Reformasi Itu Korupsi

0
207

“Awas bahaya!! Indonesia Terancam Trio Persekongkolan, yaitu antara cukong, pejabat dan petualang politik” (Wilopo).

Wilopo Perdana Menteri Indonesia ke-7 memimpin Kabinet Wilopo pada 3 April 1952 – 30 April 1953 ). Pernyataan Wilopo dilontarkan akibat kondisi bangsa Indonesia kala itu dikuasai oleh persekongkolan tiga kekuatan oligarki yaitu cukong, pejabat korup dan petulang politik (politisi, aktivis, intelektual, advokat dan jurnalis).

Kini Reformasi telah berjalan lebih dari 19 tahun namun cita-cita pendiri bangsa Indonesia tidak juga segera menjadi kenyataan. Cita-cita tentang kesejahteraan seluruh rakyat, pendidikan gratis dan berkualitas, pelayanan kesehatan murah tanpa dikriminasi masih jauh panggang dari pada api. Negara masih saja dikuasai oleh komplotan cukong, pejabat korup dan petualang politik.

Maka tak heran ada sebagian orang yang mencoba mengembalikan memory ingatan tentang masa lalu,

“Piye kabare le? Enak jamanku tho?”.

Tulisan ini bersanding dengan gambar bapak pembangunan Soeharto yang melambaikan tangan dengan senyum tanpa dosa.

Orang-orang yang hidup pada zaman orde baru secara kasat mata pasti merasa lebih enak hidup pada zaman Soeharto, bahan pokok murah, Negara aman dan tentram namun apabila ditelisik lebih mendalam semua itu hanya semu. Semua kejadian berada dalam pengaruh dan kekuasaan pemerintah.

Lalu Reformasi, perubahan apa yang telah dihasilkan?

Padahal Reformasi memiliki tujuan agar segala bentuk kediktatoran dan penguasaan tunggal yang mengatasnamakan negara lenyap dari bumi Indonesia berganti dengan kekuatan sipil yang mengendalikan. Namun pada kenyataanya jauh panggang dari api. Bukan civil sociaty dalam artian seluruh komponen bangsa Indonesia yang mengarahkan tujuan negara dalam mencapai cita-cita bersama namun ternyata komplotan penjahat kerah putih.

Kini kekuasaan bukan dalam bentuk diktator militeristik namun sistem kebijakan yang dibangun untuk menekan, melindungi, memenjarakan setiap warga negara yang mencoba mengusik proses bagi-bagi kue ekonomi dan kekuasaan.

Rakyat setiap hari disajikan dengan berita mengenai korupsi yang merajalela, mafia kasus, kongkalikong antara cukong dan pemerintah serta penegak hukum sendiri. Koruptor yang telah mengambil milliaran bahkan triliunan uang Negara dari pajak rakyat, ternyata masih saja bisa tersenyum tanpa dosa.

Senyum para pengemplang pajak, mark-up dana pembangunan dan proyek korupsi lainya. Semua kejadian korupsi ini tak lepas dari keyakinan mereka bahwa mereka bisa mengatur putusan hukumnya, atau mereka juga mengirimkan pesan “aku tak sendirian, kalian juga akan menyusul”.

Korupsi bukan lagi tindakan perseorangan namun kegiatan berjamaah. Kalau pun boleh menerapkan hukuman mati buat para koruptor, tentu rakyat akan merasa hukuman mati sebuah keadilan.

Korupsi telah memakan harapan bangsa pada keadilan yang katanya di mata hukum di hargai sama. WH Auden pernah mengatakan:

” Harapan habis ketika apa yang adil dan tak adil hanya bisa dipecahkan melalui dusta atau perang”.

Sedangkan Syaikh Abdul Qadir Jailani ketika ketidakadilan atau kejadian tidak menyenangkan terjadi maka kita harus ridha:

” Hendaklah kau senantiasa rela, berbaik sangka terhadap Tuhanmu, dan bersabarlah, maka segala milikmu tidak akan lari darimu dan segala yang bukan milikmu tidak akan kau peroleh”.

Korupsi sebenarnya merupakan pembunuhan tidak langsung dan sistematis yang dilakukan oleh orang cerdas, kaum kaya terhadap kaum miskin dan bodoh.

Aza El Munadiyan
Aktivis Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here