Menuju Mukernas KAKAMMI: Mengapa Fahri Hamzah Layak Menjadi Presiden (lanjutan)

0
86

Radarnusa.com – Alasan keempat kenapa Fahri Hamzah layak menjadi Presiden RI 2019-2024 adalah, karena ia adalah sedikit dari pejabat tinggi negara sekarang ini yang sangat concern mengkampanyekan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi bangsa dan berusaha mendamaikan konflik tajam perdebatan negara dan agama. Tentu saja ini bukan pernyataan basa-basi. Fahri membuktikannya dalam banyak momentum pertemuan dengan aktivis dan masyarakat.

Dalam banyal pertemuan dengan aktivis, kelompok masyarakat sipil dan masyarakat secara luas, serta di hadapan seluruh pemegang kekuasaan di pusat dan daerah, Fahri Hamzah selalu berkampanye tentang pentingnya bangsa ini menyelami kembali makna dan kandungan Pancasila sebagai kompilasi nilai kehidulan berbangsa dan bernegara yang sangat ideal untuk diterapkan di Indonesia. Pancasila adalah saripati dari seluruh pikiran luhur bangsa ini, dengan melihat pergumulan antar entitas dalam tubuh bangsa. Ia saripati kebaikan bangsa.

Setidaknya, beberapa tahun lalu, jauh sebelum UKP-PIP dibentuk oleh Presiden, Fahri sudah menegaskan tentang perlunya dialog yang terbuka, ilmiah dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan bangsa, untuk menggali kembali keluhuran Pancasila. Dalam kampanye berseri tentang Pancasila tersebut, setidaknya, ada beberapa pesan terang Fahri Hamzah kepada bangsa ini.

Pertama, Fahri Hamzah sangat yakin sekali bahwa Pancasila akan menjadi ideologi yang akan mampu memberikan kita tenaga untuk bertahan ditengah gelombang pertarungan Kapitalisme Barat dan Konfusiusme yang menjadikan Indonesia sebagai ladang pertarungannya. Baik itu pertarungan nilai, maupun penguasaan ekonomi dan sumberdaya. Kedua, Fahri Hamzah jauh-jauh hari sudah memberikan warning kepada penguasa dan kelompok masyarakat, agar tafsir tentang Pancasila tidak ‘disandera’ sepihak. Karena itu akan melahirkan sikap yang otoriter dan berbahaya.

Dan akhirnya warning Fahri Hamzah terbukti. Di satu sisi, Pemerintah telah terbukti terindikasi berlaku otoriter, karena otoritas penafsir Pancasila dikendalikan secara sepihak, tanpa memberikan kesempatan kepada institusi ilmiah atau kelompok sipil untuk berbicara bersama pemerintah. Makanya kemudian, setiap wacana yang berbeda dengan pemerintah, terutama terkait dialektika kekuasaan aktivisme ormas yang kental dengan keyakinan agama seperti pengusung ide khilafah, diberangus dengan alasan anti-Pancasila.

Tapi di sisi yang lain, kita juga menyaksikan, bahwa sengketa atas tafsir Pancasila yang tanpa henti antar kelompok masyarakat, bisa menimbulkan gejolak yang kita sebut segresi sosial. Ketika tafsir atas Pancasila dikuasai oleh sekelompok orang, dan ia berdiri bersama kekuasaan, maka sikap benar sendiri tak terhindarkan. Kekerasan sipil terjadi. Orang atau sekelompok orang dihakimi, hanya karena percaya pada ide dan gagasan agama yang kelihatannya berbeda dengan ide dan nilai Pancasila. Padahal masih tanda koma.

Fahri Hamzah kemudian mengkampanyekan nilai lain, yang sebenarnya biasa saja dalam wacana tentang Pancasila ketika ditarik dalam agama dan tema kekuasaan. Pancasila adalah ‘Maqashid Syariah’; nilai-nilai ideal yang selaras dan beriring menuju penegakan hukum agama. Pancasila adalah jalan menuju sumber air kebijaksanaan agama dan kehidupan. Sesuatu yang penting untuk disuarakan kembali.

