Perguruan Thawalib Mempengaruhi Perjalanan Sejarah Indonesia

0
55

Padang Panjang, Sumatera Barat – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah melaksanakan kunjungan kerja dan pawai kebangsaan di Propinsi Sumatera Barat dengan mengunjungi Kota Padang Panjang yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Padang.

Fahri Hamzah beserta rombongan menghadiri pembukaan Musyawarah Besar Alumni dan Peringatan Ulang Tahun Ke-107 Perguruan Thawalib. Pemikiran dan karakter Fahri Hamzah disebut mewakili pemikiran dan perjuangan alumni perguruan Thawalib. Karenanya Fahri dianggap menjadi bagian dari Thawalib sendiri.

Tiba di Kota Padang Panjang disambut cuaca sejuk pegunungan. Sisa kabut dan angin semilir menghantarkan kedamaian. Disinilah pusat perguruan Thawalib yang telah berdiri sejak 107 tahun lalu. Tarian selamat datang “Tari Pasambahan”, pencak silat, dan tabuhan rebana menyambut hangat Fahri Hamzah dan rombongan. Pimpinan perguruan dan santri Thawalib sangat antusias, di perguruan ini digunakan tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

“Perguruan Thawalib memberi pengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dari Thawalib lahir tokoh-tokoh besar yang menjadi pelaku sejarah pergerakan republik. Sumatera Barat yang paling banyak menyumbang tokoh berpengaruh bagi Indonesia dalam perjuangan republik dan perjalanannya, dan basisnya dari Thawalib ini, Wakil Presiden, Menteri, dan tokoh-tokoh pejuang”, Seru Fahri Hamzah dalam sambutan pembukaan.

“Buya HAMKA menyebut dua orang yang mempengaruhi jiwanya yakni Ayahnya (Haji Abdul Karim Amarullah) dan Sutan Mansyur, keduanya dari Thawalib. Bahkan Bung Karno sang proklamator sangat mengagumi Sutan Mansyur dan sering mengutip kalimatnya. Maka kita bisa mengatakan bahwa pada prinsipnya Republik ini didirikan oleh murid-murid Thawalib” Sahut Fahri Hamzah diiringi tepuk tangan dan teriakan takbir hadirin.

Di Perguruan Thawalib diajarkan berpikir bebas, mandiri dan terbiasa mendiskusikan gagasan. Tidak terbiasa cium tangan dan kepala tertunduk. Disini diajarkan bagaimana bisa bertahan dengan gagasan dan intelektualitas.
107 tahun Thawalib telah melahirkan tokoh besar dan terlibat memerdekan republik. Adam Malik (Wakil Presiden Zaman Soeharto) juga adalah alumni Thawalib, juga Zarkasih Noer mantan Menteri.

“Tinggal Presiden RI yang kami perjuangkan, Wakil Presiden, Menteri, tokoh dan pejabat sudah banyak dari alumni Perguruan Thawalib” Kata Ketua Yayasan Perguruan Thawalib yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 500 peserta Mubes Alumni Thawalib.

“Tafsir Al Manar Muhammad Abduh digunakan di Thawalib. Kekuatan berpikir dan rasionalitas cukup dikedepankan di Thawalib. Tak mudah melewati rentang 107 tahun, dimulai dari kegiatan halaqah surau yang kemudian direformasi menjadi klasikal. Sempat terhenti karena peristiwa PRRI, di zaman Orde Baru cukup terpinggirkan dan tidak menikmati kue pembangunan” Sambung ketua Yayasan.

Perguruan Thawalib adalah lembaga pendidikan Islam modern pertama di Indonesia didirikan tahun 1911 oleh Inyiek Rasul Syekh Haji Abdul Karim Amarullah (Ayah Buya Hamka) namun jauh sebelum tahun 1900-an, Perguruan Thawalib telah memulai proses pembelajarannya dengan system pendidikan Halaqah (tradisional) di surau Jembatan Besi Pasar usang di bawah asuhan Syekh Haji Abdullah Ahmad beserta ulama diantaranya Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Daud Rasyidi (Ayah Dt. Palimo Kayo).

Perguruan Thawalib memulai sistem pendidikannya dengan pengajaran berhalaqah jauh sebelum tahun 1900-an di bawah asuhan Syekh Abdullah Ahmad di Surau Jembatan Besi Padang Panjang (lokasi masjid zu’ama sekarang). Pada Tahun 1911 Dr. H. Abdul Karim Amarullah (seorang ulama besar, ayah dari buya HAMKA) merubah sistem halaqah menjadi sistem klasikal.

Peguruan Thawalib Padang Panjang sudah dikenal dalam dan luar negeri. Alumni Thawalib telah berperan secara nyata di tengah-tengan masyarakat di berbagai bidang dan propesi seperti: sebagai Ulama, Muballigh, Pemimpin, Pengusaha, Cendikiawan, Dosen, TNI, Wartawan, Hakim, Advodkat/Pengacara, Notaris, Politisi, Konsultan dan lain sebagainya. Diantaranya: Buya Hamka, Zainal Abidin Ahmad, H. M.D. Dt. Palimo Kayo, AR. Sutan Mansur, Prof. Dr. Ali Hasyimi, Amir Syarifuddin, Zainul Daulai, Kurnia Illahi, Ris’an Rusli, Faisal, Burhanuddin Daya, dan Muballigh termuka Dr. Saidul AMin, Muhammad Nur Ihsan, Zulkifli M. Ali, Jel Fathullah, Kamrizal, Ahmad Maududi, Ilham Hasmi, dan banyak lagi tokoh lainnya.

“Pikiran besar republik yang kuat dari tokoh-tokoh besar Sumatera Barat ini harus menjadi inspirasi dan cambuk bagi republik ini untuk bangkit dari kelemahan dan kelengahan, ada banyak sandiwara yang menipu ummat hingga terbuai. Maka menjawab tantangan maju untuk kejayaan bangsa bukan hal sulit bagi ummat jika tidak terbuai dan terjebak oleh festivalisasi demokrasi dengan ikut bertepuk tangan”. Sambung Fahri

“Tapi negara kita sudah tergadai. Kita yang memiliki karakter berbangsa dan beragama harus punya tekad dan perencanaan detil lalu berkonsolidasi memimpin bangsa. Agar ummat terselamatkan, bangkit dan membawa republik terbang tinggi” Seru Fahri Hamzah menutup sambutannya diiringi seruan semangat peserta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here