Politik Darah Biru a la PKS

1
2050
ilustrasi: pemunculan wajah caleg muda pks (sumber: instagram @pksmuda)

Dahulu diawal kemunculannya sebagai Partai Keadilan lalu berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, PKS mendobrak kancah perpolitikan negeri ini sebagai Partai dengan Kader-Kader Muda dari kalangan intelektual, tak jarang langkah baru ini mendapat pujian diantaranya oleh Editorial Media Indonesia kala itu, namun seiring usia partai ini semakin menua, kadernya pun semakin bertambah usia, komposisi politisi di PKS masih belum berganti generasi.

Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, Jazuli Juwaini, Nasir Djamil, Abu Bakar Al Habsyi, Ledia Hanifa dan sederet nama politisi PKS lain yang kini sudah tua masih kokoh dan tak tergantikan. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kaderisasi politisi di PKS tidak berjalan atau lebih halusnya sedang seret. Mungkin kaderisasi tarbawi atau proses rekrutmen dan pembinaan kader dalam aspek tarbiyah islamiyah terus berjalan, namun sebagai partai politik saya rasa kita perlu menyangsikan kaderisasi politisi di PKS, karena regenerasinya cenderung lambat.

Memunculkan Wajah Caleg Muda

Belakangan ini PKS kembali berusaha mengukuhkan citranya sebagai Partai Anak Muda, setelah posisi Partai Anak Muda digeser oleh Partai pendatang baru yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ketika PSI sukses memunculkan wajah politisi muda seperti Tsamara Amany, Raja Juli Antoni, Giring Ganesha, PKS seolah tak ingin kalah dengan tren. Terlebih ketika wacana generasi millenial mencuat, dimana mayoritas usia produktif yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000an akan menjadi mayoritas pemilih yang menuntukan bagi partai politik.

Maka PKS memunculkan wajah-wajah muda sebagai Bakal Calon Anggota Dewan dan dipublikasikan secara cukup massif di media sosial. Muncul Caleg-caleg muda berusia antara 19-25 tahun terutama dari daerah Jawa Barat dan Banten. Namun sayang seribu sayang yang baru muncul dan mengemuka hanya wajahnya semata, bukan gagasan, kiprah dan kontribusinya sehingga mereka pantas masuk ke parlemen menggantikan generasi tua.

Politik Darah Biru

Jika kita telusuri lebih dalam, wajah-wajah muda yang dimunculkan oleh PKS sebagai caleg ternyata adalah anak-anak dari kader intinya sendiri. Artinya tidak terjadi kaderisasi politisi yang signifikan karena sifatnya seolah adalah “pewarisan tahta”. Hal ini juga menjadi bukti kaderisasi politisi di PKS masih sangat eksklusif dan belum terbuka bagi siapapun anak muda yang memiliki potensi terbaik.

Politik Darah Biru yakni pengkaderan, pewarisan, hingga pengistimewaan bagi anak-anak kader PKS sejatinya bukan baru-baru ini berlangsung. Hanya saja ia baru mengemuka ketika wajah-wajah putra-putri mahkota ini dimunculkan ke permukaan, namun ia telah berlangsung sejak lama. Dalam manhaj tarbiyah untuk anggota dewasa, dalam bab anak kader disana disebutkan bahwa mereka adalah pewaris dakwah. Bahkan tak jarang muncul adagium mereka adalah putri-putri kandung dakwah. Konotasinya menjadi menganakemaskan anak-anak kader mereka, dan seolah menganaktirikan yang lain yang menemukan PKS tidak melalui jalur orangtuanya.

Diantara manifestasi Politik Darah Biru PKS adalah munculnya Garuda Keadilan, sebuah wadah eksklusif khusus untuk anak-anak kader PKS berkomunitas dan berorganisasi. Mereka punya akses eksklusif dan mendapat karpet merah di lingkungan PKS. Setelah dibibit di Garuda Keadilan kini mereka mulai digerakkan dan diterjunkan dalam wahana politik bernama PKS Muda dimana pos pos penting disana diisi oleh anak-anak Garuda Keadilan.

Apakah politik darah biru salah? jawabannya relatif, bahkan hal ini lazim dilakukan, misalkan bagaimana para Purnawirawan membuatkan wadah eksklusif untuk anak-anaknya bernama Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) , atau Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang umumnya menjadi wadah bagi anak-anak pengusaha kaya untuk mewarisi jejak bisnis orang tuanya, atau bahkan mahasiswa-mahasiswa berdarah murni yahudi di Amerika yang membuat wadah bernama Alpha Epsilon Pi. Maka sekali lagi kita bertanya, apakah hal tersebut salah?

PKS Harus Berlaku Adil

I’diluu huwa aqrabu littaqwa” yang artinya berbuatlah adil sesungguhnya ia lebih dekat kepada ketakwaan, potongan ayat Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 8 ini jamak diketahui oleh kader PKS. Bahkan konon ayat ini yang menjadi spirit dinamakannya partai ini menjadi Partai Keadilan lalu bertambah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Bagi saya secara subjektif dalam konteks politik darah biru, PKS seolah menyalahi spirit keadilan yang berusaha diusungnya, dimana cenderung terjadi penganakemasan dan penganaktirian. Dimana yang dilihat pertama kali dari seorang kader muda adalah ‘darah’ dan keturunannya, bukan semata-mata potensi, kapasitas dan kiprahnya.

