Peristiwa Shubuh

0
299

Jakarta, Radarnusa.com – Suatu subuh yang dingin, saat melewati sebuah taman kota. Tiba-tiba hening dan sepi, angin berhenti bertiup seperti napas tertahan, dedaunan tafakkur dan tak satupun gugur ke tanah, pohon dan bunga taman tegak diam. Burung-burung mengatup tak berkicau, komunitas katak di selokan pun sepi menunggu. Tak ada suara dan gerakan, akupun terpaku, hanya bola mataku yang bergerak awas. Sejenak rasa takut menghampiriku. Ooh… aku tersadar, taman dan seluruh penghuninya sedang melaksanakan ritual subuh, bersujud menyembahNya. Subhanallah.

Beberapa saat, lalu hembusan angin mulai menggoyangkan dedaunan dan gugur satu-satu. Seekor burung mulai berkicau lalu diiringi sanak dan kawan-kawannya. Riuh dimulai pelan dan beraturan, gesekan pepohonan dan bunga di taman mengalunkan irama, katak satu-satu berorkestra perlahan.. Oh.. mereka melanjutkan dengan dzikir pagi, bersyukur memuji kebesaran Allah, mengalunkan untaian kalimat kebesaranNya, tasbih, tahmid, takbir dan tahlil… berulang-ulang. Aku terhenyak hampir terduduk. Seluruh rasa yang kubawa tersapu sepoi angin dan lantunan dzikir taman ini. Maha Suci Allah mengirimkan pesan ini kepada hamba.

Aku melewati taman, segenap ketenangan menggelayuti. Aku tiba-tiba merasa berada di awan yang empuk, begitu polos dan nyaman hatiku. Teringat peristiwa-peristiwa Lailatul Qadr yang diceritakan Buya Hamka dalam bukunya. Saat angin berhenti bertiup, pohon tegak diam, daun berhenti berguguran, air sungai berhenti mengalir, semua hewan terdiam,  bahkan air di daun menunda tetesannya, alam raya menahan napas sejenak. Saat itulah berkah Lailatul Qadr diturunkan.

Tapi ini bukan bulan Ramadhan. Ini hari biasa, dan aku hanya manusia biasa yang melintas di taman. Tak ada yang istimewa dengan diriku dan ibadahku. Mengapa harus aku menyaksikan ‘taman bertasbih’ ini? Berjalan sejenak menjauhi taman, tapi suara dzikir masih terdengar sayup. Gelap sudah tersapu perlahan, aku mulai melenturkan badan dan berlari kecil. Lagi-lagi suara itu mengiringi derap kakiku, lantunan dzikir itu mengikuti irama langkahku, atau sebaliknya? Aku penasaran berbalik mendekati taman.

Semakin dekat semakin jelas lantunan dzikir makhluk taman ini. Yaa Allah sudah begitu lama aku tak berdzikir pagi hingga taman ini mengajakku berdzikir. Mengembalikan segenap spiritulitasku yang lama hilang, seluruh penghuni taman melingkar bersamaku. Di penghujung dzikir mereka memintaku membaca doa rabithah, doa kebersamaan, pengikat hati yang merindu cahayaNya. Aku meleleh, doa ini telah lama tak kubaca, patah-patah lidahku melafalkannya. Berulang-ulang “Kuatkanlah ikatannya”, kekalkan kasih sayangMu, tunjukkan jalanMu, penuhi hati kami dengan cahayaMu. Seluruh taman meraung dalam doa ini. Ampuni kami ya Allah.. Lebih tepatnya, Ampuni aku ya Allah…tersudut, terkapar, menjura ke langit. Penghuni taman meraihku dan menenangkan..lega. Lalu kembali tenang usai doa penutup majelis. Energi taman telah kembali, cahaya dan hembusan udaranya segar menyehatkan.

Tak lama aku menguasai batinku. Berjalan mengitari taman menunggu peristiwa berulang. Semua kembali nampak biasa, burung berkicau, pohon dan bunga-bunga berayun pelan disapu angin segar, dan sisa embun yang malu-malu. Satpam baru tiba di posnya di samping taman, pagar perumahan telah dibuka. Tukang bubur mendorong gerobaknya melewati taman, anak muda mulai aktivitas jogging,  ibu-ibu ke pasar, pekerja bergegas. Tetangga sebelah keluar dengan anjingnya hendak keliling taman. Kucing-kucing berlarian menimpali kicau burung di pohon. Udara pagi di taman memang sangat menyegarkan, luapan oksigen sempurna untuk penghuni kota yang penat setiap hari.

Taman ini tempat bergantung kesegaran dan paru-paru kota. Ya semua orang paham itu. Tapi aku baru menyaksikan sisi terdalam dari taman ini. Seluruh penghuninya bertasbih setiap subuh sehingga energinya penuh untuk menyegarkan manusia-manusia kota yang penat dan banyak masalah.

Pada Sebuah Subuh

Adli Hamiz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here