia hadir untuk mengarahkan semua stakeholder bangsa agar memberi makna dan menyiapkan diri menyambut momentum siklus sejarah bangsa. Apapun yang terjadi dengan bangsa ini, ummatlah yang tetap berada di republik ini mengelolanya, konflik maupun benefitnya.

Jika bangsa ini melewati gelombang dengan baik, ummatlah yang paling berhak atas saham sejarah bangsa ini. Jangan lagi ummat ditinggalkan setelah ditunggangi menuju kekuasaan. Ummat harus memilih sendiri jodohnya dalam memimpin bangsa ini.

#pawaikebangsaan

#reuniakbar212

#merdekabro

Taufiq Amrullah (Alumni 212)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here