Move On Yuk Bro

0
145

Oleh : Setiyono

Tahun 1861, saat pertama kali Abraham Lincoln dilantik menjadi Presiden Amerika yang ke 16, pidato pertamanya adalah tentang tata hukum Amerika. Dalam pidato pertama itu, dia berkomitmen untuk membenahi tata hukum Amerika. Karena kondisi hukum Amerika ketika itu banyak yang tidak humanis dan bertentangan dengan asas-asas keadilan. Gagasan Lincoln itulah yang kemudian menginisiasi gerakan penghapusan perbudakan di Amerika.

Lalu pada tanggal 16 Oktober 2017 di Jakarta, ada peristiwa yang nyaris sama dengan apa yang pernah dialami dan dilakukan oleh Abraham Lincoln. Hanya tingkatan jabatan dan jenis pidatonya saja yang berbeda. Yakni peristiwa pelantikan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta, dan pidato pertama Anies yang kemudian menjadi kontroversi.

Sebagai orang yang tengah konsen mempelajari ilmu hukum Indonesia dan pengkaji demokrasi, jujur sebenarnya saya sedikit tidak nyaman dengan pidato Anies, khususnya yang menyangkut kata “pribumi” itu. Walaupun jika didengar secara utuh isi pidatonya, sebenarnya tidak ada arah untuk membangkitkan isu ras. Namun di tengah psikologi masyarakat Jakarta, bahkan nasional hari ini. Yang tengah mengalami sensitifitas terhadap hal-hal yang sifatnya ras, akibat ulah Ahok tempo hari dan ulah beberapa oknum yang cenderung merendahkan beberapa rakyat kita. Seperti pernah ada yang mengatakan “pribumi tiko”, kemudian maraknya pekerja asing, dan lain-lain itu. Pidato Anies pun menjadi seperti bentuk perlawanan terhadap orang-orang yang mendukung Ahok dan mendukung orang-orang asing yang banyak bekerja disini. Maka tak heran jika kemudian, orang-orang menjadi demikian tersinggung dengan kata pribumi yang diucapkan oleh Anies. Apalagi bagi orang-orang yang kemarin mendukung Ahok dan kemudian mengalami kekalahan. Lebih sensitif lagi. Para pendukung Ahok masih dalam kondisi berkabung, tiba-tiba Anies datang dengan pidato yang ada kata pribuminya, tentu ini sangat potensial untuk memicu kesalahpahaman tersebut.

Seharusnya, Anies tidak perlu pidato dengan gagasan seperti kemarin. Menurut saya terlalu jauh narasinya, dengan posisi jabatan yang diemban yakni sebagai Gubernur DKI Jakarta. Akan lebih Rilex, bila pidato Anies lebih konsen kepada soal langkah-langkah taktis dalam kerja pembangunan Jakarta pada 5 tahun kedepan. Sehingga tidak memicu persoalan hukum seperti yang terjadi hari ini. Ada sekelompok orang yang kemudian melaporkan Anies ke Polisi, dari Banteng Muda Indonesia, notabene mereka adalah orang-orang yang mendukung Ahok tempo hari. Jika kemudian laporan ini diproses terus oleh penegak hukum, tentu konsentrasi Anies menjadi terganggu dalam kerja membangun Jakarta, karena mau tidak mau, sebagai bentuk penghargaan atas hukum yang berlaku, maka Anies harus melayani bila kenyataannya laporan itu terus diproses.

Persoalan pidato Anies dan orang-orang yang melaporkan pidato ini ke polisi, sebenarnya adalah potret dari ketidakwasaan dalam berdemokrasi dan dalam bernegara, sama-sama tidak negarawan, dan sama-sama belum move on dari transisi demokrasi Jakarta. Baik itu dari kubu Anies maupun dari kubu pelapor Anies.

Kalau keduanya sama-sama sudah move on, sama-sama sudah negarawan, tentu Anies akan lebih hati-hati dalam menyusun pidato. Kemudian Djarot akan hadir dalam pelantikan, dan para pendukung Ahok tidak akan sensitif dengan sebentar-sebentar mengunakan instrumen hukum untuk pelampiasan kemarahan.

Dalam soal kenegarawanan, kita memang harus banyak belajar. Semoga peristiwa yang terjadi belakangan ini, bisa menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata kita demikian krisis dalam hal kenegarawanan. Mari kita terus belajar menjadi bangsa yang maju, demokratis, dan sejahtera. Sembari kita menunggu perkembangan dari laporan pidato Anies, apakah kemudian para penegak hukum akan benar-benar memperhatikan fakta hukum yang ada dalam memproses laporan tersebut, atau sebaliknya. Karena kunci dari baiknya tata hukum dan penegakkan dalam sebuah negara, tergantung bagaimana aparat penegak hukumnya.

Jakarta, 18 Oktober 2017


Setiyono
Aktivis Pergerakan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Al Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here