Fahri Hamzah; Patriotisme dan Kesalehan

0
334

Oleh. Yanuardi Syukur

Gerak jejak politisi Fahri Hamzah sejak mahasiswa hingga menjadi wakil ketua DPR RI tidak terlepas dari dua kata: patriotisme dan kesalehan.

Lewat berbagai aktivitasnya, Fahri hendak menunjukkan kepada bangsa Indonesia dan dunia tentang pentingnya menjadi pribadi yang cinta pada tanah air dan rela berkorban untuk kepentingan orang banyak.

Selain itu, nuansa kesalehan tak pernah dilepaskan Fahri dalam berbagai tulisannya. Kebiasannya untuk membawa nama Tuhan menjadi tanda bahwa gerak langkahnya tak ingin terlepas atas nama pengabdian kepada Tuhan. Singkat kata, apapun yang kita lakukan, haruslah diniatkan sebagai jalan pengabdian kepada Tuhan.

Fahri Hamzah adalah fenomena. Di antara sekian banyak politisi yang berani bersuara, Fahri berani mengutakan maksudnya, maunya. Dia terbuka, dan semua orang dapat melihat serta mengeritiknya mulai dari yang paling pedas sampai yang lembut. Ia dipuja, tapi tak jarang dicerca.

Mungkin, begitulah gerak sejarah tokoh bangsa. Bung Karno misalnya, dalam buku Cindy Adams (2014: 4) “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, mengatakan, “Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja seperti dewa.” Ini menjadi bukti bahwa, apapun yang dilakukan seorang tokoh selalu tak ada yang terima sepenuhnya. Pro dan kontra selalu ada, puji dan cerca tak pernah habis, apalagi di zaman now yang sangat memudahkan orang untuk berkata-kata di media sosial.

Apa yang dilakukan Fahri Hamzah dengan Pawai Kebangsaan yang dimulai dari Sabang adalah bentuk dari kepedulian sekaligus kecintaannya pada bangsa Indonesia. Dia terlahir dari wilayah periferi (pinggiran) yang kemudian bergerak maju ke wilayah pusat (ibukota). Pengalamannya sebagai “orang daerah” menyadarkannya bahwa Indonesia ini bukan cuma Jakarta dan Jawa, tapi Indonesia ini kesatuan dari sekian banyak etnis, latar belakang, dan preferensi yang harus disatukan bersama-sama.

Pawai Kebangsaan hendak mengajarkan kepada kita bahwa kendati preferensi politik tiap orang bisa berbeda, akan tetapi “kesadaran sejarah” kita sebagai anak dari kepulauan Nusantara yang telah menyatu dari bangunan bernama Indonesia ini haruslah dijaga, dirawat, dan dikembangkan bersama-sama. Kita bisa berbeda dalam pikiran, akan tetapi kita tetap harus bersatu dalam hati.

Bisa jadi, apa yang dilakukan Fahri lewat Pawai Kebangsaan itu dianggap bagian dari politik. Itu tentu saja tidak salah, karena langkah-langkah politisi selalu tak lepas dari politik, dan politik tidak terlepas dari kekuasaan, atau apa yang disebut dalam literatur ilmu politik sebagai “siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana.” Akan tetapi, langkah-langkah politik itu diperlukan sebagai pertanggungjawaban untuk bangsa ini.

Sebagai pribadi, kita berharap Fahri Hamzah dapat terus menjaga semangatnya untuk berjuang dan berbuat buat Indonesia. Manusia bisa berubah, akan tetapi lewat pengabdian yang tulus kepada Allah, semogalah Allah menunjukkan jalan-jalan terbaik untuk Fahri Hamzah.

Dalam beberapa kesempatan, saya menangkap semangatnya untuk terus berbuat untuk Indonesia. Ketaatannya pada hukum sangatlah penting dan inspiratif bagi pejabat negara. Tentu saja tidak ada yang betul-betul sempurna, akan tetapi Fahri Hamzah telah berusaha dan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik lewat peran-peran strategis yang dapat ia lakukan.

Hal yang cukup penting bagi kita semua adalah bagaimana meneladani Fahri Hamzah. Tidak harus persis menjadi seperti dirinya, akan tetapi tiap kita dapat mengambil inspirasi keberanian, ketaatan pada hukum, dan komitmen untuk berjuang dan berkontribusi bagi bangsa dalam bidang apapun yang kita geluti.

Indonesia butuh banyak tokoh, banyak kontribusi, dan banyak kolaborasi untuk mengangkat marwah bangsa ini menjadi salah satu kekuatan di antara sekian banyak negara lain di dunia.

Yanuardi Syukur, pengajar Antropologi di Universitas Khairun dan Universitas Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here