Kilas Nasionalisme dan Perjuangan Pemuda PUI Bagian 1

0
205

Jakarta, Radarnusa.com –  Hari-hari ini adalah hari yang membanggakan. Menggembirakan bagi semua jamaah PUI. Secara khusus, bagi Pemuda PUI adalah membawa organisasi ini selalu ada terdepan, setia dan tangguh. Slogan untuk kejayaan umat dan bangsa.

Empat hari sebelumnya saya di hubungi kang Azam, Raizal Arifin (Ketua Umum PP Pemuda PUI) untuk mengisi acara Talk Show di Radio Dakta, Bekasi. Semula saya menolak. Bukan kapasitas saya bicara. Selagi ada ketua, saya tidak mau.

Esoknya (Kamis, 21/9/2017) saya dihubungi kang Rusli Mauludin (Wasekjen I), saya diminta untuk ngisi di TalkShow. Saya iyakan. Insya Allah saya bisa. Tadinya pun saya sarankan Ketua PB Himpunan Pelajar, Kang Falahudin As-Safari.

Pagi hari, Ahad (24/9/2017) saya berangkat ke Jambore Pelajar se-Jawa Barat. Bersama isteri dan anak-anak. Mereka begitu senang. Bersorak gembira. Hanya sebentar sebab harus ke Dakta.

Saya pamitan ke kang Asep Jazuli (Ketua Umum PW Pemuda PUI Jabar), kang Yasir selaku Sekumnya dan rekan-rekan panitia lain. Sebelumnya kang Yogi Agus Salim (Ketua III Pemuda PUI) menelpon ngajak saya berangkat ke Lampung. Saya katakan tidak bisa sebab harus ke Dakta.

Sampai Dakta pukul 14.30 saya disambut semilir angin dari pohon rindang. Udara sejuk dari stasiun yang sudah 25 tahun berdiri. Usia yang cukup matang bagi sebuah radio di kota Metropolitan.

Saya masuk dan pamit ke pihak penerima tamu. Saya wakil dari Pemuda PUI yang diundang untuk ngisi Talk Show. Pria tinggi paruh baya ini mempersilahkan dan bincang sejenak.

Tepat pukul 15.00 saya dipersilahkan masuk oleh mb Tyas, pemandu acara. Di ruang siaran sudah ada satu kru. Saya masuk bersama Kamaludin dan anak saya si sulung. Ia mengamati penuh tanya serta kesiapan menyimak.

 

Berikut perbincangan saya bersama Mbak Tyas dalam Talkshow itu.

 

“Assalamualaikum Wr. Wb. Apa kabarnya? Dari mana nih kang berangkatnya?”

Saya dari bumi perkemahan Cimandala, Bogor. Kita (PUI) mengadakan Jambore Pelajar PUI se-Jawa Barat. Pekan lalu Pengembangan Wilayah PP Pemuda PUI hari ini juga ada yang ke Lampung, Sumatera. Kemarin juga ke Pontianak.

Jadi dalam hal ini bagaimana Pemuda PUI mampu mencitrakan sebagai organisasi kepemudaan. Kita ingin bahwa negara ini harus bangkit. Umat ini harus maju. Tentu ditentukan oleh kiprah kita ini.

“Apa itu Pemuda PUI ini?”

Dilihat dari sejarahnya, tahun 1911 PUI sudah berdiri. KH. Abdul Halim mendirikan I’anatut Tholibin di Majalengka, lalu jadi Hayatul Qulub. Atas bantuan HOS Tjokroaminoto, bermetamorfosis jadi Syirkatul Islam lalu Persjarilatan Oelama (PO) pada 21 Desember 1917. Tahun ini juga PO mendirikan Madjlis Pemuda. Guna melawan pemberontakan PKI 18 Juni 1926, Persatuan Pemuda Pesjarikatan Oelama Indonesia mendirikan Hizbul Islam Padvinders Organisatie.

Kemudian di Sukabumi KH. Ahmad Sanusi mendirikan Barisan Al Ittihadiyah Islamiyah (BAII) pada November 1931– Al Ittihadiyatul Islamiyah (AII/PUII). Darinya lahir banyak para ulama dan pendekar bangsa. Ada Ajengan Khoer Apandi, pendiri ponpes Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya; ajengan Soleh Iskandar, tokoh militer, pendiri UIKA Bogor. Namanya diabadikan jadi nama jalan di Bogor dan lain lain.

Kemudian satu tokoh penting lain dari AII/PUII yaitu Mr. Syamsudin. Beliau adalah menteri penerangan dan PM wakil dari Masyumi era Amir Syarifudin II. Beliau pemrakarsa berdirinya BKR/TNI di Sukabumi.

Dedikasi mereka bertiga tidak diragukan lagi.Mereka adalah anggota BUPKI yang ikut membantu perjuangan Indonesia merdeka. Ide-ide nasionalismenya tentang negara ikut melahirkan rumusan falsafah negara wakil dari tokoh Masyumi, dan PUI. Sebab dedikasinya, KH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Pada 5 April 1952, PUI dan PUII berfusi di Bogor. Demi memperkuat kekuatan persatuan umat, kedua lembaga secara resmi bersatu. Melebur. Meskipun intensitas persahabatan tokoh tokohnya sudah lama terjalin. Mereka pun adalah kawan dari Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir. Tentu sang Raja Tanpa Mahkota, HOS. Tjokroaminoto punya peran penting PUI jadi lokomotif pergerakan Islam di Jawa Barat.

Catatan Talk Show di Radio Dakta, Bekasi Oleh: Kana Kurniawan (Sekjen PP Pemuda PUI)

Tsurayya Zahra 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here