KAOS OBLONG

0
126

Kaos oblong tiba-tiba populer. Bukan hanya sampai ke ruang obrolan anak nongkrong atau kaum millenial melek digital, atau pelaku bisnis UKM dan start up, akibat pendiri Facebook terbiasa dengan “pakaian resmi” berupa kaos oblong. Obrolan kini menyeruak ke ruang publik dan jadi bahan perbincangan politik, tak lain karena presiden Jokowi memakai kaos oblong di sebuah acara resmi kenegaraan peresmian kereta cepat Bandara.

Semua yang hadir dalam acara tersebut menggunakan pakaian resmi berupa batik yang sepertinya jadi dress code acara tersebut, kecuali Jokowi yang lain sendiri dengan kaos oblong. Maka sontak jagad publik ramai membicarakan orang nomor satu di republik ini. Ada apa dengan Jokowi? Layakkah pakaian kaos oblong dipakai di acara resmi negara? Apa pesan yang ingin disampaikan?

Perdebatan layak tidaknya kaos oblong dipakai di acara resmi sudah pasti tidak layak. Tapi di dunia maya yang bising dengan berjuta argumentasi dan ruang ekspresi bahkan pemberontakan, kaos oblong dipakai Jokowi itu sah-sah saja dan tidak melanggar etika bahkan dianggap keren, unik dan beda. Sebagian melihatnya salah kostum, konyol dan tampak culun. Ya, Jokowi dan konsultannya sudah pasti mempunyai pertimbangan dengan segala kontroversi atas pilihan kostumnya pada hari itu.

Beberapa analisa patut menjadi perhatian mengapa Jokowi membuat kehebohan dengan kaos oblongnya itu. Sebelumnya perilaku nyentrik dilakukan Jokowi dengan memakai sandal jepit, berpose tahun baru memakai sarung, vlog kelahiran kambing, adu panco dengan anak dan berbagai aktivitas yang terlihat ‘konyol’ dipertontonkan.

Pertama, tampil beda dari kebanyakan perilaku di lapisan kelasnya. Dalam perilaku elit yang didominasi formalistik, keramahtamahan, kesantunan komunikasi dan kepatutan berpakaian, Jokowi menerobos kebiasaan itu. Keinginan tampil beda dilakukan karena beratnya beban presiden yang belum menemukan solusi sehingga membutuhkan pelampiasan.

Sepertiseorang remaja yang pas dengan rambut model terbarunya tiba-tiba bercukur gundul karena ada beban berat yang dia hadapi tapi teman-temannya tak peduli. Bercukur gundul dilakukan untuk melampiaskan masalahnya sekaligus menginginkan efek WAW dari teman-temannya.

Boleh jadi kehebohan sandal jepit dan kaos oblong demi mendapatkan efek WOW kembali dari publik yang dianggap mulai tidak perhatian lagi pada Jokowi. Sekaligus semacam pelampiasan dari berbagai masalah rumit yang dihadapi sebagai presiden yang tidak mendapatkan apresiasi semestinya dari para pembantunya dan publik. Jokowi merasa sudah melakukan segalanya, dihadiahi survei elektabilitas yang hasilnya masih mengecewakan.

Kedua, strategi personal branding, menonjolkan diri dengan cara yang unik. Jokowi dan konsultannya semakin menyadari perlunya tampilan yang paling menarik perhatian di setiap panggung, bahkan ke batas paling ekstrim sekalipun demi mendapatkan perhatian lebih dari publik. Waktu yang tersisa sebelum pilpres 2019 semakin pendek dan posisi elektabilitas Jokowi belum aman sebagai petahana dari hasil berbagai survei.

Menonjolkan diri dengan cara unik dengan kostum kaos oblong ini sekaligus strategi menggaet pemilih milenial yang kebanyakan menyukai tampilan non formal dan apa adanya. Konsultan Jokowi punya banyak pilihan kostum untuk tampil unik di hari tersebut tapi memilih kaos oblong karena efek elektoral yang mungkin bisa diraih.

Ketiga, mengembalikan kesan merakyat. Kaos oblong adalah pakaian paling umum dan praktis, paling banyak digunakan oleh masyarakat terutama kelas menengah ke bawah. Kaos oblong mewakili masyarakat bawah, egaliter, dan anti kemapanan. Jokowi menangkapnya sebagai peluang dan harus ditampilkan secara ekstrim di panggung besar yang diliput semua media, ya panggung kenegaraan.

Kecerdasan konsultan Jokowi menciptakan kesan yang tetap merakyat pada sosok Jokowi selama ini patut diapresiasi. Betapapun banyak isu miring menerpanya,  Jokowi tak bergeser dari posisi naturalnya. Kesan merakyat dan terlihat paling sederhana di lapisan elit. Perilaku ekstrim dengan memakai sandal jepit dan kaos oblong memang pilihan sulit namun ‘tepat’ karena langsung menjadi hits dan obrolan publik. Jokowi akan terus memainkan peran ini karena selain efektif, juga karena Jokowi kesulitan memainkan model pencitraan yang lain. Namun akan semakin rumit jika publik makin sadar bahwa hal itu upaya citra semu belaka.

Perang citra bagi capres 2019 akan terus berlangsung dan yang paling lihai bermain peran itulah yang akan dipilih publik sebelum masuk ke kotak suara. Habitat dan posisi natural ‘sang aktor’ calon pemimpin bangsa akan menentukan diterima atau tidak cara mereka berkampanye. Siapa yang asli dan natural akan bertahan dan siapa yang palsu dan menipu akan segera hilang tergerus.

Taufik AM (Progress Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here