ORASI FAHRI HAMZAH PADA REFLEKSI 20 TAHUN REFORMASI

0
58

Kita bersyukur berkumpul di sini (gedung DPR MPR RI) dalam rangka mengenang 20 tahun reformasi. Saya berterimakasih kepada semua yang terlibat dalam acara 20 tahun Refleksi Reformasi. Yang saya hormati Ketua MPR Pak Zulkifli Hasan. Yang saya hormati para pimpinan DPR RI yang hadir. Yang saya hormati juga dan merupakan pusat dari perbincangan kita hari ini, Bapak Reformasi kita Bapak Prof. Dr. Amien Rais.

Yang saya hormati, para pelaku sejarah dan pejuang reformasi yang hari ini datang ke tempat ini. Bapak HS. Dillon. Pak Zulfahri. Dan lain-lain. Pak Zulfahri dan saya itu adalah pasukan penjaga Pak Amien Rais. Kami kemana-mana selalu menggunakan ambulans. Kenapa pakai ambulans. Karena kemana-mana (pada saat itu) itu (akan) tidak diganggu masyarakat. Karena waktu itu banyak blokir-blokir dari masyarakat Jakarta.

Hadirin sekalian. Saya ingin berbicara 3 hal berkaitan dengan Refleksi Reformasi. Moderator memberi kita batasan waktu. Jadi singkat saja.

Yang pertama, ada sekelompok orang yang ingin menulis ulang sejarah Reformasi. Padahal malaikat mencatat. Dan Youtube juga menayangkan video-video peristiwa Reformasi. Semua ada rekaman (jejak digitalnya). Kalau kita berbicara Reformasi maka kita juga berbicara tentang Amien Rais.

Saya ingin mengatakan sebagai angkatan mahasiswa pada saat itu, satu pertanyaan “kenapa mahasiswa memilih Pak Amien Rais”. “Kenapa diantara mahasiea tidak ada kontroversi soal penokohan Pak Amin”. Itu story-nya panjang. Kalau tadi Pak Albert Hasibuan bercerita tentang bagaimana rapat-rapat untuk membuat partai, maka story ini sebelum itu.

Dalam catatan mahasiwa (98) dan sejarah yang memilih, agar Pak Amien yang berbicara tentang perlunya Suksesi Kepemimpinan Nasional pada waktu itu. Ketika Pak Harto begitu kuat, tidak ada yang berani mengkritiknya secara vulgar dan lantang, baru Pak Amin Rais pada saat itu yang berani berbicara tentang suksesi.

Misalnya, pidato di Majelis Tanwir Muhammadiyah jauh sebelum peristiwa reformasi. Atau di salah satu seminar di salah satu kantor pemerintah pada saat itu. Yang menyatakan perlunya suksesi kepemimpinan nasional. Ini suksesi lho. Bukan reformasi. Suksesi itu lebih dalam dari reformasi. Bahkan waktu menjelang Sidang MPR tahun 1997, pak Amien secara tegas menyatakan bahwa kesalahan fatal apabila MPR memilih kembali Soeharto. Dan tidak ada yang berbicara seperti itu waktu itu.

Dan kenapa Pak Amien sampai pada pikiran Suksesi pada waktu itu. Karena beliau Profesor Politik. Beliau membaca peta dan situasi. Beliau mengerti bahwa kekuasaan yang sudah terlalu lama maka dengan sendirinya akan banyak masalah. Dan itulah kemudian yang kita terjemahkan dalam ide Reformasi. Reformasi itu adalah perbaikan didalam sistem kita bernegara.