Saya banyak menyaksikan aktivis-aktivis moncer di kampus-kampus yang bergabung dalam proses tarbiyah pada akhirnya harus terpental karena tak bisa mendapatkan jalan masuk ke politik melalui PKS semulus para putra-putri mahkota PKS. Padahal kapasitas dan kiprahnya dalam pembelajaran dan praktek politik telah terbukti. Mereka mampu mengadvokasi kebijakan, melakukan kritik terhadap rancangan undang-undang dan peraturan daerah, memobilisasi massa untuk melakukan sebuah pergerakan, melakukan mobilitas vertikal agar bisa duduk sepadan lalu mengkritik secara langsung pengambil kebijakan. Ketika pasca kampus pada akhirnya mereka hanya menemukan jalan buntu untuk masuk ke politik lewat partai yang mereka nilai paling baik diantara yang lain. Dan tak sedikit kini diantara mereka yang masuk ke politik lewat partai lain. Bukankah seharusnya mereka juga mendapat akses yang sama?.

Menggugat Politik Darah Biru

Diantara sedikit sekali portofolio caleg muda yang dimunculkan PKS belakangan adalah aspek ruhiyah yakni hafalan qur’an. Selain itu, PKS belum memunculkan portofolio lain yang mampu meyakinkan publik bahwa caleg muda yang telah dimunculkan adalah calon politisi handal. Maka ijinkan saya bertanya, apakah diantara mereka telah memahami dan berpartisipasi dalam proses legislasi? minimal dengan pernah mengkritik sebuah RUU atau Perda, apakah diantara mereka telah memiliki nalar kritis terhadap sebuah kebijakan dengan perhitungan sebuah kajian? atau untuk menuju ke parlemen, apakah mereka telah memiliki kemampuan dalam memobilisasi massa?.

Dalam alam politik negeri ini, yang mau tidak mau kita masih harus mengaminkan definisi dari Harold Laswell bahwa politik adalah: Who Gets What, When, How . Dibutuhkan mereka yang telah memahami bahwa politik hari ini adalah dunia yang abu-abu dimana antara perjuangan putih kebaikan harus bertoleransi terhadap hitamnya realitas. Sudahkah mereka memahami bahwa realitas politik kita hari ini begitu transaksional dimana tukar guling kebijakan, calon kepala daerah hingga proyek anggaran masih lumrah dalam politik hari ini. Bagaimana mereka akan menantang politik yang serba transaksional ini? Bagaimana sebuah hafalan qur’an dapat membersihkan parlemen dan politik kita ketika kelak mereka terpilih?.

Saya sangat berharap caleg-caleg muda PKS bisa menjawab dan dipersiapkan sungguh-sungguh untuk benar-benar terjun ke abu-abunya politik dan parlemen kita. Bukan sekadar menunjuknya karena mereka anak siapa dan hafalan qur’annya berapa, lalu menjadikannya sebatas perwajahan untuk menarik pemilih muda.

Ijinkan saya menutup sedikit gugatan ini dengan sebuah pepatah arab: laisal fata man yaqulu kana abi, walakinnaal fata ha ana dza yang artinya bukanlah pemuda yang mengatakan ini bapakku, tapi pemuda adalah yang mengatakan inilah aku!.

Wallahu a’lam bisshowab

1 KOMENTAR

  1. Awal saya membaca, hmm hmmm ohhh hmmmmm, namun saat mulai dijelaskan politik darah biru saya mulai menengoknya sebagai sebuah gagasan yang dekat dengan kenyataan, sulit untuk menyangkal, seolah semua yang dikatakan benar karena saya tidak ada data untuk menyanggah, tapi ketika membahas “bagaimana mungkin hafalan Al Qur’an bisa diandalkan” disini saya mulai berfikir bahwa Anda sedang melawak, dengan potongan ayat diawal dan pepatah diakhir, seolah ingin menyampaikan bahwa anda seorang yang cukup agamis untuk komentar diranah keislaman, tapi dengan pernyataan anda itu membuyarkan semua argumentasi yang mulai anda bangun dalam benak saya. Dengarkan, Al Qur’an adalah sumber utama dari segala hal untuk manusia dalam islam, jangankan menghafalkannya, Istiqomah dengan membaca saja sulit, dan yang mampu menghafalkan nya adalah sebuah prestasi besar dan tidak ada alasan bagi yang belum hafal menghujat dengan kata2 “belum tentu bisa diamalkan”, tak perduli anak siapa itu, sementara ia memegang teguh kebenaran yang mutlak, bersandar Pada Apa Yang Paling Kokoh, bagaimana mungkin diri yang belum apa apa ini bisa meragukan. Anda sudah salah dari awal, tidak tau apa yang harus dijadikan pegangan. Salam dari yang benar benar gak tau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here