RAMADHAN DAN KEBANGKITAN. SEKARANGLAH SAATNYA !

0
58

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Alhamdulillah kita sedang berada di bulan Ramadhan.

Menjalani ibadah Ramadhan sebagai bagian dari cara Allah mendidik kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan tangguh.

Alhamdulillah juga. Di momentum Ramadhan ini, kita mendapati Hari kebangkitan Nasional setiap 20 Mei.

Hari yang mesti menjadi waktu kita untuk menyesapi seluruh intisari dari makna kebangkitan

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang telah mengalami berbagai guncangan dan cobaan dalam perjalanannya.

Negeri ini pernah mengalami jatuh bangun. Ditikam dan terjungkal. Dikhianati anak bangsa sendiri. Bangkit kembali dan maju.

Tapi bangsa kita terus bangkit. Berdiri dan terus berjalan. Bangsa ini dan seluruh rakyatnya, terus belajar bagaiman menghadapi terpa gelombang yang terus menghadang. Mengalami dan menjalani.

Mulai dari gelombang menuju persatuan, gelombang membebaskan diri dari penjajahan, hingga gelombang menghadapi ujian kepemimpinan dan transformasi yang terus menerus terjadi tanpa henti. Tanpa jera!

Hari ini, di momentum kebangkitan nasional, adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk melakukan refleksi.

Sejak 2008 saat #BoediOetomo lahir. Dan saat ini tepat merenungi atas apa yang terjadi dengan bangsa ini.

Adu domba terjadi saat Aneksasi modal dari luar yang luar biasa, perampokan SDA kita yang ugal-ugalan.

Intervensi bangsa asing yang membuat kita nampak tidak berdaya sesungguhnya adalah pertanda bahwa kita sedang terpuruk. Kita dalam ujian besar.

Kita memerlukan momentum kebangkitan. Kebangkitan Indonesia raya.

Ini momentum kita. Ini saat memutar haluan yang salah. Ini saat menentukan!

Saya katakan. Bahwa bangsa ini hanya bisa bangkit, kalau kita bersatu. Kita hanya bisa bersatu, kalau ada yang mempersatukan.

Kita akan bisa dipersatukan oleh kesamaan pikiran. Oleh ide-ide dan narasi kebangsaan kita.

Dan kalau kita menelusuri sejarah bangsa Indonesia, maka pada awalnya, kita disatukan oleh ide-ide tentang perlunya Indonesia merdeka.

Terbebas dari penjajahan. Menentukan nasib perjalanan kita sendiri. Lepas dari bangsa-bangsa yang menjajah.

Lalu para pemimpin kita, menyatukan kita dalam narasi yang luar biasa. Menjurubicarai perasaan bangsa Indonesia.

Menyerap saripati dari seluruh pikiran dan hati rakyat kita. Menyuarakannya dalam setiap kesempatan hingga rakyat bersatu karenanya.

Para pemimpin kita dulu, ingin dirinya menjadi penjelmaan dari seluruh kehendak rakyat negeri ini.

Bung Karno misalnya, menyebut dirinya sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Itu yang tidak kita punya sekarang. Pemimpin kita bukan menjadi pemersatu bangsa ini. Ia memecah belah.

Presiden kita itu tidak presidensial. Bukan negarawan. Ia berpihak pada satu kelompok tertentu. Dan mengaduk perasaan primordial.

Ia mengambil satu sisi dari kehidupan bangsa ini. Ia mengadu domba dan tidak punya narasi.

Itulah yang menyebabkan masyarakat kita terpecah. Kita semua jadi nampak tidak bisa bangkit. Lumpuh dan terpecah belah.

Kita terpolarisasi dalam pilihan politik yang melebar yang justru diperlebar pertentangannya oleh pemimpin kita.

Pemimpin tidak mampu menjembatani perbedaan-perbedaan dan menyatukannya dalam satu harmoni yang indah.

Tapi saya yakin, situasi dan kekacauan ini tak akan lama lagi. Fajar akan terbit. Harapan akan datang. Dan akal sehat serta nurani akan mewarnai hari-hari depan.

Cukuplah gelap!
Datanglah terang!

Bangsa ini akan kembali dipersatukan oleh pemimpin yang berjiwa besar. Yang membawa tema-tema besar.

Yang menyebarkan optimisme dan harapan tentang masa depan. Yang mempersatukan bangsa dan negara kita.

Yang menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme sebenarnya adalah urat nadi yang mendegubkan jantung bangsa ini.

Yang bisa menjelaskan bahwa orientasi kemakmuran rakyat adalah orientasi utama dan kita sedang diajak berjalan kesana.

Pemimpin yang memukau kita dalam kata-kata, menjadi inspirasi dalam melangkah dan memberikan jalan bagi perubahan nasib dalam menggapai mimpi dan cita-cita.

Pemimpin yang berkata benar dan bertindak arif dan bijaksana dalam keseharian.

Kita memerlukan pemimpin seperti seorang yang menciptakan musim bagi kebaikan.

Geloranya yang menghidupkan jiwa, tuntunannya yang menyala menciptakan arah bersama seperti mercusuar bagi armada bangsa yang sedang bekerja.

Pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan. Dan kita semua sedang mencarinya. Semoga hadir pemimpin itu. Selamat datang kebangkitan negeriku.

Terbanglah menjadi rajawali di angkasa. Jadilah mercusuar peradaban dunia.

Maka, dengan rasa yakin kita rayakan #Harkitnas2018 yang ke 110 dalam suasana #Ramadhan1439H yang syahdu.

Semoga bulan suci ini menjadi penghulu kebangkitan negeri.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 1908-2018. Allahuakbar! Merdeka!

Twitter @Fahrihamzah 20/5/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here