Dari otoritarinisme kepada demokrasi. Dari ketidakbebasan menuju kebebasan dan inovasi. Dan itu yang disampaikan oleh Pak Amien. Pak Amien sudah sampai pada kesimpulan; “Suksesi”. Nah, karena itulah pada saat aksi-aksi mahasiswa itu datang, saya ingat 29 Maret 1998 kami dari Malang mendeklarasikan berdirinya KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Indonesia), dan awal April Pak Amien pulang dari Belanda, saya datang ke PP Muhammadiyah dan menyampaikan;

“Pak Amien, teman-teman mahasiswa, terutama teman-teman aktivis masjid kampus seluruh Indonesia sudah mendeklarasikan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMMI). Mereka mengamanahkan kepada saya, untuk menyampaikan kepada Pak Amien. Ini ada organ aksi, dan kami siap kami berada di belakang Pak Amien apabila bapak akan bertindak dan beraksi pada keadaan sekarang ini”.

Karena waktu itu mahasiwa berpikir; gerakan itu kalau tidak ada figurnya ya susah juga. Kami mahasiswa juga sadar, bisa apa kami mahasiswa ini. Anak-anak baru berumur belasan dua puluh tahunan. Belum ada pengalaman. Tapi kita tahu kita harus punya konsep yang kredibel. Yang mampu untuk menjurubicarai pikiran dan perasaan seluruh mahasiswa Indonesia. Dan saya ingat satu jawaban pak Amien (atas pernyataan saya);

Kata Pak Amien; “mas Fahri. Kalau anda datang kepada saya, kurang dari meminta Pak Harto mundur, anda salah alamat”.

Coba bayangkan itu. Saya waktu itu tidak terbayang pak Amien akan ngomong begitu. Kita yang muda ditantang. Padahal kita baru menawarkan diri untuk jalan bareng dengan Pak Amien. Kita menyatakan teman-temab sudah siap aksi di seluruh Indonesia. Beliau malah katakan kalimat seperti itu.

Saya balas kata-kata pak Amien; “insya Allah siap pak Amien. Karena (kondisi) ini sudah sampai pada kesimpulan (bahwa Soeharto harus turun)”.

Waktu itu kita sudah berkesimpulan, bahwa reformasi tidak bisa kita lakukan, bila masih ada figur dominan di republik ini yang mendominasi proses kekuasaan. Yang mendominasi sistem. Maka figur itu harus keluar dulu. Sejak itu KAMMI berjalan dengan pak Amien. Seperti yang saya ceritakan diatas waktu kami memakai ambulans, ada dengan Pak Najib dan Pak Yunus dari Muhammadiyah.

Kami berjalan bersama Pak Amien. Bertemu dengan massa aksi. Bertemu dengan masyarakat di seluruh pelosok Jakarta, pak Amien disambut luarbiasa. Dimana-mana. Di pojok-pojok kota. Di pojok-pojok desa. Dan kalau kami mau masuk ke satu lokasi, ada orang karena habis kerusuhan, mereka pagar seluruh jalan gangnya karena khawatir ada orang datang dan mengacau. Tapi begitu mendengar pak Amien datang ke satu gang misalnya, semua buka blokade dan gembira.

Ada trust yang kuat kepada Pak Amien. Dari semua kelompok. Tidak perbedaan pendapat soal ketokohan pak Amien. Pak Amien paling menonjol dari seluruh tokoh. Itulah sebabnya, kalau kita melihat runtutan sejarah berikutnya, setelah peristiwa Trisakti, saya ingat saya dan teman-teman bersama Pak Amien ke Trisakti, di sana Pak Amien berpidato. Dengan sangat keras. Dan media asing sudah menunggu. Dan itu awal pertama Pak Amien berbicara dalam bahasa Inggris menyatakan; agar dunia menyaksikan keinginan rakyat Indonesia yang ingin Soeharto mengundurkan diri.

Waktu habis wawancara, Pak Amien menemui kelompok mahasiwa dan berkata; “saya sudah berbicara kepada dunia”. Kami jawab; “sudah tepat pak Amien. Inilah waktunya”.

Setelah itu saya kira Soeharto lebih banyak berpikir. Banyak peristiwa di tingkat elit saya kira. Tapi prinsipnya, mahasiwa waktu itu bergerak terus. Saya sendiri dan kawan-kawan pimpinan mahasiswa sifatnya menjadi penghubung antara massa dengan para tokoh. Menyampaikan perkembangan-perkembangan di lapangan.

