Perang Indonesia Melawan Kemiskinan (2)

0
102
kemiskinan indonesia
kemiskinan (Foto: Devidderik)

Oleh: dr. Gamal Albinsaid*

Melihat tabel statistik kemiskinan di atas, dapat diketahui bahwa bagian timur Indonesia memiliki tingkat kemiskinan relatif yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan jumlah keseuluruhan penduduk di provinsi tersebut. Jika kita lihat dari perpektif kemiskinan relatif, maka pada provinsi Papua, Papua Barat, dan NTT hampir seperempat masyarakatnya tergolong masyarakat miskin. Hal ini menunjukkan bahwa selain besarnya jumlah kemiskinan, kita juga memiliki masalah pada pemerataan kesejahteraan. Namun, jika kita melihat angka kemiskinan absolut, menunjukan bahwa Jawa Timur memiliki angka kemiskinan tertinggi sebesar 4,78 juta penduduk. Hal yang tidak kalah pentingnya untuk kita kaji dan perhatikan adalah perbandingan angka kemiskinan di desa dan kota. Dimana pada tahun 2016, 7,8% dari masyarakat kota dan 14,1% dari masyarakat desa dikategorikan hidup di bawah garis kemiskinan. Data dari BPS pada tahun 2016, dari total sekitar 27.485.320 penduduk miskin, sekitar 10..485.640 berada di kota dan sekitar 17.278.680 berada di desa. Hal ini menyebabkan kesulitan pemerintah dan berbagai lembaga internasional dalam mengentaskan berbagai masalah kemiskinan.

 

Gambar 5.4 Perbandingan kemiskinan absolut tertinggi di 5 Provinsi Indonesia

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa penyebab utama kemiskinan di Indonesia? Banyak kajian menyebutkan bahwa keterbatasan pendidikan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan keterbatasan lapangan kerja adalah akar utama kemiskinan di Indonesia. Pertama adalah keterbatasan pendidikan diakibatkan oleh banyaknya orang yang putus sekolah akibat biaya pendidikan, sehingga tidak bisa melanjutkan pendidikan. Disamping itu banyaknya kejadian putus sekolah dikarenakan tuntutan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menekan kemiskinan, kita butuh poitical will di bidang pendidikan. Kedua adalah kualitas sumber daya manusia kita yang masih tertinggal. Hal itu tercermin dari Global Human Capital Report kita yang menempat Indonesia di urutan 65. Walauapun angka ini naik 7 peringkat dari tahun lalu, namun kualitas SDM kita masih kalah dibandingkan negara-negara tetngga kita seperti Singapura di peringkat 11, Malaysia di peringkat 33, Thailand di peringkat 40, dan Filipina di peringkat 50. Ketiga adalah kurangnya lapangan kerja juga dianggap menjadi penyebab kemiskinan di Indonesia. Lapangan kerja di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia. BPS menunjukkan bahwak pada Agustus 2016 pengangguran kita mencapai 5,61% dari total angkatan kerja sebesar 108,13 juta orang. Melambatnya penciptaan lapangan kerja adalah tantangan untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia dan mempengaruhi sekitar 1,7 juta pemuda yang masuk angkatan kerja baru setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan lapangan kerja saat ini lebih lambat dari pertumbuhan jumlah penduduk.

Kita sebagai bangsa tidak boleh meremehkan kondisi ini, sebagaimana pesan Marcus Aurelius bahwa “Poverty is the mother of crime”, dampak dari kemiskinan ini adalah kriminalitas, konflik, dan berbagai permasalahan horizontal lain. Dalam hal ini, saya percaya bahwa prinsip-prinsip kewirausahaan sosial akan mampu memberikan value utama berupa penyelesaian berbagai masalah ekonomi di masyarakat, khususnya kemiskinan. Dengan mendorong lahirnya wirausaha sosial, maka pemerintah akan mampu melibatkan private sector dalam penyelesaian masalah kemiskinan.

Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia merdeka” pesan lantang sang proklamator untuk kita, Bung Karno. Ketika kita mengumandangkan kemerdekaan sejatinya kita memberikan sebuah pesan bahwa Bangsa Indonesia menyatakan perang melawan kemiskinan. Namun, hari ini setelah lebih dari 70 tahun berlalu kita menyaksikan kemiskinan menang, janji kemerdekaan tak tertunaikan, dan kita Indonesia kalah dalam perang panjang melawan kemiskinan. Oleh karena itu, hari ini, saatanya kita mengerahkan semua sumber daya kita dan kemampuan kita dalam bingkai persatuan untuk bersama-sama memerangi kemiskinan. Kita harus yakin kawan-kawan.. Bonus demografi, nilai-nilai ke-Indonesian, dan kerja nyata pemuda kita hari ini adalah tiga kunci utama untuk menjadikan kita mampu menghapuskan kemiskinan dari bumi pertiwi.

*(CEO Indonesia Medika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here