Menyapa Kota Pahlawan

0
167

Surabaya, Radarnusa.comDemi akal yang merdeka. Baru saja mendarat di Bandara Juanda Surabaya disambut lembayung senja yang terurai. Fahri Hamzah dan rombongan bergegas meluncur ke tengah kota Surabaya, agenda silaturrahim dan diskusi media dengan Jawa Pos di Graha Pena sudah menanti.

Di Gedung Jawa Pos Fahri disambut awak media dengan ramah, tepuk tangan membahana dari ratusan wartawan Jawa Pos network, mayoritas anak muda kreatif dan cerdas, generasi millenial yang tersalurkan bakatnya di media. Fahri merasakan semangat wartawan, Jawa Pos berhasil memadukan profesionalisme dan passion sekaligus dalam mengembangkan bisnis media dan pelayanan.

Fahri diantar berkeliling ke beberapa ruang kerja Jawa Pos yang masih penuh energi di sore selepas magrib. Kemudian dilanjutkan diskusi dan forum silaturrahim dengan pimpinan media Jawa Pos

Fahri menyampaikan terimakasih dan rasa excited nya pada media Jawa Pos yang terus bertahan dan tumbuh. ” kalau ke Surabaya tidak ke Jawa Pos rasanya tidak sempurna ”

Wartawan Jawa Pos menanyakan soal kekalahan KPK dalam beberapa kali Praperadilan. Apakah ada indikasi semakin tidak kredibelnya KPK dalam operasi hukumnya?

Fahri memulai dengan konsep negara dan perilaku korupsi. Korupsi banyak terjadi pada sistem negara yang tertutup, karena tidak ada yang mengontrol. Sedang pada negara dengan sistem demokrasi terbuka tidak memberi ruang pada perilaku korupsi karena banyaknya pengawasan dan ketatnya prosedur. Lembaga KPK telah bekerja diluar kendali dan pengawasan. Tanpa pengawasan KPK bertindak melewati batas kewenangannya dan melanggar hak asasi manusia, dengan penyadapan tanpa ijin serta operasi tangkap tangan (OTT) yang tidak sesuai hukum.

KPK Penyebab Bencana Hukum

KPK telah mencitrakan lembaganya sebagai standar moral yang harus jadi panutan dan harus selalu benar. Fahri menilai KPK mengambil peran Tuhan untuk ‘disembah’ dan sempurna, tidak ada yang boleh mengkritik KPK atau akan menjadi target pesakitan. Inilah awal bencana hukum di negeri kita, jika semua diam dan tak berani melakukan koreksi atas operasi KPK.

Sedikit sekali yang bertahan dengan sikapnya mengkritisi KPK. Fahri Hamzah telah melihat kekeliruan KPK sejak 2006, sendirian menentang KPK dan dibully habis oleh semua pihak, media tak mau meliput rilis-rilisnya yang mengkritisi KPK. Teman-temannya menjauh. Tapi Fahri terus bertahan dan berjuang membangun kesadaran rakyat. Hasilnya, saat pansus angket KPK terbentuk dan bekerja terbongkarlah berbagai kebobrokan dan kegiatan manipulatif KPK. Media mulai sadar, masyarakat terbelalak baru mengetahui kalau mengarahkan saksi dan korban, pimpinannya menerima suap, punya rumah sekap penyiksaan korban agar ikut dalam skenario kasus yang dibangun KPK.

Fahri Hamzah juga mengingatkan agar media mandiri bersikap atas berbagai situasi dan melakukan investigasi independen tentang KPK. Dibalik sikap tidak peduli media dan ketidakberanian mengemukakan kebenaran soal KPK ada bencana hukum di negeri kita. Harus ada yang berani bersuara walaupun sendiri, agar kita terhindar dari bencana yang bisa jadi tak terkendali. Fahri telah berjuang konsisten walaupun sendiri. Kita tidak boleh berhenti hanya karena bully dan intimidasi agar mereka sadar bahwa negeri demokratis ini bisa kembali kepada relnya. Sakralisasi pada KPK harus dihentikan karena bahkan istana pun sudah mengalami desakralisasi sejak reformasi.

Taufik Hamdi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here