Jelang Mukernas Alumni KAMMI: Fahri Hamzah Layak Jadi Capres

0
171

Radarnusa.com – Tahun 2019 sebentar lagi tiba. Tahun kontestasi politik negeri ini jadi ajang pertaruhan nasib bangsa lima tahun sesudahnya. Partai-partai berlomba berkompetisi. Menawarkan gagasan dan idenya untuk Indonesia. Menawarkan program program kuncinya agar hati rakyat tertambat dibuatnya.

Begitupun calon-calon pemimpin; presiden dan wakil presiden. Mulai juga muncul di banyak media. Menuliskan narasi tentang Indonesia dan perlunya kepemimpinan baru. Tapi rerata dalam rangka agar dipinang Jokowi untuk jadi Cawapresnya. Para penantang Jokowi masih malu-malu. Hanya beberapa yang berani dan terbuka.

Dari beberapa yang terbuka itu, saya melihat Fahri Hamzah yang menonjol. Tokoh muda Islam ini layak kita pertimbangkan untuk menjadi pemimpin negeri ini. Beberapa pertimbangannya adalah; pertama, Fahri Hamzah adalah sedikit dari pemimpin kita yang memiliki visi global. Pemimpin dengan visi global adalah pemimpin yang kita butuhkan saat ini.

Kenapa?. Pertama, karena memang sekat antar bangsa sudah memudar, sehingga interaksi antar berbagai tempat dunia sudah sedemikian intens. Dibutuhkan pemimpin yang mampu berbicara dengan banyak pemimpin dunia lainnya untuk menyelesaikan problem dunia yang terus hadir.

Kedua, dalam dunia yang serba tak terbatas ini, kompetisi ekonomi politik antar berbagai kekuatan dan blok yang dibangun sekarang ini sangat terasa sekali dampaknya di seluruh negara. Termasuk di negara kita. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu berkomunikasi dengan seluruh kekuatan dunia, tapi juga bekerjasama dalam visi damai untuk kesejahteraan negeri kita dan bumi beratus tahun lamanya.

Dan ketiga, sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, Indonesia harusnya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan problem kemanusiaan dan peradaban umat manusia di belahan dunia yang lain. Yang hari ini, faktanya, negara-negara Islam sedang menjadi medan pertarungan sebagai efek lanjut perebutan sumberdaya, energi, perdagangan senjata dan moderasi geopolitik kawasan.

Dan saya melihat Fahri Hamzah adalah pemimpin Indonesia yang sudah mampu merintis percakapan dengan dunia, menjelaskan siapa sebenarnya Indonesia, apa itu Islam dan bagaimana visi bangsa ini ditengah seluruh perubahan dunia yang sedang terjadi.

Perjalanan Fahri Hamzah ke Iraq, menjamu Raja Salman di DPR, bertemu dengan pemimpin Turki dan Eropa, berbicara ditengah organisasi parlemen dunia, bertemu dan menjalin persahabatan yang sangat erat dengan beberapa pemimpin negara tetangga, adalah sedikit dari langkah Fahri Hamzah mewakili wajah Indonesia, sedikit dari gambaran tentang bagaimana Fahri Hamzah diterima oleh komunitas global, karena kepemimpinan dan kharismanya; sesuatu seharusnya itu dilakukan atau dimiliki oleh Presiden kita.

Alasan kedua kenapa Fahri Hamzah merupakan tokoh yang layak untuk memimpin negeri ini, adalah karena ia adalah sedikit dari banyak tokoh sekarang ini yang merupakan penggerak Reformasi 98. Jejak digital aktivisme Fahri Hamzah dalam gelombang protes dan perlawanan mahasiswa bersama kelompok sipil dalam gerakan Reformasi 98 masih ada. Bagaimana ia bersama kawan-kawan aktivis kampus dari seluruh kampus di Indonesia mendirikan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

Bagaimana ia menggalang mahasiswa untuk turun ke luar kampus di Masjid Al-Azhar, satu-satunya aksi mahasiswa yang pertamakali menampakkan wajahnya didepan publik, ketika yang lainnya masih melancarkan protes dari dalam kampus. Aksi inilah yang meletupkan keberanian di seluruh aktivis dari berbagai ideologi dan jaringan untuk turun ke jalan. Fahri Hamzah juga tercatat sebagai tokoh utama gerakan Reformasi 98 yang membersamai Amin Rais menggalan kekuatan massa untuk menyerukan agar Soeharto turun, bersama beberapa Ketua Senat se-Jabotabek.

Tapi catatan Reformasi 98 tidak sesederhana itu.

Dalam masa-masa gelap otoritarianisme Orde Baru, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil yang kritis memang dihadapkan pada dua hal; pertama, bagaimana koreksi atas kesalahan Orde Baru membawa Indonesia ini bisa dilakukan. Kedua, bagaimana koreksi tidak ditanggapi dengan reaksi pukulan balik berupa kekerasan, penindasan dan penghilangan paksa aktivis.

Ketiga, bagaimana seluruh elemen bangsa kemudian beriring bersama dalam satu kesimpulan bahwa Indonesia harus melakukan transisi kepemimpinan. Keempat, bagaimana menjaga transisi itu berjalan damai. Dan yang kelima, bagaimana agar transisi yang dicitakan bersama seluruh bangsa ini bisa terwujud, dan bangsa ini tidak terombang-ambing dalam perjalanannya.

Dua hal terakhir terkait reformasi dan transisi di Indonesia masih terus berlangsung. Rupanya, visi reformasi sebagai alas narasi perjalanan bangsa ini sejak 1998 menjadi tidak lagi kokoh sebagai pijakan. Sebagian dilupakan. Dan yang kedua, peralihan dari otoritarianisme menuju demokrasi sepenuhnya, tidak berjalan mulus.

Terlalu banyak pembonceng gelap dan kepentingan lain yang masuk dalam perjalanan bangsa kita. Hukum tidak ditegakkan, kedaulatan bangsa mengeropos, ekonomi tak kunjung membaik, kekuatan modal ugal-ugalan menyandera banyak kepentingan di negeri ini, kebebasan sipil sebagai syarat utama demokrasi nampak dicerabut dan kini kita berada di tubir ketidakpastian.

Bangsa ini perlu orang yang memahami perjalanan sejarah bangsanya. Orang yang menjadi pelaku dari seluruh perubahan yang terjadi. Setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Mampu merumuskan berbagai hal agar transisi selesai. Mampu membawa bangsa ini terbang tinggi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dan itu ada pada diri Fahri Hamzah.

Apa alasan ketiga, sehingga kita berkesimpulan bahwa Fahri Hamzah layak menjadi Presiden RI di 2019 nanti ?.

By. Bambang Prayitno

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here