Gagal Menemukan Identitas; Saya Pancasila

0
346

Kita membaca diberbagai lini media massa, khususnya di sosial media. Sekelompok orang yang mengastanamakan dirinya tergabung dalam salah satu ormas yang cinta pancasila, tapi telah dikabarkan membuat keributan terhadap bangsa. Karena mereka melakukan tindakan yang melanggar hukum dan ditentang oleh banyak kalangan, yakni membubarkan pengajian salah seorang ustad. Berbagai kalangan turut bersuara terkait hal ini, termasuk para pakar hukum dan juga rakyat biasa. Bahwa tindakan mereka bertentangan dengan hukum, memicu konflik nasional, dan merusak citra islam.

Tapi walaupun begitu, kelompok yang akhir-akhir ini terstempel memiliki riwayat sebagai tukang rusuh ini, ternyata mereka juga memiliki identitas yang mulia. Bahwa mereka melakukan tindakan-tindakan tersebut karena semangat untuk menjaga NKRI agar tetap utuh, tanpa rongrongan dari ideologi-ideologi yang bertentangan dengan pancasila. Saya cukup tertegun dengan alasan itu, dan sulit bagi saya untuk tidak mengatakan bahwa alasan mereka adalah alasan yang baik. Mereka sangat nasionalis, juga sangat pancasialis, jika tolak ukurnya adalah menjaga keutuhan NKRI.

Kasus ini persis dengan kasus sekelompok orang yang melakukan bom bunuh diri di Bali, Marriot dan beberapa tempat lain yang ada di Indonesia. Hampir semua hasil investigasi, melaporkan bahwa pelaku pengeboman tersebut adalah sekelompok orang islam yang kemudian mereka di sebut sebagai teroris. Orang-orang islam yang disebut teroris itu, seperti kelompok Amrozi yang melakukan bom bali, jika dipelajari mereka sebenarnya memiliki identitas yang mulia. Yakni ingin melawan dominasi Negara kafir Amerika dan menghancurkan orang-orang yang memusuhi Islam. Jika diukur pada motif itu, tentu sulit bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa niat mereka adalah niat yang mulia. Hanya saja, cara mereka dalam menafsirkan ayat-ayat jihad dan cara melakukan jihadnya, yang pada akhirnya disalahkan oleh banyak kalangan. Dan akhirnya mereka pun dipersalahkan secara hukum dan kemudian digelari sebagai kelompok teroris.

Begitu juga dengan kasus orang-orang Yahudi yang menjajah orang-orang palestina. Mereka membunuh anak-anak, membunuh kaum wanita, memperkosa wanita palestina dan juga membunuh orang-orang tua. Secara nalar kemanusiaan dan juga agama, mereka jelas salah. Tapi jika kita lihat secara identitas yang melandasi gerakan mereka, bisa kita katakan cukup mulia juga. Yakni mereka ingin membangun sebuah Negara, dan menyelamatkan populasi mereka. Identitas seperti itu, siapa yang bisa mengatakannya sebagai identitas yang jelek? Semua pasti sepakat bahwa identitas itu mulia. Hanya saja, cara dan tindakan mereka yang salah. Biadab, seperti binatang, seperti jancuk jaran kalau kata Gus Nur, sehingga akhirnya dunia pun mengutuk mereka dan banyak orang ingin memberangus Yahudi dari muka bumi.

Lalu kasus seperti ini juga mirip dengan kasus orang-orang LGBT. Mereka bercumbu sesama jenis, bahkan di Negara-negara luar sana, ada yang memberikan pelegalan sehingga mereka bisa menikah sesama jenis. Kalau ditelisik pada identitas yang mereka usung, sebenarnya sangat mulia. Yakni mereka berbuat demi cinta, mereka demontrasi demi cinta, dan mereka mau bercumbu sesama jenis juga karena cinta. Siapa yang sanggup menyalahkan identitas seperti itu? Semua kita tentu sepakat bahwa cinta itu mulia. Bahwa cinta itu indah dan cinta itu dibutuhkan oleh setiap jiwa. Hanya saja, ekpresi mereka dalam perkara cinta yang tidak tepat. Mereka mengabaikan norma-norma agama dan kemanusiaan. Sehingga mereka pun bertindak buruk bahkan jauh lebih buruk dari pada binatang.

Sebenarnya saya ingin membuat tulisan ini dengan panjang lebar, tapi baru sampai pada kasus LGBT itu, saya sudah tidak tahan. Perut saya mual dan pengen muntah-muntah rasanya. Memang setiap hal yang menampakkan kegagalan memahami identitasnya, selalu tak pernah enak dilihat, memuakkan dan bikin perut saya mual-mual.

Jakarta, 07 November 2017

Oleh : Setiyono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here