KITA BOLEH BERDEBAT TAPI TIDAK SALING MENIADAKAN

0
83

Radarnusa.com – Biar anak-anak muda PKS tidak terseret dalam pandangan ahistoris, saya menulis sedikit soal hubungan PKS dengan dua pemikir besar yang mempengaruhi teman2 JIL (Jaringan Islam Liberal) yaitu almarhum Gus Dur (Presiden RI dan Ketum PBNU) dan Nurcholish Masjid (Pendiri PARAMADINA)

Tentu saya tidak akan menyebut banyak tokoh lain terutama dari kalangan modernis seperti Prof Amien Rais, dll menurut saya 2 tokoh itu cukup mewakili catatan sejarah bahwa perbedaan pendapat yang pernah meruncing adalah dinamika sejarah yang berharga.

Secara Fiqh, Doktrin PKS sejak awal sebetulnya tidak boleh terlibat dalam konflik mazhab.

Ini mengikuti kebanyakan ulama Ikhwan. Makanya, kader PKS harus bisa sholat di belakang NU atau Muhammadiyah, yang qunut atau tidak qunut.

Benturan dalam menanggapi perdebatan pemikiran yang berkembang dalam akhir zaman orde baru sebetulnya lebih karena mengikuti alur dari politik aliran yang ada.

Konsolidasi Orba babak akhir adalah masalah utamanya.

Tahun 1990 pak Harto menjadi “hijau royo2” lalu kelompok lama banyak yang bereaksi negatif; berdirinya ICMI yang direstui pak Harto mendapat tantangan GusDur dkk yang kemudian membentuk Forum Demokrasi.

Cak Nur sendiri berbeda pendapat dengan Gus Dur.

Kader-kader tarbiyah (cikal bakal PKS) waktu itu cenderung lebih dekat dengan kelompok Dewan Dakwah yang rupanya mendekat kepada pak Harto.

Karena itu Cak Nur pun menjadi objek serangan. Debat pembaharuan pemikiran muncul kembali dan kader menjadi “tim hore”

Tetapi setelah Orde Baru runtuh malah konfigurasi elit berubah. PK (sebelum PKS) meski mendapat hanya 1,4% tetapi dapat menjadi bagian dari dinamika elite.

Bahkan dalam pemerintahan Gus Dur-Mega, PK mendapat jatah 1 menteri. Mulailah hubungan baik dengan Gus Dur.

Dengan Gus Dur sesungguhnya perekatan terjadi saat Nurmahmudi Ismail menjadi presiden PK.

Gus Dur jatuh hati setiap mendengar ada anak NU yang bersekolah tinggi apalagi di Amerika belajar ilmu sains.

Maka NMI menjadi dekat sekali. Ia diangkat menjadi Menteri Hutbun 1999-2001.

Pergantian NMI sebagai menteri memang sedikit banyak disebabkan oleh meruncingnya peta lapangan karena konflik Gus Dur dengan parlemen.

Tetapi sejak itu, pendekatan kultural PKS ke kalangan Nahdhiyyin makin baik. Sampai sekarang.

Dengan Cak Nur sebetulnya akarnya lebih kuat. Saya ingat waktu itu menjemput Cak Nur untuk berceramah dalam Munas PK di depok.

Seluruh peserta menyambut Cak Nur dengan antusias. Cak Nur juga membesarkan hati PK, sebagai kekuatan modernis Islam yg harus tetap ada.

Cak Nur, yang dikenal dengan semboyan, “Islam Yes, Partai Islam No!” – beliau sering menjelaskan perannya bahwa ia berada di tengah dan bahwa kekuatan Islam juga wajib dipertahankan. Beliau akan membantu apabila dua roda Islam dan Nasionalis itu gak seimbang.

Jika kekuatan Islam terlalu kempes, beliau akan membantu meniup sehingga kedua roda kebangsaan itu bisa berjalan secara seimbang.

Itulah sebab kenapa saya bisa mengatakan bahwa Cak Nur berjasa membantu PKS menjadi besar terutama dalam pemilu 2004.

Presiden PKS waktu itu bapak Hidayat Nurwahid merasakan betul makna endorsement Cak Nur kepada tokoh nasional.

Presiden PKS Shohibul Iman bahkan menjadi pewaris Cak Nur sebagai Rektor Universitas PARAMADINA yang almarhum dirikan.

Ada banyak kedekatan lain yang tidak bisa saya sampaikan tetapi artikel di bawah ini cukup untuk menganggap bahwa PKS juga menerima pandangan2 “liberal” Cak Nur tanpa beban.

Ini salah satu artikel contohnya:
https://t.co/yipN6vyYzL

Maka, saya prihatin ada yang mengaku kader PKS lalu secara buta mata menyerang kelompok lain dengan motif untuk saling meniadakan.

Cara ini tidak dikenal dalam interaksi PKS dengan kelompok yang ada. Kita boleh saling berdebat tapi tidak saling meniadakan.

PKS datang untuk menjadi payung besar bangsa Indonesia agar semua orang dapat dengan aman dan tenteram bernaung dibawah bendera kebangsaan kita.

Itulah jadi diri PKS yang sebenarnya. Tidak boleh apriori dan sempit dada dengan kebebasan orang berpendapat dan berpikir.

Jika PKS akan memimpin Indonesia, maka dia gak boleh ikut-ikutan berperang atas tema yang bukan perang kita; perang yang tidak produktif bagi kebesaran bangsa kita ke depan.

Demikian sekilas “Khazanah PKS” – Kader PKS jangan ikut-ikutan memusuhi perbedaan.

Perbedaan adalah karunia yang sudah ada sejak awal dunia ini diciptakan.

Siapa yang mengingkari sesungguhnya dia telah jatuh ke wilayah hitam masa lalu peradaban. Sekian.

Twitter @Fahrihamzah 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here