Korupsi Itu Mudah Diobati

0
427

Jakarta – Kritik tajam pada KPK tak berhenti hanya karena KPK terus membangun citra. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengingatkan banyak pahlawan kesiangan menjadi pendukung KPK padahal sebelumnya tidak menjadi bagian yang memperjuangkan demokrasi. Mereka menikmati keadaan ini tanpa memikirkan akibat jika terus memperpanjang transisi dengan mempertahankan KPK.

Padahal banyak penyimpangan yang ditemukan oleh Pansus Angket KPK, sehingga harus dievaluasi menyeluruh cara kerja KPK ini. KPK menyasar korupsi bernilai kecil dengan biaya OTT milyaran, sedangkan megakorupsi tidak pernah disentuh, hasil temuan BPK dimentahkan begitu saja.
Berikut kutipan Fahri Hamzah melalui akun twitternya :

Pahlawan anti korupsi kesiangan ini otaknya kosong… hanya satu kata dalam otaknya “Hidup KPK!” Setelah itu dianggap masalah selesai..

Mereka pahlawan kesiangan tapi sebenarnya merupakan generasi otoriter….mereka menikmati kekuasaan sebagai cara bernegara.. kuno!

Menyelesaikan problem dalam demokrasi dengan cara totaliter itu tidak saja bodoh tapi bikin rusak negara…

Korupsi adalah penyakit rezim totaliter…karena rumus korupsi adalah C = Monopoli + Diskresi – Akuntabilitas.

Monopoli ada di mana?
Diskresi sudah kita sisir!
Dan akuntabilitas meluas akibat pengawasan publik. Ini watak sistem demokrasi.

Sebaliknya negara totaliter itu jelas penuh monopoli. Politik, ekonomi, dll. Semua pejabat dapat diskresi. Habis gitu gak ada pengawasan.

Masa gelap itu gelap…
Teknologi belum mendukung kebebasan sipil… waktu itu serba sulit mengkritik pejabat…

Ketertutupan sistem membuat pejabat berbuat seenaknya; korupsi, kolusi dan nepotisme, KKN kata generasi itu…

Di era itu hidup ini seperti milik segelintir orang. Penguasa dan para kroni. Ruang publik pengap penuh dikte dan propaganda…

Sadarkah kita perubahan ini?
Mengertikah kita bahwa kebebasan ini mahal? Situasi ini membuat ruang otoritarianisme menciut

Ini fakta,
Ini tidak bisa dibantah bahwa ruang publik kita telah disehatkan oleh udara bebas nan segar…

Sampai di sini coba kita merenung mendalam…apa yang kita takutkan? Menurut saya ketakutan ini diciptakan…

Korupsi ini adalah momok…
Ini perang momok…
Perang hantu…
Perang persepsi ..
Korupsi imajinasi…

Negara punya penyakit baru; korupsi adalah penyakit lama. Tetapi menciptakan masalah agar ada program negara, adalah korupsi baru..

Maka,
Histeria ini adalah dibuat seolah ruang publik kembali pengap oleh korupsi…seolah ini era kegelapan…

Sampai di situ masih belum terlalu jahat, lebih jahat ketika justru korupsi ditutupi oleh versi fiksinya agar kerugian negara tak terbaca..

Mereka melewatkan kasus-kasus hasil audit kerugian negara dengan hura-hura amplop tipis gratifikasi…

Skandal Century 6,7 T, BLBI trilyunan, kasus Hambalang 2,5 T, Pelindo2 4,08 T, Sumber Waras Reklamasi, dll… berhenti..

Sementara yg bikin ramai adalah amplop-amplop kecil dari ucapan terima kasih swasta…pipa APBN nyaris tak tersentuh…

Inilah yang menurut saya kejahatan pemberantasan korupsi yang dikorupsi oleh imajinasi palsu…

Saya tidak mau dibohongi…
Saya tidak mau ditipu…
Meski dituduh korupsi…
Saya tidak peduli…
Saya lawan!

Ini soal kebohongan yang telah kadung menjadi kebenaran karena dipuja dan tidak pernah mendapat kritik..

Mereka bisa mempersoalkan reputasi saya…tapi mereka gagal menjawab kritik saya…

Maka saya percaya KPK baru bisa benar kalau otak lebih dominan dari otot…ini kerja demokrasi…bukan kerja otokrasi…

Kecerdasan adalah obat rezim demokrasi sementara dalam rezim otoriter yang diperlukan adalah alat pemukul…kuno!

Mari kita benahi akal budi kita…perbaiki niat kita dan jernihkan hati kita…Situasi ini mudah kita atasi…

Ayo bersama,
Lawan fiksi korupsi…
Hadapi diri sendiri dengan pikiran bersih…ini semua mudah kita atasi …

Twitter @Fahrihamzah
13/10/2017

Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here