Memaklumi Jokowi

0
377

 

Tak ada yang salah dengan pernikahan anak Jokowi. “Royal Wedding” ini nampak sangat istimewa dengan nuansa pesta nikahan anak raja di negeri dongeng. Sebagai presiden sekaligus seorang ayah dengan putri satu-satunya, Jokowi telah mengerahkan segala kuasa dan kemampuan untuk memanjakan putrinya. Ikatan seorang ayah dan putrinya sangat kuat dan penuh simbol. Sering kita saksikan di pesta pernikahan, sang ayah menangis kala ijab qabul dan saat memberi pesan ‘terakhir’ pada sang putri kesayangan, untunglah Jokowi tidak menangis kemarin saat ‘melepas’ putri tercinta.

Jokowi telah sempurna sebagai ayah. Menikahkan dua anaknya dalam tiga tahun kekuasaannya. Ayah mana yang tidak bangga menggunakan kuasanya untuk menyenangkan anak-anaknya. Cukup dengan balutan ‘pesta rakyat’ maka pernikahan mewah bak putra-putri raja dapat dimaklumi. ” Ini kan pesta pernikahan kampung” kata Jokowi menanggapi kritik Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah atas kemewahan yang ditampilkan. Dan delapan ribu undangan dibagikan (dimana seharusnya dalam pesta pejabat maksimal 400 undangan atau seribu yang hadir), seluruh perwakilan relawan hadir, pejabat pusat dan daerah, keamanan siaga penuh, tentu termasuk KPK diundang pula.

Dalam beberapa hari pemerintahan lumpuh dan beroperasi menjadi semacam panitia dan undangan pernikahan. Ada bagian transportasi dan penjemput tamu, Menko Maritim dan Mensesneg sampai harus memantau tempat tidur bagi relawan Jokowi yang akan hadir. Hiruk pikuk ‘panitia royal wedding’ dari pemerintah. Sesederhana itulah kekuasaan bekerja. Hanya dibuat rumit di mata rakyat.

Rakyat disuguhi dengan dagelan kosakata kuasa yang paradoks, penuh dengan tipudaya dan kepalsuan. Bagaimana mungkin pesta pernikahan anak presiden begitu mewahnya disorot media siang malam dianggap sederhana, nikahan kampung dan pesta rakyat? Rakyat yang mana yang hadir? Sekumpulan pejabat pusat dan daerah serta relawan Jokowi. Dalam keputusasaan dan rasa sakit rakyat dipaksa memaklumi ‘keadaan Jokowi’ sebagai presiden.

Masih untung ada yang mengingatkan Jokowi agar waras berpikir sebagai pejabat tertinggi republik, Fahri Hamzah mengkritik keras parade kemewahan pernikahan anak Jokowi yang dipertontonkan ke hadapan rakyat yang menderita dalam situasi negara yang kesulitan. Utang menumpuk rakyat bertambah miskin dan kinerja pemerintah di bawah standar. Tapi rakyat dipaksa memaklumi keadaan dan posisi Jokowi. Pesta ini harus mewah karena anak presiden. Di Toraja, Sulawesi Selatan, pesta kematian jauh lebih mewah dari pernikahan.

Menikahkan anak memang kebanggaan tersendiri, dengan status yang disandang sang bapak, gambaran pesta pernikahan bisa dibayangkan. Kemewahan, kemegahan, negeri dongeng, kereta kencana, prosesi kerajaan, dan sejumlah tampilan memanjakan sang putri. Ini hal biasa, sangat biasa dan wajar bagi seorang Jokowi. Karena biasa maka tak istimewa, batas pemikiran dan imajinasinya sampai disitu. Maka Jokowi jadi ikut biasa dan tidak istimewa, pada imajinasi kepemimpinan dan kapasitasnya membangun harapan publik. Lupakan soal harga baju dan sepatu Jokowi yang dipajang di setiap perempatan sebelum pilpres 2014 lalu.

Memaklumi berarti mencari seribu satu alasan untuk menerima situasi dan keadaan orang lain. Memaklumi adalah titik puncak dari kritik, protes, kecewa, tak peduli, putus asa dan kekesalan di ubun-ubun. Dalam hal ini rakyat harus memaklumi keadaan Jokowi sebagai presiden yang menikahkan putrinya. Wapres, Menteri-Menteri, lembaga negara seperti DPR, BPK, Kejaksaan, KPK dan lainnya harus memaklumi situasi Jokowi sebagai presiden yang menikahkan putri semata wayangnya. Aturan pemerintah tentang pembatasan jumlah undangan dari pejabat yang mengadakan pesta yang terang-terangan dilanggar presiden sendiri, untuk sementara harus diabaikan, karena kita semua harus memaklumi keadaan Jokowi. Belum lagi gratifikasi dan lainnya yang harus terus dimaklumi.

Demikian mewahnya pesta pernikahan ini hingga diliput semua media nasional. Indonesia berhenti bernapas, sejenak harus melewatkan kesenangan dan kesakitan, harus mengabaikan keadaan diri. Karena anak presiden menikah. Pewaris kerajaan Inggris Pangeran William dan Kate Middleton menikah dan menimbulkan histeria bagi rakyat Inggris, sebagian tetap biasa bahkan protes atas kemewahan pernikahannya. Disini kita sejenak disuguhi pernikahan putri presiden di semua channel TV dan media mainstream lainnya.

Tak ada tempat bagi rakyat menghibur dirinya. Semua orang ‘dipaksa’ memaklumi keadaan Jokowi. Tak ada ruang untuk bertanya apalagi protes. Ini sudah dilabeli ‘pesta kampung’ siapapun tak boleh banyak cakap, harus terus bertepuk tangan dan memasang muka bahagia. Karena momen histeria yang tidak berhasil seperti pernikahan putri raja.

Wahai rakyat. Harap maklum. Mohon bersabar, ini ujian ?. End (TA)

Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here