Memilih Pemimpin Dari Tokoh Ummat

0
62

By. Nandang Burhanudin

Ketika kekuatan suatu bangsa pudar dan dikendalikan musuh. Maka kepemimpinan bangsa tunduk pada diktum atau keinginan musuh.

Bargaining alias barter kepentingan jamak terjadi. Tidak hanya kehormatan, pun kedaulatan digadaikan demi tahta atau mahkota.

Memilih yang paling lemah, jurus efektif menghancurkan arus perlawanan. Sebab si pemangku mahkota selalu bengis terhadap internal dan tunduk pada eksternal.

Demikian roda sejarah berputar. Perlu beberapa generasi menyadarkan, bahwa kepemimpinan yang terlemah teramat membahayakan.

Indonesia misalnya. Penjajahan VOC yang sangat lama. Tak lepas dari impotensi dan ejakulasi dini para pemangku tahta dan mahkota saat itu.

Hingga muncul serial kepahlawanan dari sosok-sosok super, yang memiliki keberanian, plus kejelasan narasi perjuangan.

Kini kita rasakan. Pemimpin terlemah melelang Indonesia kepada asing-aseng. Lalu represif terhadap rakyat yang dimiskinkan secara struktural hingga kultural.

Karena lemah. Maka si lemah akan senang dengan kelemahan. Panglima, Kapolri, Jaksa, Hakim, Pengadilan, BUMN, hingga Ketum Parpol dipilih dari yang TERLEMAH.

Targetnya jelas, mengendalikan dengan jeratan kasus dan berbagi dusta bersama. Lalu memberi ruang penjajah untuk menganeksasi negeri.

Semua elemen bangsa disibukkan dengan keributan internal. Sukses membeli Parpol dan menundukkan DPR, kini giliran TNI mulai dikebiri.

Akankah lahir episode kepahlawanan itu? Yakin akan lahir. Kembali yang melahirkannya adalah umat Islam, yang cinta negeri dan merdeka dari kepemimpinan si lemah.

Jenderal Gatot, Fahri Hamzah, Anis Matta, Amien Rais, Gus Sholah, ada baiknya bersama GNPF menyusun kembali puzzle-puzzle kepahlawanan itu. Agar si lemah tak dikendalikan wabah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here