Muhammadiyah Majukan Indonesia

0
14

Oleh: Dr Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Indonesia diperjuangkan dan dibangun oleh seluruh kekuatan nasional sejak zaman perjuangan kemerdekaan sampai setelah merdeka tahun 1945. Sesuai posisi dan perannya, semua komponen nasional begerak memperjuangkan Indonesia bebas dari penjajahan.

Setelah itu, mereka membangun negara dan bangsa secara bersama-sama. Tidak ada pihak paling berjasa, semuanya memainkan peran konstruktif.

Pada setiap periode rezim kekuasaan, ketika berdiri dalam posisi kritis terhadap pemerintah pun, sebenarnya merupakan bagian dari kiprah kebangsaan agar negara dan bangsa Indonesia tetap lurus di jalan perjuangannya.

Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari kekuatan nasional yang sejak berdirinya pada 1912, terlibat aktif dalam perjuangan politik kebangsaan serta membangun bangsa melalui gerakan dakwah berorientasi pembaruan.

Peran kebangsaan

Muhammadiyah sebagai kekuatan nasional telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan dan melalui para tokohnya terlibat aktif mendirikan Negara Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara berlanjut.

Inilah bukti, Muhammadiyah ikut ‘berkeringat’ memajukan kehidupan bangsa. Para tokoh Muhammadiyah sangat besar perannya. Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan bergerak mencerdaskan dan memajukan bangsa hingga diangkat sebagai pahlawan nasional.

Srikandi Aisyiyah, Hayyinah, dan Munjiyah menjadi pelopor pergerakan perempuan atas lahirnya Konges Perempuan Pertama pada 1928. Kiai Mas Mansur menjadi tokoh empat serangkai bersama Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara dalam persiapan kemerdekaan Indonesia.

Ki Bagus Hadikusumo didukung Kahar Muzakkir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, sebagai konstitusi dasar sekaligus penetapan Pancasila sebagai dasar negara.

Dalam perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan, kontribusi Muhammadiyah terbesar melalui Soedirman adalah perang gerilya yang kemudian melahirkan serta menjadi Bapak Tentara Nasional Indonesia, yang tiada duanya.

Gerakan cinta Tanah Air ini bermodalkan spirit Hizbul Wathan atau Kepanduan Tanah Air yang dirintis tahun 1918, waktu Soedirman menjadi pandu utamanya.

Bersamaan dengan perang gerilya, dalam mempertahankan Indonesia dari serbuan kembali Belanda di DIY dan Jawa Tengah, para tokoh Muhammadiyah menggerakkan aksi Angkatan Perang Sabil (APS), sebuah perlawanan umat Islam yang luar biasa militan.

Peran tokoh Muhammadiyah Ir Djuanda juga sangat penting dalam menyatukan seluruh kepulauan Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957, yang menjadi pangkal tolak perjuangan Indonesia di PBB untuk menyatukan lautan dan daratan dalam satu kepulauan Indonesia.

Perjuangan tersebut berhasil tahun 1982 dengan diakuinya kesatuan laut dan daratan kepulauan Indonesia oleh PBB dalam hukum laut internasional. Selain itu, keberadaan Kementerian Agama juga merupakan gagasan tokoh Muhammadiyah dari Jawa Tengah, KH Abu Dardiri.

Menteri Agama pertama ialah HM Rasjidi, dikenal sebagai ilmuwan atau ulama lulusan Universitas Sorbonne, Prancis, yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta. Kahar Muzakkir, anggota Panitia Piagam Jakarta, waktu di Al-Azhar, Kairo, melakukan diplomasi di Timur Tengah sebelum yang lainnya.

Sukarno juga Muhammadiyah, bahkan pengurus Majelis Pendidikan saat di Bengkulen (Bengkulu). Tokoh utama kemerdekaan dan proklamator serta Presiden pertama Indonesia itu lama bergaul dan “ngintil” (berguru secara informal) dengan Kiai Dahlan sebagaimana beliau akui sendiri.

