Resensi Film “WAGE”: Cita-Citamu Harus Lebih Besar Dari Dirimu

0
207

Bangkitlah jiwa dan raga kita dari kegelapan masa penjajahan ini

Hanya dengan ilmu dan kepandaianmu kamu bisa memerdekakan negerimu

Berjuanglah Wage. Pemuda di Jawa sudah bergerak, mereka tak mau lagi hidup di bawah ketiak Belanda. Engkau bisa berjuang untuk bangsamu dengan musik dan biolamu

Dan sejumlah energi untuk Wage agar bangkit dari gelimang kemewahan sebagai musisi band di tanah Makasar yang menghibur penjajah.

Diserahkannya seluruh uang tabungannya kepada kaum pergerakan di Makasar sebelum memutuskan pergi ke tanah Jawa.
Apa yang kamu lakukan di Jawa? Tanya kakaknya
” Saya akan berjuang untuk bangsaku, dengan biolaku.
Sebelum aku pergi, aku akan memainkan biola untukmu ” Kata Wage, sebelum benar-benar pergi

Di Jawa lebih memilih sebagai jurnalis dari pada musisi. Biolanya ditanggalkan.
Manalah bisa kita hidup dengan menjadi jurnalis, Wage. Sudah benar main musik di kafe itu” kata Kawannya suatu waktu. Wage memilih itu demi dekat dengan kaum pergerakan.

Tapi beberapa kawannya meminta Wage agar mencipta lagu-lagu perjuangan untuk dinyanyikan di Kongres Pemuda, sambil menjadi jurnalis untuk meluaskan berita pergerakan kongres pemuda untuk Indonesia Merdeka. Wage setuju.

Wage menemui kebuntuan mencipta lagu untuk dinyanyikan dalam kongres pemuda. Baginya ini tugas berat. Energinya terkuras, tak menemukan inspirasi, baginya ini berat. Karena jebakan kesempurnaan itu membuat Wage stuck. Siang malam berdoa, mencari ilham, datang ke tempat ramai dengan bunyi, menyepi mendengar bunyian alam, tak jua menemukan kata yang tepat.

“Sudah sering aku menulis lagu. Tapi lagu yang ini aku seperti kehilangan diriku” curhat Wage pada gadis yang jadi tambatan hatinya.
“Yakin saja mas…
Wage merasakan jiwanya bergolak. Lagu yang ingin ditulisnya seolah kumpulan energi jiwa bangsanya yang bergeliat ingin merdeka. Dan pada pundaknya dibebankan karya monumental itu. Wage merasa tak kuat menanggung beban jiwa bangsanya dalam komposisi lagunya.

Hingga kembali lagi Wage ke guru spiritualnya mencari makna dan hakikat. Jangan mencari kesempurnaan! Kata sang guru.

“Wage, lepaskan dirimu dari hasrat kesempurnaan
Kesempurnaan hanya milik Allah
Jika kau menuntut kesempurnaan maka akan menutup hatimu”
Wage terhenyak, lalu tafakkur berhari, memohon ampunan dan jalan agar menemukan rangkaian nada dan lirik untuk lagu kebangsaan.
Berhasil.. lagu Wage dimainkan dalam penutupan Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak lahirnya bangsa Indonesia. Walau hanya alunan biola tanpa paduan suara karena dilarang penjajah kolonial Belanda. Energi alunan biola Wage menggema ke seantero nusantara melalui radio dan lagunya dicetak ribuan kali untuk dinyanyikan pemuda rakyat menuntut kemerdekaan. Momentum yang menggelorakan semangat merdeka dan menciutkan nyali penjajah.

Film tentang biografi “Wage”

Film “Wage” sebagai film biopic tentang Wage Rudolf Supratman, berkisah tentang semangat dan rasa cinta pada tanah air, membuatnya –sebagai pemuda tak mau berdiam diri. Apapun bisa diberikan untuk berjuang dan membela Indonesia.

“Aku harus ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini dengan lagu dan biolaku. Untuk itu, aku pun harus terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan bangsa ini,” demikian semangat membara seorang Wage, laki-laki kelahiran Somongari, Purworejo, Jawa Tengah, 19 Maret 1903.

Somogari tidak lain adalah desa yang diyakini dibuka oleh sisa-sisa laskar pasukan Pangeran Diponegoro. Darah pejuang, memberi semangat bagi Wage Rudolf Supratman ketika memutuskan meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya di Makassar dan kembali ke Jawa.

Semangat membara untuk turut berjuang mengantar Wage melibatkan diri secara langsung dalam pergerakan kemerdekaan di Jawa, menjadi wartawan  yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil, memasuki ruang-ruang rapat organisasi pemuda, terlibat arena pergerakan kebangsaan, dan terutama menggubah lagu-lagu perjuangan untuk menggelorakan semangat perlawanan rakyat.

Dari Barat sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, dan R.A.Kartini adalah sebagian di antara lagu-lagu perjuangan gubahannya. Dan puncak segala karyanya, lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Indonesia Raya” Puncak Segala Karya

“Aku bukan orang lemah. Kau bisa penjarakan tubuhku. Tapi jiwaku selalu bebas merdeka” Kata Wage saat mendekam di penjara karena dianggap menghasut rakyat untuk merdeka. Telah lama diawasi dan ditekan. Wage berjuang dengan cerdas, tidak berada di barisan depan dan menonjolkan diri. Perenung dan penyendiri mencari inspirasi bagi kemerdekaan bangsa. Tapi pengawasan ketat membuatnya tertuduh dan ditangkap lalu dipenjarakan.

Seluruh energi jiwanya sudah dicurahkan untuk mencipta “Indonesia Raya” dalam spiritualitas tertingginya, batin terdalam dan wawasan terjauh. Tertuang dalam rilik lagu kebangsaan yang dinyanyikan tiap hari oleh hampir 300 juta manusia Indonesia hingga kini. Maha Karya yang nyaris sempurna dan abadi. Itulah beban terberat Wage selama dua tahun berjuang mencipta lagu yang abadi ini.

Saat lagu Indonesia Raya sudah tercipta, petaka kehidupan Wage sebagai pejuang pun dimulai. Dianggap menghasut maka ditekan, diintimidasi dan terus diawasi. Hingga ditangkap dan dipenjarakan. Wage tidak sempat menikmati kehidupan normal apalagi menjadi kaya dan bahagia karena royalti lagunya. Menghabiskan hidup di penjara.

Hanya sepuluh hari setelah dibebaskan dari penjara kolonial, Wage Rudolf Soepratman sang maestro pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” meninggal dunia. Meninggalkan Maha Karya yang jauh lebih besar dari dirinya, melampaui zaman dan generasi. Wage hidup selamanya dengan karyanya yang abadi untuk bangsa.

By. Taufiq Amrullah (Direktur Progress Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here