Kilas Nasionalisme dan Perjuangan Pemuda PUI Bagian 2

0
146

Jakarta, Radarnusa.com – Bicara sejarah kelembagaan Pemuda PUI secara khusus. Pemuda PUI sudah ada pada 21 Desember 1917 dengan nama Madjlis Pemuda. Tetapi secara otonomi dan progres keorganisasian dikukuhkan kembali pada 5 Desember 1964/30 Rajab 1384 oleh PB PUI dalam muktamar PUI ke-IV (1964). Situasi di mana sedang gencarnya persekusi yang dilakukan PKI terhadap kyai, santri dan tokoh masyarakat sebelum G30S PKI terjadi.

Kalau kita lihat dalam banyak literatur sejarah pergerakan Islam di Indonesia. PUI adalah ormas terbesar di Jawa Barat dan ketiga di Indonesia. Kita punya 2500 lembaga sekolah, pesantren dan perguruan tinggi yang tersebar di Jawa Barat. Organisasi ini sangat pesat perkembangannya. Dalam catatan saya, ketiga tokoh ini menggerakkan masyarakat. Mereka masuk ke kantong-kantong umat. Masuk ke pasar, pabrik, para petani.

Para aktivis PUI ini adalah para santri yang telah dibimbing oleh kedua tokoh (KH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim). Mereka harus kembali lagi ke kampung, ke gunung lagi. Untuk menggerakkan masyarakat dan membangun bangsa. Bisa dilihat ada sekolah/pesantren PUI di bukit yang masih eksis hingga sekarang. Secars sukarela mereka berjuang. Lembaga ini banyak melahirkan banyak tokoh, seperti KH. Ahmad Heryawan (Gub. Jawa Barat) dan banyak yang lainnya.

“Sekarang ada Jambore dari Pelajar PUI se Jawa Barat. Seperti apa kegiatannya?”

[Pelajar adalah tulang punggung umat dan bangsa]

Pertama, keinginan kita bahwa pelajar dan pemuda ini harus jadi penggerak dan lokomotif. Dan tentu kita punya sumber daya. Ada sekolah. Mereka juga pelajar unggulan. Banyak yang ikut olimpiade. Memenangkan berbagai kompetisi ilmiah. Dan tentunya dari jambore pelajar ini, mereka adalah generasi unggulan. Ke depan mereka jadi tulang punggung negara dan umat ini.

Kehadiran mereka yang 1600 peserta mampu menjadi pelajar-pelajar yang diharapkan di sekolahnya mampu menangkal virus virus negatif. Misalnya sekarang kalangan anak muda diserang hedonisme, narkoba, pornografi. Kita prihatin fenomena global seperti ini. Kita kasihan jika generasi ini tidak diselamatkan. Tidak dibekali dengan nilai-nilai yang mampu mengimbangi serangan-serangan itu. Maka tentunya, kita berharap pelajar ini adalah generasi milenial. Mereka harapan kita bersama. Kita tidak terlalu banyak berharap kepada generasi tua.

Nah, orang-orang yang hidup di era ini adalah mereka yang cukup mampu membuat jejaring yang sangat luas sekali. Dan kita sulit menemukan pelajar yang tidak memiliki akun media sosial. Mereka berinteraksi dengan orang luar;antar negara; antar pulau.

Nah, kalau konten-konten dan narasi, ide yang mereka kembangkan. Mereka sebarkan. Itu ide ide brilian yang cukup bisa menggerakkan. Dan itu sebagai virus kebaikan. Maka di seluruh provinsi akan banyak manusia-manusia yang luar biasa. Mereka akan menjadi lawyer, dosen, guru, pengusaha dan lain lain. Dan memiliki kapasitas yang sangat brilian.

“Bagaimana syaratnya untuk bisa masuk ke Pemuda PUI seperti sosok Gubernur Ahmad Heryawan? Bagaimana caranya?”

Sangat mudah sekali. Organisasi kita sebagai organisasi yang sangat terbuka dengan siapa pun. Pertama harus sefemahaman,  sefikroh dengan kita. Dan tentunya tidak bertentangan dengan akidah ahlus sunnah wal jamaah. Sudah ada PW Pemuda PUI Papua. Bahkan ada kawan dari Aceh, minta untuk segera membuka PW Pemuda PUI Aceh. Hingga sekarang sudah ada 18 Provinsi. Kita sudah di terima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Silahkan yang ingin membangun bangsa ini. Bergabung bersama kami. Bisa menghubungi sekretariat PP Pemuda PUI.

Catatan Talk Show di Radio Dakta, Bekasi Oleh: Kana Kurniawan (Sekjen PP Pemuda PUI)

Tsurayya Zahra

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here