Kilas Nasionalisme dan Perjuangan Pemuda PUI Bagian 3

0
193

Jakarta, Radarnusa.com – Proses pengkaderan di Pemuda PUI dilakukan secara berjenjang. Mulai dari Training Intisab I (TI I), TI II, dan TI III. TI I adalah tahapan kader pemula. Akan kita kenalkan Sejarah PUI, Pemuda PUI dan gerakan Islam Indonesia, Intisab PUI, Ishlah Tsamaniyah, Permasalahan Umat Islam Kontemporer, Urgensi Al Ishlah At Tarbiyah dan FGD. Kemudian materi TI II dan TI III sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan.

Sebagai bagian dari ormas yang ikut berjuang memerdekakan Indonesia. Pemuda PUI juga membekali kader dengan nilai-nilai Pancasila, Wawasan Kebangsaaan, NKRI dan Bhinek Tunggal Ika. Mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan global, tetapi tetap berjiwa nasionalis.

Kita juga masuk ke sekolah, pesantren dan kampus untuk mengenalkan PUI secara dalam. Dengan pendekatan serta racikan kaderisasi yang sesuai kebutuhan jaman. Mereka yang selama ini belum lebih dalam mengenal Islam. Atau yang apatis menjadi aktif. Bersama mewujudkan pembangunan umat serta bangsa melalui masyarakat yang unggul, cerdas dan bermartabat.

“Kenapa gerakan-gerakan Islam itu seperti PUI pesat di Jawa Barat?”

Pertama. Culture masyarakat Jawa Barat adalah orang orang dinamis. Lumbung pesantren dan kampus-kampus besar. Banyak tokoh, kyai dan pejuang lahir dari Jawa Barat.

Kedua. Jawa Barat dekat dengan Ibu Kota Negara. Mereka banyak punya ikatan kekuasan, politik, ekonomi dan lainnya. Oleh sebabnya, Jawa Barat mudah disatukan. Kalimat PERSATUAN UMMAT ISLAM yang menjadi jargon pemersatu umat bisa berada di tengah antara kanan dan kiri. Kedua tokoh pendiri PUI melihat umat ini harus bersatu. Dengan bersatu negara merdeka, umat kuat. Kita semua harus bersinergi. Berkarya dan membangun.

Pekan lalu dan di banyak kesempatan PUI membangun aliansi gerakan ormas Islam. Contoh di demo Rohingya bersama Walubi, Pemuda Sarikat Islam, JPRMI, Ikadi, Al Washliyah, Al Ittihad Al-Islamiyyah, Hidayatullah, Persis, Mathlaul Anwar, Muhammadiyah dan organisasi lainnya.

“Bagaimana cara bergabung dengan Pemuda PUI, seperti apa bentuknya?”

Untuk menjadi penggerak dan aktivis Pemuda PUI sangat mudah sekali. Tidak harus dari lembaga pendidikan PUI. Dalam waktu dekat PB Pemudi PUI sebagai lembaga semi otonom akan mengadakan TI I di Jabodetabek.

Selain itu silahkan gabung ke pengajian pengajian PUI, pondok pesantren PUI. Kalau di Sukabumi itu ada kitab wajib, yaitu Roudlotul Irfan yang dikarang KH. Ahmad Sanusi.

Kita juga konsen dalam aksi sosial dan kebencanaan. Kita kirim sukarelawan ke Aceh, Jawa Tengah, Kuningan dan Sukabumi. Dan itulah kenapa jadi aktivis PUI itu sangat dinamis.

Dalam jejaring internasional kita punya jaringannya. Kang Iman Budiman, Sekjen DPP PUI didaulat sebagai Presiden ASIAN FEDERATION OF MOSLEM YOUTH (AFMY), Kang Yogi Agus Salim Ketua III Pemuda PUI sebagai Presiden ASEAN YOUNG LEADERS FORUM (AYLF) Indonesia

Kran jejaring telah kita buka. Tinggal bagaimana kapasitas kita dimulai, diasah. Karenanya kita dorong kuliah aktivis Pemuda PUI harus tuntas. Nilai IP tidak pas pasan. Sebab kita punya tanggung jawab sosial, moral dan agama. KH. Ahmad Sanusi memberi teladan dengan menulis 125 kitab.

Wallahu ‘alam bishowaab
Kana Kurniawan
(Sekjen PP Pemuda PUI, Penerima Beasiswa S-3 Nuffic)

Tsurayya Zahra 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here