Partai Penggembala

0
174

Manusia tak bisa digerakkan bergerombol layaknya domba hanya dengan ancaman pecut dan iming-iming rumput.

Para pemimpin harus menyadari hal itu dari semula. Apalagi pemimpin lembaga yang harus bersaing untuk memimpin dan dinisbatkan sebagai tempat tumbuhnya pemimpin-pemimpin lain.

Kita bisa mulai belajar perihal ini dari kegagalan Sang Ketua Partai, Mao Zedong. Pemimpin China Daratan generasi pertama di abad modern.

Di akhir tahun 1957, Mao memperkenalkan yuejin (lompatan jauh ke depan), menggantikan semboyan maojin (bergegas ke depan). Ia hendak menyalip Inggris dalam waktu 15 tahun, yang kemudian dipersingkat lagi jadi 3 tahun.

Tanur-tanur baja lalu dibangun di pekarangan, orang-orang digerakkan untuk segera “melinggis Inggris”. Semua bekerja, semua lelah. Industri menjadi panglima. Pertanian dikelola dengan sistem komune, nyaris diabaikan. Ujungnya tragis: 30 juta orang mati sia-sia kelaparan.

Ia lalu tersingkir dari posisi kunci partai. Tapi ia membalas. Ia proklamirkan “Revolusi Kebudayaan” di tahun 1966. Dengan kekuatan agitasinya, ia gerakkan anak-anak muda untuk membabat siapa saja yang menghalanginya. Namun ia pun kemudian menyerah. Revolusi hampir saja memakan “anak-anaknya” sendiri.

Setelah Mao mangkat di tahun 1976, Deng Xiaoping –orang yang gagal ia babat– mulai memperbaiki kebijakan Mao. Meminjam bahasanya penulis China’s Megatrends, Deng “memerintahkan Partai Komunis China beralih fokus dari politik ke ekonomi, dari ideologi ke strategi pertumbuhan dan menetapkan prioritas yang berbeda.”

Ia lampaui definisi dan kategori komunisme dan kapitalisme. Deng punya kata-kata mutiara yang terkenal: “Tidak peduli apakah kucing itu hitam atau putih, yang penting dia dapat menangkap tikus.”

Sejatinya Deng menghidupkan spirit kapitalisme. Semboyan zhifu guanrong (jadi kaya itu jaya) hidup di masanya, semangat kompetisi ditumbuhkan. Pola pertanian komune ia koreksi. Ia adopsi pengelolaan yang memungkinkan adanya persaingan individu, pola yang tadinya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat China yang berjumlah semiliar lebih dengan kepercayaan diri rendah, tertindas, miskin dan kurang pendidikan itu ia perintahkan untuk diberi kebutuhan yang paling mendesak: pangan, pendidikan dan harapan.

Pertanian yang maju menghindarkan China dari kelaparan. Industri pun lalu maju berkembang, meski dalam skala rumah tangga, tapi ada di mana-mana. Ekonomi tumbuh lebih dari 9 persen selama lebih dari 3 dasawarsa. Bukan hanya Inggris yang akhirnya tersalip, tapi juga Amerika harus siap-siap tergeser perannya.

Cerita tentang China, Mao Zedong dan Deng Xiaoping, adalah cerita perbandingan tentang bagaimana manusia digerakkan. Perbandingan kebijakan antar pemimpin di satu partai. Kebijakan yang berimbas pada kemampuan persaingan antar negara, bukan antar partai lagi, karena China hanya mengenal partai tunggal.

Untuk konteks Indonesia, marilah kita belajar kepada fenomena Partai Golkar dan Partai Nasdem. Setelah Mahkamah Konstitusi pada tahun 2009 mengukuhkan pemenang persaingan adalah pribadi pemilik suara tertinggi, kekuatan personal berpengaruh sangat besar terhadap kemenangan (atau eksistensi) elektoral.

Golkar sampai hari ini boleh dikatakan mengalami “perang” tiada henti. Konflik internalnya demikian keras. Namun harus diakui, pengurus dan calon anggota legislatifnya memiliki kemampuan personal (ekonomi) di atas rata-rata. Akbar Tanjung pernah mengkritik keras dan mengabadikan dalam disertasinya, tentang bagaimana Golkar menjelma jadi partai para saudagar pasca kepemimpinannya.

Kekuatan ekonomi masing-masing pribadi dan jejaring yang terbentuk lama di masa Orde Baru adalah jaminan eksistensi Golkar hingga kini. Apalagi saat tidak ada ideologi pembeda yang tegas antar partai peserta pemilu.

Partai Nasdem yang muncul belakangan tapi langsung masuk parlemen, juga tidak lepas dari kekuatan ekonomi dan sosial masing-masing calon anggota legislatifnya. Nasdem muncul pasca keputusan MK itu, sehingga para calon anggota legislatifnya masuk dengan pola permainan yang jelas. Mereka akan menang dengan suara yang mereka peroleh, bukan lagi berdasar nomor urut.

Dukungan media pendirinya mungkin jadi faktor penentu yang lain. Namun tak bisa dipungkiri, hasrat untuk lolos ambang batas dan kebutuhan finansial partai yang baru berdiri membuat Nasdem membuat seleksi ketat. Alhasil, calon anggota legislatif Nasdem muncul dengan kualifikasi mirip dengan Golkar, punya basis ekonomi dan sosial cukup kuat.

Berbagai fenomena itu menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin partai. Kekuatan individu dengan segala bentuknya harus ditumbuhkan. Bukan justeru dimatikan.

Bagi partai Islam, perlu dingat bahwa ajaran kebebasan individu dalam Islam tetap relevan hingga hari ini. Jamaah Islam adalah kumpulan jiwa yang merdeka namun perlu berhimpun karena ada kebutuhan amal bersama. Merdeka karena deklarasi “tiada Tuhan selain Allah” tapi kemudian bersatu karena ukhuwah. Jika mengikuti “teori”-nya Covey, individu yang independen yang selanjutnya menyadari adanya interdependensi.

Tidak boleh ada jamaah Islam yang menjelma mirip lembaga kerahiban atau mengadopsi beberapa cirinya. Laa rahbaniyata fil Islam. Para pemimpin adalah pelaksana amanah, tidak tepat jika malah berhasrat mengadili, daripada melayani. Karena hakikatnya kita nanti akan dihisab sendiri-sendiri.

Indah sekali Sang Nabi (shollu ‘alaihi wa alihi) memilih diksi roo’in (penggembala) untuk ummatnya. “Kullukum roo’in..” Setiap kalian adalah penggembala. Kemudian diikuti konsekuensi: “Wa kullukum mas’ulun ‘an ro’iyyatihi” Dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas gembalaanmu itu.

Para penggembala adalah pribadi yang merdeka. Ibnu Khaldun dengan sangat apik menggambarkan bagaimana karakter para penggembala padang pasir menjadi penentu kemenangan di lintasan sejarah ummat yang panjang.

Jadi, jika anda adalah para pemimpin, apalagi pemimpin partai, perlakukanlah rakyatmu sebagai para penggembala yang merdeka. Perkuat pribadinya, bangunlah kesadaran dan pemahamannya. Ikat mereka dengan konsensus serta kebutuhan akan kerjasama. Bukan dengan kendali berkesan intimidasi atas nama otoritas. Jadikanlah partaimu sebagai partai para penggembala, bukan partai domba-domba. Wallahu A’lam.

By. Arsan Nurrokhman.

12 November 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here