DILEMA MEMILIH PEMIMPIN SEJATI

0
48

By. Fahri Hamzah

Inikah dilema rakyat Indonesia? Mau pilih pemimpin dibatasi 20% treshold. Mau cari yang bagus harus didukung konglomerat dan berkuasa.

Akhirnya kemungkinan kita akan menonton calon yang didisain oleh penguasa dan para cukong. Terpaksa memilih kotak kosong.

Saya memang mempertanyakan apakah kita sedang menghadapi dilema rakyat? Tapi saya mendukung bang Faisal Basri dkk melakukan JR atas UU yang akan membatasi hak rakyat untuk memilih pemimpin dari alternatif yang bisa disajikan oleh parpol. Semoga sukses.

Jika nanti Pilpres bisa diikuti oleh banyak kandidat, semoga bisa lahir pemimpin sejati.

Pada putaran kedua, setelah rakyat diberi kesempatan untuk mengetahui siapa orang-orang itu sebetulnya… adakah isi kepala? Bersihkan hatinya? Mampukah ia memimpin dan mengelola?

Kepada KPU sebetulnya kalau mau bersikap ya di sini. Paling tidak, disainlah sebuah tahapan pemilu yang memungkinkan rakyat menyaksikan perdebatan yang lebih luas dan mendalam di antara kandidat.

Jangan biarkan kompetisi yang tawar dan datar. Entah apa yang terjadi di negeri, hari ini seolah kita tidak punya pilihan.

Cadangan pemimpin seolah hanya ada dua atau tiga, sementara kita merasa melihat para kandidat yang tidak maksimal.

Ada yang pintar tidak populer dan sebaliknya ada yang populer ala kadarnya.

Kenapa KPU tidak bisa menyiapkan sebuah pertunjukan kolosal yang menarik dan melibatkan para petarung sejati dari seluruh potensi dan kabilah.

Kenapa kita mesti dikunci oleh situasi yang ada? Kita menunggu keputusan MKRI tetapi KPU bisa segera mulai.

Ayo KPU daripada sibuk urus caleg ini saatnya urus capres. Ribuan caleg itu gada apa-apa nya dibanding capres.

Salah pilih 1000 caleg koruptor gak bisa menandingi salah pilih presiden inkompeten gara-gara proses yang terlalu singkat dan basa-basi.

Inilah saatnya KPU maksimalkan regulasi seleksi capres. Tanpa menunggu keputusan MK, disain kebijakan teknis yang bermutu sdh mulai bisa dirancang.

Kurangi ajang seleksi basa-basi seperti yang lalu. Perbanyak interaksi uji kompetensi kandidat di depan rakyat

Tapi, kalau akhirnya pesanan kandidat untuk mengurangi uji kompetensi yang dilayani KPU maka seperti yang sudah lalu.

Pemilu presiden hanya basa basi. Ini memalukan bagi ibu pertiwi. Parah. Juara tak dapat tempat. Calon orang kaya yang menang.

Misalnya, kalau KPU mau memperbaiki hasil Pilpres. Kenapa tidak daftarkan calon agak dini. Tanpa harus didukung partai terlebih dahulu.

Biar mereka masuk bursa. Paling tidak rakyat akan melihat SIAPA yang punya niat dan nyali untuk menjawab tantangan.

Setelah mereka masuk bursa. Dorong partai untuk memfasilitasi mereka berdebat dengan perguruan tinggi di 34 Propinsi di seluruh Indonesia.

Biar fair bagi seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke. Moangas sampai Rote akan menguji kemampuan mereka.

Suruh mereka para capres itu menjawab tema-tema lokal yang tematik berdasarkan kepentingan seluruh propinsi, kota dan kabupaten.

Bahkan menjawab pertanyaan seriap rakyat di 75.000 desa di seluruh Indonesia. Biar mereka teruji betul.

Suruh juga mereka ke luar negri menjawab isu para pekerja migran, mulai dari isu diplomatik antara kedua negara.

Sampai bagaimana sang capres berjanji mengatur kesejahteraan WNI saat bekerja sampai pulang kembali ke tanah air berjumpa keluarga.

Bawa mereka ke kantong buruh, suruh mereka jawab isu kaum buruh pekerja yang tidak selesai-selesai di negeri ini.

Mulai dari cara capres menangani upah buruh sampai penciptaan lapangan pekerja melalui pengembangan industri secara sektoral.

Suruh capres menjawab isu de-industrialisasi yang membuat jumlah lapangan pekerjaan merosot tajam

Baik karena berkembangnya ekonomi digital maupun karena memang terjadi kehancuran manufaktur lokal oleh barang import.

Ajak mereka bertemu dengan ahli lingkungan hidup untuk menjawab fakta bahwa semua sisi lingkungan kita merosot.

Sungai dan laut jadi tempat sampah, hutan terbakar dan berlubang, dan sampah pembangunan dan Industri yang dibuang sembarangan.

Masih banyak lagi, tapi intinya adalah Pilpres akan menjadi medan menjawab kegelisahan kita tentang kualitas presiden terpilih.

Sebab yang tidak kompeten pasti mereka akan tau diri. Mundurlah. Belajar lagi. Masih ada waktu.

Sementara itu, di ujung pertarungan dua raksasa putra dan putri terbaik yang pernah dilahirkan oleh perempuan negeri ini akan berlaga secara gagah perkasa.

Ksatria dan jawara. Dalam sebuah pertarungan bersejarah. Seluruh dunia akan menonton kita.

Terbayang bangganya kita sehingga siapapun yang terpilih akan membuat cerita yang mengagumkan.

Keyakinan yang kentara, kefasihan berbicara dan etika yang tinggi dalam pesta demokrasi kita. Luar biasa.

Semoga ada lahir cahaya dan inisiatif anak negeri khususnya di KPU dan MK untuk mencipta sebuah sasana.

Menjawab kerinduan kita, menjawab tantangan masa. Mengakhiri dilema rakyat kita. Ayo KPU kamu bisa!!!

Twitter @Fahrihamzah 22/6/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here