Banyak sekali orang yang kita tidak bisa sebut namanya dari seluruh Indonesia. Para pahlawan reformasi. Yang berjuang dalam aksi-aksi. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Tapi reformasi 98 itu melibatkan banyak orang. Semua terlibat. Semua memberi sumbangan. Termasuk ada juga sumbangan harta. Berduyun-duyun masyarakat membantu. Beli minuman untuk aksi. Dan kalau ada bantuan ke kita kita bicarakan secara transparan dan terbuka.

Aspirasi dan keinginan masyarakat akan datangnya perubahan itu luar biasa. Sampai mereka membantu dengan yang mereka punya. Volunteerismenya luar biasa. Muncul dimana-mana. Hingga akhirnya reformasi terjadi.

Saya ingin mengatakan sesuatu yang harus dalam kita pikirkan tentang Pak Amien. Beliau memikirkan sesuatu yang mendalam sampai pada kesimpulan tentang Suksesi pada saat itu. Lalu figur yang dipanuti mahasiswa pada saat itu, kita memilih pak Amien. Walau tentu banyak juga tokoh lain yang terlibat bersama kita dalam Reformasi ya. Tapi sejarah mencatat, kita percaya ketika pak Amien yang datang dalam aksi-aksi kita.

Lalu Pak Harto jatuh. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Pak Amien godaannya untuk berkuasa itu besar sekali. Karena yang menjadi Presiden itu sebenarnya temannya Pak Amien. Pak Habibie kan teman dekat Pak Amien. Bahkan saya sekarang berpikir ya. Setelah Mahathir jadi PM pada umur 93, saya kira Pak Amien masih punya kesempatan 20 tahun untuk memimpin bangsa ini.

Karena Pak Amien-lah yang mengerti bagaimana desain reformasi ini. Mengerti bagaimana desain perjalanan bangsa ini. Dia pikirkan sejak awal perubahan ini sebagai ahli politik, dan dia pimpin dan inisiasi transisi sejak awal hingga sistem demokrasi kita bekerja.

Ibarat perubahan negeri kita itu kendaraan, pak Amien merintisnya mulai dari ide, lalu muncullah kendaraan yang hebat yang bernama demokrasi itu. Kendaraan yang canggih. Kalau demokrasi itu handphone, saya katakan demokrasi kita ini smartphone. Bukan handphone jadul. Kalau mobil itu, kayak Ferrari atau Rolls Royce. Yang canggih. Atau semacam Tesla yang dibuat oleh Elon Musk itu.

Pak Amien desain itu tapi -saya tidak enak ngomong begini karena tidak otoritatif dan banyak rahasia yang saya tahu-, tapi saya tahu betul bagaimana Pak Amien tidak tergoda oleh kekuasaan. Di masa Pak Habibie, semua partai memeluk pak Amien. “Pak Amien sekarang waktunya kalau mau jadi Presiden”, kata seluruh ketua Partai. Tapi pak Amien tidak tergoda.

Bahkan setelah pak Habibie jadi Presiden, pak Amien Konferensi Pers dan katakan “Pak Habibie, sekarang kita bertinju, dan saya adalah mitra tinju anda, untuk menjaga amanat reformasi yang telah diberikan mahasiswa kepada kita”. “Mitra tinju” istilah pak Amien. Padahal tentu Pak Habibie bisa saja menginginkan pak Amien jadi Presiden setelahnya. Dengan cara dia. Misalnya dimasukkannya pak Amien ke pemerintahan. Lalu jadi Ketum partai penguasa misalnya. Tapi pak Amien tidak tergoda dengan itu. Maka kemudian dengan teman-temannya mendirikan partai politik sebagai wahana perjuangannya sendiri.

Kasarnya, ini orang sudah berjuang luar biasa, tapi ketika mau tarung pun, dia membuat kendaraannya sendiri. Ngga nanggok. Ini orang (seorang) pejuang.

