Hari Pahlawan, Sumpah Pemuda, dan 30 S PKI

0
369

Oleh: Erizal 

10 November Hari Pahlawan. Sebelumnya, Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Mestinya, semua pemuda yang terlibat dalam Kongres Pemuda Kedua, 27-28 Oktober 1928 itu, dinobatkan sebagai pahlawan. Apakah ada yang belum? Entahlah. Hanya Mohammad Yamin yang mencuat.

Ada, Soegondo Jojopoespito, Soenario Sastrawardoyo, Wage Rudolf Soepratman, Djoko Marsaid, Amir Syarifudin, Sarmidi Mangoensarkoro, Sie Kong Liong, Johan Mohammad Cai, R. Katjasoengkana, R.C.I. Sendoek, Johannes Leimena, Mohammad Rochjani Su’ud, dan lain-lain.

Sumpah Pemuda, adalah hari lahirnya Bangsa Indonesia. Pemuda yang menyatukan tanah air, bangsa, dan bahasa. Menjadi identitas baru keindonesiaan. Identitas yang terpecah kecil-kecil menyatu menjadi identitas baru yang besar. Tak tanggung-tanggung jasa para pemuda itu, bukan?

Sebelumnya lagi, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober. Tokoh sentralnya adalah Soeharto. Hingga saat ini masih ada kontroversi sejarah. Apakah Soeharto layak dianugrahi gelar pahlawan? Banyak yang menolak. Terutama yang merasakan kekejaman rezim Soeharto. Berkuasa 32 tahun.

Rentetan sejarah ini begitu manis. Beda tahun, tapi tersusun rapi. Sehingga peringatannya mudah disambungkan. Apalagi ditarik satu lagi, Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Dalam satu sesi kuliah umum, Taufik Abdullah mengatakan sejarah itu diskursus pemikiran bukan rentetan tahun.

Mestinya, pihak-pihak yang mengajak nonton bareng film, “G 30 S PKI” yang disutradari oleh Arifin C Noer itu ialah pihak-pihak yang terdepan mendorong gelar pahlawan buat Soeharto. Sebab, dalam film itu, amat jelas posisi Soeharto sebagai pahlawan. Dialah penyelamat Pancasila.

Tafsir Pancasila tak pernah tunggal. DN Aidit sendiri punya tafsir Pancasila sendiri. PDIP menganggap Pancasila, seperti dipidatokan Bung Karno, tanggal 1 Juni. Umat Islam mengartikan Pancasila seperti Piagam Jakarta, lalu dihapus 7 kata. Soeharto, penyelamat Pancasila yang mana?

Berharap ke PDIP untuk mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan? Itu bak berharap sisik ke limbek (ikan lele). Dan memang PDIP tak pernah menganjurkan menonton film “G 30 S PKI” yang disutradari oleh Arifin C Noer itu. Film itu terlanjur dicap settingan rezim Soeharto. Malah, lebih jauh dari itu, film itu dibuat di bawah penjagaan ketat aparat dan di bawah todongan senjata.

Meski sudah dibantah oleh Jajang C Noer (istri alm Arifin C Noer), tapi tuduhan itu tetap menyebar. Arifin C Noer betul-betul diberi kebebasan dalam menggarap film itu. Kalau akhirnya film itu dijadikan alat propaganda, itu di luar kuasanya. Film itu digarap dengan riset yang serius.

Tapi, apa perlunya lagi membahas film itu sekarang? Panglima Gatot yang menganjurkan menonton film itu, pada hari H, justru sedang asyik menonton wayang. Presiden Jokowi yang tak melarang dan tak menganjurkan menonton film itu malah memilih nonton bareng di istana Bogor.

Malah Presiden Jokowi nonton bareng dengan mengenakan jaket merah. Ini tafsirnya bisa macam-macam lagi. Politik simbol ini tafsirnya banyak. Tapi, tak ada yang betul-betul tepat, dan tak ada pula yang betul-betul salah. Anjuran Presiden Jokowi agar ada film G 30 S versi milenial, entah terwujud, entah tidak? Jika versi meme, sudah ada beberapa saat usai Presiden mengatakan.

PAN, PKS, dan Golkar jelas menganjurkan menonton film “G 30 S PKI” itu. Golkar usah disebut lagi, pastilah setuju dengan penganugrahan Soeharto sebagai pahlawan. Bagi Golkar, jasa dan dosa Soeharto kalau ditimbang-timbang, akan lebih berat jasa daripada dosanya. Subjektiflah.

PAN rasanya berat mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan, walau ikut serta mendorong menonton film, “G 30 S PKI”. Tembaknya lain lagi. Ke-PKI-nya, bukan kepahlawanan Soeharto. Atau, ke partai yang rada-rada dekat dengan ke-PKI-an. Partai apa? Biar saluang yang bernyanyi.

PAN didirikan oleh Amien Rais, Tokoh Reformasi, setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan itu, juga melawan arus, malah melawan citra. Melawan citra ini bagi partai, dianggap layaknya gantung diri. Hampir tak ada partai yang mau melakukan.

PKS, seperti pernah mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan. Gambar-gambar pahlawan, disusun dalam sebuah iklan politik. Dan PKS tidak main-main mengakui kepahlawanan Soeharto, meski syarat kontroversi. Tapi belakangan, tampak merevisi kembali. Apakah itu juga demi citra?

Itulah, nasib kepahlawanan Soeharto. Sekadar dalam film. Itupun, digoreng secara politik. Begitu heroik mengadakan nonton barang film G 30 S PKI, malah di Lubang Buaya segala. Tapi, tak mengakui kepahlawanan Soeharto. Ironis betul. Sejarah tak dibaca secara lurus dan konsisten, tapi berbelok-belok. Di Jawa Barat, PKS-PDIP hendak berkoalisi. PKS kapan lagi nonton bareng film G 30 S PKI? Ajak PDIP, ya.

Erizal adalah kolumnis tetap di beberapa media dan aktivis pergerakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here