Kopi Pagi; Apa Beda Arabica dan Robusta

0
138

Banyak yang bertanya apa beda Arabica dan Robusta. Ada yang suka Arabica dan sebaliknya tak sedikit yang bilang Robusta lebih enak. De gustibus non est disputandum. Selera tak bisa diperdebatkan.

Di dunia ini ada empat jenis kopi: Arabica, Robusta, Liberica dan Excelsa. Arabica menguasai 75 persen pasar dunia, Robusta 20 persen. Sisanya dua yang lain.

Apa bedanya? Ada 9 perbedaan, tapi ini 5 yang terpenting:

1. Bentuk.
Secara fisik dapat dibedakan (lihat foto di bawah). Arabica lebih lonjong, Robusta lebih bulat. Simak garisnya: Robusta cenderung lurus, Arabica berkelok. Jadi kalau Anda membeli kopi, Anda sudah bisa menandainya. Kalau penjualnya bilang “Arabica” tapi Anda menemukan bentuk bulat dan bergaris lurus di biji kopi, berarti dia telah berbohong atau tak tahu beda Arabica dan Robusta.

2. Lingkungan Tumbuh.
Arabica hanya bisa tumbuh di atas 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) sampai 2.000 mdpl. Lebih maksimal hasilnya di atas 1.000 mdpl. Suhu optimalnya antara 15-24 derajat Celcius. Robusta tumbuh di ketinggian 0-700 mdpl dengan suhu optimal 24-30 derajat Celcius. Jadi Anda hanya bisa menanam Robusta di pekarangan rumah, kecuali rumah Anda di gunung 🙂

3. Kafein.
Kafein Robusta 1,7-4 persen, lebih tinggi (hampir dua kali lipat) dari Arabica yang cuma 0.8-1,4 persen. Makin tinggi kafein, kopi makin pahit. Jumlah maksimum asupan kafein yang direkomendasikan Mayo Clinic sebanyak 400 mg per hari atau setara 4 cangkir kopi. Tapi filsuf Voltaire minum 30 cangkir per hari dan umurnya panjang :))

4. Rasa.
Kopi Arabica lebih kaya rasa. Sebelum disangrai, kopi Arabica berasa berry. Setelah digoreng, digiling dan kemudian diseduh, rasa yang tersembunyi bermunculan. Kadang keluar rasa pisang, nangka, jeruk, citrus, caramel dll. Kopi Robusta sebelum disangrai berasa kacang-kacangan. Setelah diseduh yang dominan rasa pahitnya (karena kafeinnya tinggi). Rasa yang lain yang mungkin mungkin muncul: nutty dan chocolaty.

5. Keasaman.
Kopi Arabica cenderung lebih asam. Karakter kopi memang menyerap rasa di sekitarnya. Kopi Bali Kintamani, misalnya, berasa asam karena ia ditanam di subkultur yang subur untuk perkebunan jeruk. Tapi asam kopi Bali Kintamani menyegarkan. Di Ethiopia yang subur untuk perkebunan teh dan anggur, kopi mereka pun terpengaruh rasa dan aroma teh dan anggur yang kuat. Dulu pernah ada peta acidity belt kopi Indonesia. Gambarannya: makin ke Barat wilayah Indonesia makin berasa asam, makin ke Timur makin pahit. Jadi kopi Gayo lebih asam, kopi Wamena lebih pahit. Tapi peta itu sudah direvisi karena berbagai varietas muncul di semua wilayah.

Kopi Robusta? Nyaris sama sekali tidak asam. Kenapa nyaris? Waktu saya mencicip kopi robusta Ulubelu Lampung beberapa hari lalu ternyata muncul sedikit rasa asam yang justru saya suka. Peta (rasa) kopi rupanya telah berubah.

Anda suka yang mana? Sekali lagi: selera tak bisa diperdebatkan. Salam kopi Nusantara.

Sumber: Kopi Kato https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=144179226239220&id=100019414301735

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here