Pilkada 2018; Latihan Perang Terakhir Dengan Peluru Tajam

0
97

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018 memasuki tahapan krusial, suasana memanas dan cukup sengit sejak awal pencalonan oleh partai-partai. Hampir semua daerah yang akan menyelenggarakan pilkada mengalami gejolak dan ketegangan.

Kekalahan DKI dan Banten membuat penguasa nampak panik dan semakin detil dalam menerapkan strateginya. Berikut analisa singkatnya:

Pertama, kuasai Jawa, karena Jawa adalah kunci. Jabar, Jateng dan Jatim harus dimenangkan oleh cagub loyalis Jokowi (bukan sekedar loyalis PDIP); di Jabar istana dan PDIP sepakat mengusung Ridwan Kamil – Anton Charliyan. Jawa Tengah dan Jatim belum sepakat siapa sosoknya. Di Jateng Ganjar sedang diganggu dengan kasus e-KTP yang membuat PDIP marah, ada kelompok di istana menginginkan calon yang lain. Kemungkinan istana dan Partai Gerindra bertemu pada sosok Sudirman Said.

Sedangkan Jatim, awalnya Jokowi dan PDIP bersama PKB dan PKS setuju mendukung Saifullah Yusuf – Azwar Anas. Tp perkembangan cepat dan rasa tak aman Jokowi pada Muhaimin – PKB membuatnya mengalihkan ke Khofifah yang lebih bisa dikendalikan. Muhaimin dianggap sedang bergerilya menjadi Cawapres Jokowi, hal yang tidak disukai lingkaran istana. Selain karena hitungan elektoral, Khofifah lebih mungkin menang. Maka Anas pun ‘dikerjain’ dengan kasus moral.

Kedua, gunakan semua cara untuk menang. Segala cara yang nampak natural di publik digunakan misalnya survey yang cenderung mengarahkan pemilih, mengangkat kasus hukum lawan kalau perlu OTT KPK atau minimal bongkar kasus lama seperti kasus Ganjar di Jateng dan kasus hukum cagub di Kalimantan Timur, dan demoralisasi lawan seperti yang terjadi pada Anas di Jatim

Ketiga, pecahkan suara ummat. Jangan sampai pilkada DKI terulang di pilkada lain. Tidak boleh benturan ideologis seperti di DKI karena kemungkinan konsolidasi ummat dan oposisi lebih kuat dan menang. Itu yang terjadi di Jawa Barat, suara ummat dipecah dan diadu.

Strategi all out yang menjadi pilihan istana mendapat respon sengit dari partai atas dan menengah. Empat king maker beradu strategi untuk memenangkan kontestasi pilkada 2018 yakni Jokowi sebagai representasi istana, Megawati – PDIP sebagai partai pemenang, Prabowo – Gerindra sebagai representasi oposisi, dan SBY – Demokrat sebagai partai penyeimbang. Ini sebagai ajang latihan terakhir sebelum bertarung di last battle pilpres 2019. Kita akan terus disuguhi berbagai kejutan dalam drama pilkada 2018 sebagai prakonflik menuju puncak 2019. Wallahu A’lam

Taufiq AM (Progress Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here