Pernyataan bahwa tidak ada pertentangan agama dengan negara dan Pancasila adalah nilai-nilai agama yang diadopsi dalam kehidupan berbangsa kita; jika menjadi keyakinan bersama, akan menjadi penyelesai konflik kelompok-kelompok agama yang selama ini apatis dan tak punya harapam dengan negara dan sistem demokrasi. Fahri mengulangi tanpa henti seluruh kampanye itu. Ia sedang menyiapkan pijakan besar bagi bangsa ini untuk berdiri gagah.

Syarat kelima kenapa Fahri Hamzah layak dijadikan Presiden di 2019 nanti, adalah karena ia mampu memprediksi perubahan yang akan terjadi di Indonesia. Ia membaca tanda-tanda jaman dari setiap perubahan. Salah satu ciri pemimpin besar, adalah mampu memprediksi perubahan yang akan terjadi pada bangsanya dan dunia. Kita bukan bercerita tentang nabi-nabi, dukun dan paranormal. Kalau nabi memang mendapatkan gift berupa mukjizat untuk mengetahui banyak peristiwa di masa depan, atas bimbingan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tapi ini berbeda.

Kita bercerita tentang ketajaman pikiran, keluasan pengetahuan dan perenungan yang dalam, yang dimiliki atau dilalui, yang dengan modal itu, tokoh politik tertentu bisa memperkirakan masa depan yang akan terjadi. Pekerjaan pemimpin memang seperti pekerjaan nabi. Mengarahkan manusia untuk menuju cita-cita kebaikan bersama. Karena itu pula, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berimajinasi bersandarkan pada data dan argumentasi yang ilmiah tentang kejadian yang (mungkin) terjadi di masa depan. Ia futurolog.

Mengapa seorang pemimpin Indonesia masa depan harus memiliki kemampuan ini ?. Karena, pertama, dunia sedang berubah dengan cepat dan penuh ketakterdugaan. Kedua, ditengah perubahan yang anomali itu kita mesti memiliki semacam rencana sempurna agar masa depan yang penuh goncangan bisa kita jalani dengan mulus. Ketiga, karena ia mampu memperkirakan yang akan terjadi di masa depan, pemimpin memiliki roadmap yang kemudian ia tanamkan ke dalam benak seluruh orang di negeri ini, agar mereka bisa berjalan menjalani masa depan dengan baik.

Dan prediksi yang menarik dari Fahri Hamzah adalah; satu, ia memprediksi bahwa akan terjadi benturan dan gelombang yang besar akibat pertarungan negara-negara kapitalis Barat dan kekuatan Cina dan sekutunya yang menjadikan Asia Pasifik sebagai medan pertarungan dan penguasaan kawasan (geopolitik) untuk memperebutkan energi dan pangan. Hanya persatuan dan kesadaran rakyat-lah yang mampu mencegah terjadinya kerusakan besar di negeri ini.

Tahun 2015 Fahri Hamzah mengatakan hal itu secara berulang-ulang, dan 2016 ini kita menyaksikan Jakarta sebagai wajah Indonesia, terbukti menjadi arena benturan besar. Aksi Bela Islam I hingga III dan seterusnya, tidak saja dimaknai sebagai protes atas kasus penistaan agama. Tapi tersirat jelas sekali bahwa protws umat juga membawa misi untuk melawan kekuatan modal asing yang ingin mengendalikan Indonesia (deepstate), dengan menaklukan Jakarta terlebih dahulu.

Prediksi yang kedua dari Fahri Hamzah adalah tentang akan adanya potensi gelombang yang akan merubah peta sejarah bangsa di tahun 2018 nanti, sebagai bagian dari siklus berulang yang memang terjadi pada bangsa ini setiap duapuluh tahunan. Gelombang tersebut, sekali lagi, tidak hanya berupa guncangan dan instabilitas an sich, tapi juga gelombang yang merubah arah baru bangsa ini, terutama dalam soal kepemimpinan nasional. Dan Fahri Hamzah bersama generasinya sedang berjuang membuktikannya.

Adakah alasan keenam yang menjadikan kita yakin Fahri Hamzah layak menjadi pemimpin atau Presiden RI 2019-2024 ?.

By. Bambang Prayitno

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here