Sukarno beristrikan kader Aisyiyah, Fatmawati yang juga putri Konsul Muhammadiyah Sumatra, Hasan Din. Paham Islam progresif menjadi daya tarik Sukarno menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah. Presiden Soeharto juga anak didik sekolah Muhammadiyah.

Kedua presiden itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berjasa bagi perjalanan sejarah dan pembangunan bangsa. Muhammadiyah terus berkontribusi bagi pencerdasan dan pemajuan bangsa lewat pembaruan, pendidikan, kesehatan, sosial, dan gerakan dakwah lainnya.

Dalam lintasan perjalanan Indonesia, puluhan hingga ratusan ribu SDM terdidik dan berkarakter lahir dari gerakan ini, tanpa mengklaim dirinya gerakan santri.

Dari rahim Muhammadiyah pula hadir Amien Rais sebagai tokoh reformasi, Syafii Maarif tokoh pluralisme dan kemanusiaan. Ada juga sosok Din Syamsuddin, tokoh dialog lintas agama di tingkat nasional sampai internasional.

Apa yang dikerjakan Muhammadiyah diakui masyarakat dan pemerintah. Dalam kerangka itu, pemerintah menetapkan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 tanggal 27 Desember 1961.

Peran kemasyarakatan

Muhammadiyah memiliki teologi dan praksis Al-Ma’un dalam mengembangkan filantropi bersifat inklusif. Termasuk program kemasyarakatan oleh organisasi perempuan Muhammadiyah, yakni Aisyiyah.

Di Indonesia bagian timur, seperti di Papua dan Nusa Tenggara Timur, tempat umat Islam minoritas, Muhammadiyah melakukan usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Di Papua, Muhammadiyah mendirikan perguruan tinggi dan sekolah, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial bagi penduduk setempat yang mayoritas Kristen dan Katolik. Guru atau dosen Kristen dan Katolik mengajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Gerakan ini, bagi Muhammadiyah wujud pluralisme Islam yang membumi, bukan retorika dan jargon di atas kertas. Program Muhammadiyah untuk kemanusiaan, seperti penanggulangan bencana dan pemberdayaan masyarakat di daerah terjauh dan terpencil diakui secara luas.

Muhammadiyah berperan dalam resolusi konflik di Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan kawasan lain untuk rekonsiliasi dan perdamaian. Muhammadiyah juga melaksanakan program kemanusiaan untuk Rohingya di Myanmar dan Cox’s Bazar, Bangladesh.

Program kemanusiaan dilakukan pula untuk Palestina yang masih mengalami nasib buruk dan perlakuan tidak adil di Timur Tengah. Semua dilandasi spirit kemanusiaan bahwa pada era peradaban modern semua umat manusia layak hidup bersama tanpa diskriminasi dan penindasan.

Kiprah Muhammadiyah dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal melekat dengan nilai dan pandangan Islam yang berkemajuan. Pendiri Muhammadiyah sejak awal pergerakannya senantiasa berorientasi pada sikap dan gagasan berkemajuan.

Sebab, Muhammadiyah percaya, Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan. Muhammadiyah, dengan pandangan Islam sebagai agama kemajuan, senantiasa berusaha mengintegrasikan nilai keislaman dan keindonesiaan.

Sampai kapan pun, Muhammadiyah bersama Indonesia melalui usaha nyata bukan semata klaim retorika ataupun pencitraan. Karena itu, tidak perlu ada klaim dirinya paling Indonesia, paling cinta NKRI, paling Merah-Putih seraya memandang pihak lain seolah setengah Indonesia.

Keindonesiaan harus ditunjukkan bukan dengan klaim dan retorika, melainkan dengan perbuatan nyata. Bahkan, kalau Indonesia dibawa salah arah kemudian diluruskan oleh sejumlah komponen bangsa, usaha itu bagian dari cinta Indonesia.

Cinta tidak memanjakan dan membiarkan yang dicintai keropos, tetapi niscaya dikasihi sekaligus dibina dan diberdayakan. Bahkan, diingatkan saat yang dicintai itu pada jalan yang tidak semestinya. Cara meluruskannya tentu dengan rasa cinta, bukan amarah dan kebencian!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here