Nah sekarang, begitu kendaraan (demokrasi) ini selesai, kok pak Amien sekarang ribut. Pokoknya ngga diam. Karena pak Amien tahu ini kendaraan dan dia tahu seharusnya kapasitas orang seperti apa yang menjadi sopir (memimpin) kendaraan itu. Sehingga begitu sekarang dia ribut, karena mungkin pikirannya bilang ini sopirnya ngga cocok nih. Makanya disikat terus.

Ini soal dia yang desain kendaraan ini. Kendaraan yang super canggih yang bernama demokrasi. Dia bisa merubah nasib orang. Dia bisa memberikan kebebasan. Dia bisa memberikan kesejahteraan. Dia bisa memeratakan pembangunan. Dia bisa membikin hak-hak orang terjaga semua, termasuk hak-hak asasi manusia. Karena mobil ini canggih, maka perlu sopir yang agak canggih pula. Jadi intinya mungkin pak Amien bangun gitu, terus bilang “ini kayaknya sopirnya ngga canggih deh”.

Sampai kapanpun, saya kira, kalau sopirnya kurang canggih kurang cocok dengan kendaraan yang bernama demokrasi ini, saya kira pak Amien akan ribut terus. Pak Amien akan kumat. Percaya saya. Karena itu, kalau Pak Amien mau agak kurang kritiknya, ya pemimpinnya agak canggih dikitlah.

Demokrasi ini seperti smartphone. Tapi sama yang sekarang cuma dipakai untuk sms dan telepon. Padahal smartphone kita ini bisa dipakai untuk bayar hutang, dagang, e-commerce, chatting, gps, email dan lain sebagainya. Tapi ini orang cuma pakai untuk sms sama telepon. Kapasitas dia dengan kemampuan mesinnya tidak memadai. Ini yang membuat pak Amien terus menerus ribut. Karena pak Amien mengerti desain ini sejak awal.

Makanya kalau saya melihat Mahathir ini kadang-kadang berpikir juga tentang pak Amien. Sebab, kalau kendaraan sudah bagus begini tapi sopir ngga ngerti, bisa rusak juga kita ini pak.

Kita yang penumpang mpot-mpotan ini. Sopir bajaj nyopirin Ferrari.

Kalau saya ditanya, apa saya mengerti cara mengendarai kendaraan ini, saya bilang, saya mengerti, pak Amien. Tapi kawan itu yang sekarang jadi sopir kayaknya tidak ikut sama kita. Ngga tau darimana.

Orang yang mengerti bagaiman ini berjalan adalah orang yang bersama Pak Amien dari sejak awal. Dan saya minta tolong agar teman-teman membuat film tentang bagaimana sistem ini didesain. Supaya jangan seperti sekarang, banyak orang pintar jadi bodoh karena memuji orang bodoh. Saya jujur saja ngomongnya. Apa adanya.

Indonesia ini akan terbang ke angkasa apabila dipimpin oleh orang yang sepadan dengan kemampuan sistemnya. Dengan kapasitas demokrasi. Janji demokrasi kepada rakyat itu luar biasa besarnya. Kalau kita ingat tuntutan (reformasi) mahasiswa itu, 3 itu terkait penegakan hukum. Yang lainnya sudah selesai. Tinggal penegakan hukum dalam demokrasi ini yang sebagian belum selesai. Kuncinya harus agak canggih otak pemimpinnya.

Misalnya dalam kasus terorisme. Mau mencampurkan penegakan hukum dengan intelijen. Kan bahaya. Nanti semua orang direkayasa. Supaya jadi teroris. Orang bisa dijebak dalam amatirnya pemimpin kita dalam menghadapi demokrasi.

Jadi kembali pak Amien. Kalau sekarang mau bilang Reformasi Jilid 2, saya persilahkan. Tapi yang penting adalah bagaimana soal Ganti Presiden karena logika Sopir Ferrari itu tadi. Pak Amien dari 20 tahun yang lalu sudah canggih bahasa Inggris. Ini sudah lewat 20 tahun, masih juga susah bahasa Inggris itu orang.

Mudah-mudahan tahun depan Presiden kita akan berganti dengan yang lebih baik.

Terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here