Cara Meredupkan Anies-Sandi

0
148

Alexis adalah imajinasi terbesar kaum lelaki berduit seperti pejabat, pengusaha dan pemburu kenikmatan sesaat. Tak sempurna menjadi pejabat jika ke Jakarta tak mengunjungi Alexis. Pembicaraan di kedai kopi hingga media sosial menempatkan Alexis sebagai ikon prostitusi Jakarta. Maka ditutupnya Alexis adalah gong pertanda perang melawan praktek prostitusi dan perdagangan perempuan di Jakarta dan juga di seluruh Indonesia.

Dihentikannya operasi Alexis oleh Gubernur Anies Baswedan bukan berarti praktek prostitusi dan sejenisnya akan berhenti dan hilang sama sekali di Jakarta. Tetapi Anies sudah melakukan tugasnya dengan baik sebagai gebrakan pembuka. Ada ribuan tempat prostitusi dengan modus hiburan dan tempat pijat di Jakarta. Alexis bagaikan induknya yang secara simbolik ditutup. Tugas untuk menutup seluruh tempat sejenis sangat berat karena tingkat permintaan yang tinggi dan berbagai model usaha hiburan yang melingkupinya bermacam-macam, ditambah media sosial yang membantu prostitusi online menjamur.

Perang sesungguhnya bukan pada menghentikan ijin seluruh tempat hiburan yang menyelenggarakan praktek prostitusi. Tetapi perang pada pikiran dan pembangunan karaktek generasi muda sebagai objek. Juga pada moral dan agama. Anies telah bekerja melawan secara simbolik ikon prostitusi Jakarta dengan menutup Alexis -sesuatu yang diragukan pendukung Ahok-, dan masyarakat Jakartalah yang berwenang menghapus berbagai kegiatan prostitusi di lapangan.

Alexis telah jauh melampaui imajinasi sebagai tempat hiburan dan relaksasi. Sejak Ahok menyebut lantai 7 Alexis sebagai surga yang sebenarnya, sejak itu Alexis telah masuk ke ranah perbincangan sosial politik nasional. Alexis seolah sangat kuat dan dibekingi sejumlah orang kuat, Ahok pun yang berani dan tegas tak mampu menutupnya apalagi Anies yang dikesankan lemah.

Maka sejak Anies-Sandi dilantik, buzzer memulai serangan soal Pribumi, Reklamasi dan Alexis. Beranikah Anies menutupnya atau sekedar janji kampanye saja untuk mendapat dukungan moral dari kaum agamis. Tak dinyana Anies mampu menjawab tantangan tersebut, Anies-Sandi tak gentar menghadapi ancaman Menko Maritim Luhut soal ijin reklamasi teluk Jakarta. Selanjutnya saat ditantang soal berani tidak menutup Alexis? Anies menjawab dengan tidak memperpanjang ijin operasi Alexis yang otomatis harus berhenti beroperasi alias ditutup. Dukungan publik pun mengalir deras kepada duet pemimpin Jakarta ini.

Alexis kini telah runtuh, dan ribuan tempat hiburan tinggal menunggu waktu. Prostitusi memiliki kompleksitasnya sendiri sebagai gejala sosial dan moral masyarakat, akan mencari cara untuk terus beroperasi seiring permintaan dan mudahnya akses. Tetapi Anies meruntuhkan simbolnya, sebuah tonggak sejarah yang patut ditindaklanjuti secara menyeluruh pemerintah, aparat dan masyarakat Jakarta. Sumber Pendapatan Asli Daerah yang selama ini menjadi alasan utama diijinkannya praktek prostutitusi dilawan oleh Wagub DKI Sandiaga Uno dengan mengatakan ada banyak sumber ekonomi lainnya yang halal dan berkah untuk membangun Jakarta. Tergantung kreativitas kita mengelola ibukota bersama warga.

Panggung “Pribumi, Reklamasi dan Alexis” adalah panggung Anies-Sandi yang menjadikannya ikon kepala daerah yang menasional. Sebenarnya jika dianggap biasa maka tidak akan menjadi ramai. Tetapi lawan politik Anies-Sandi lah yang “membantu” memercikkan api yang membesar yang justru makin membuat Anies-Sandi makin bersinar.

Hari-hari kita di media diwarnai berita ditutupnya Alexis. Sepekan pertama dihebohkan oleh kata Pribumi, lalu Reklamasi, kemudian kini Alexis, dan semua opini positifnya dimenangkan Anies-Sandi, besok apa lagi?

Maka, satu-satunya cara pemerintah pusat ‘meredupkan’ sinar Anies-Sandi adalah dengan bekerjasama dan saling sinergis. Bila Jokowi dan pembantunya semakin berupaya merusak kerja Anies-Sandi dalam menuntaskan janjinya, akan makin nampak itikadnya yang kurang baik bagi kemajuan Ibukota.

 

Oleh. Taufik Amrullah (Progress Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here