Dilema Kita

0
206

Jakarta, Radarnusa.com – Hari ini hujan mengguyur Jakarta, lebat sekali. Udara terasa dingin hingga malam hari. Dalam suasana itu, tiba-tiba ingatan saya melayang jauh ke masa lalu, tentang kelas-kelas sosial yang diciptakan oleh Belanda saat menduduki bumi nusantara.

Ketika itu, Belanda memposisikan diri sebagai kalangan sosial paling atas, kelas 1. Mereka berkuasa atas semua aturan hukum dan kebijakan-kebijakan pengolahan sumber daya alam di nusantara. Siapapun yang menentang, maka akan mereka perangi. Termasuk raja-raja yang ada di nusantara.

Kemudian Belanda juga menciptakan kalangan sosial kelas 2, yakni terdiri dari para pedagang-pedagang dari Asia (China, India), dan para pedagang dari timur tengah (Arab). Mereka diberi akses untuk melakukan perdagangan didalam wilayah benteng-benteng Belanda dan wilayah sekitar benteng belanda. Tapi tetap membayar pajak kepada Pemerintah Belanda. Mereka diatur sebagai golongan kelas 2, dengan tujuan untuk memberikan batas interaksi antara kaum pribumi dengan Belanda.

Berikutnya, Belanda memposisikan sebagian orang kita, para kaum pribumi. Sebagai golongan kelas 3, atau golongan paling bawah dari kelas sosial yang diciptakan Belanda di masa itu. Mereka dipekerjakan sebagai pelayan-pelayan, kerja paksa, dan kuli berat di pelabuhan, gudang dan perkebunan Belanda. Mereka ini kebanyakan diambil dari orang-orang di wilayah Jawa yang memang benar-benar terbelakang secara ilmu pengetahuan, diambil juga dari orang-orang Melayu yang ada diwilayah Sumatera sana, diambil dari orang-orang Makassar, dan ambon. Yang mana, kerajaan-kerajaan di daerah itu sudah ditaklukkan oleh Belanda. Mereka orang-orang yang dibawa dari daerah itu, kemudian dibuatkan kampung-kampung disekitar benteng Belanda. Kalau di Jakarta, ada kampung Melayu, kampung Makassar, dan kampung Ambon, itu semua adalah kampung-kampung bentukan Belanda ketika itu. Sengaja dibuat oleh Belanda, untuk menjadi benteng dalam menghadang perlawanan kaum pribumi lainnya, yang memiliki jiwa revolusioner. Seperti pasukan dari kerajaan-kerajaan sekitar Batavia.

Orang-orang pribumi yang dijadikan kuli Belanda ini, kemudian mereka secara turun temurun banyak mewariskan mental kuli dan mental penjilat kepada generasi setelahnya. Karena faktor bekerja dengan Belanda dan didikan Belanda dimasa itu, yang cenderung mengendalikan akal dan pikiran mereka agar terus menerus menjadi pelayan Belanda. Mereka tidak bisa kritis, tidak bisa berpikir dan bergerak revolusioner, karena Belanda ketika itu memang tidak menghendaki mereka menjadi manusia yang merdeka.

Mental demikian kemudian terus tumbuh hingga hari ini. Bahkan ketika secara dejure Belanda sudah tidak menjajah negeri ini, warisan mental dari zaman Belanda itu masih tetap ada. Bahkan semakin kesini, semakin banyak pula orang yang terjangkiti.

Orang-orang yang mau berpikir kritis terhadap negerinya, jumlahnya sangat sedikit. Apalagi orang yang mau melakukan tindakan-tindakan revolusioner melawan penjajahan gaya baru, lebih sedikit lagi jumlahnya. Padahal, bila dicermati secara mendalam tentang situasi negeri ini, pola-pola penjajahan itu perlahan mulai menampakkan tandanya. Namun masih saja banyak yang belum menyadarinya. Semua ini efek dari pewarisan mental irlander zaman dulu.

Saya tertarik dengan apa yang pernah dilakukan oleh Mahathir Muhammad di Malaysia. Dimana dalam upaya memerangi mental budak masyarakat Melayu disana dan menghilangkan dominasi orang Tionghoa di Malaysia, dia melakukan berbagai macam terobosan yang kemudian mampu merubah karakter dan hidup masyarakat Melayu. Pertama, melalui kekuasaannya dia memberikan perhatian dan dukungan penuh kepada pendidikan masyarakat Malaysia. Pendidikan gratis, murah, beasiswa dalam dan luar negeri, impor pengajar berkualitas dari berbagai negara, dan memberikan kucuran dana yang besar terhadap riset-riset. Lalu kedua, dia memberikan akses kredit permodalan usaha yang sangat mudah diakses masyarakat Melayu Malaysia. Sehingga semangat untuk berwirausaha tumbuh subur. Masyarakat Melayu yang tadinya sering dicap sebagai masyarakat yang malas, tidak berdaya saing, kini telah berubah menjadi Melayu yang jauh lebih maju. Dan kita bisa lihat hari ini, bagaimana Malaysia kini telah berubah menjadi negara yang cukup diperhitungkan, khususnya diwilayah Asia Tenggara.

Setiyono
PN KA KAMMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here