Bertobatlah Wahai Pemimpin, Sebelum Terlambat

0
154

Jakarta, Radarnusa.com – Belakangan ini kata “Pancasila” kembali sakti. Bagaimana tidak, setelah hampir selama beberapa tahun reformasi bergulir, baru sekarang pemimpin negara kembali “meributkan” Pancasila. Lihat saja beberapa hari lalu, mengusung pemerintahan Jokowi-JK mengusung tagline “Saya Indonesia, Saya Pancasila” Seolah mereka ingin mengatakan “Ayo siapa mengaku Indonesia, katakan Saya Pancasila”

Sebenarnya tak ada masalah pemerintah mempopulerkan istilah itu. Tapi menjadi masalah besar, ketika ruh Pancasila dihidupkan sebagai simbolitas politik semata. Pancasila digaungkan tepat ketika pemerintah mengeluarkan perpu pembubaran ormas. Pancasila dimunculkan ketika nilai Pancasila itu sendiri dicabut dari akarnya, dijauhkan dari kehidupan yang demokratis.

Dulu ketika dirumuskan Soekarno dan pendiri bangsa lainnya, Pancasila itu adalah kata yang sacral. Di dalamnya ada nilai kebangsaan yang berdiri kokoh, spiritualitas ketuhanan yang maha suci masuk ke dalam jiwa dan solidaritas sosial dengan bercirikan musyawarah. Masa itu, Pancasila digambarkan sebagai nilai ideal yang lahir dari saripati sifat positif anak bangsa. Tidak heran, muncul harapan Pancasila ini milik Indonesia yang kelak akan dipersembahkan sebagai teladan untuk dunia.

Tapi takdir berkata lain, pemerintahan Orde Lama yang mengkultuskan Pancasila bergerak menyimpang jauh dari keagungan lima sila. Kebebasan aspirasi disumbat, karena bersikap kritis terhadap Soekarno. Musyawarah tak diperlukan ketika seenaknya saja Masyumi dibubarkan, sementara PKI mendapatkan perlindungan. Persatuan terancam, karena bangsa terbelah dua : anti dan pro Soekarno.

Sikap Soekarno ini terus saja berjalan, sampai datang tragedy 1965 yang menguji kesaktian Pancasila. Masa itu, bangsa ini harus bertaruh besar, apakah Pancasila masih sakti atau layak diganti dengan komunisme. Melihat itu, tampil sebagai pahlawan kelompok militer bersama rakyat meredam pemberontakan PKI. Pancasila selamat, tapi pemimpin berganti entah apakah mereka masih peduli kepada kesakralan Pancasila.

Soeharto datang, menawarkan harapan dan keinginan mengembalikan nilai Pancasila sebagai kepribadian dan pengamalan kehidupan bangsa. Berjalannya waktu kembali Pancasila jadi alat taktis menggebuk lawan politik. Pancasila masuk ruang penataran, berwujud P4 dan jadi asas tunggal yang seolah permainan kosong belaka. Siapa menolak Pancasila, melawan negara, jadi silahkan dibubarkan secara paksa.

Mencoba bertahan dengan mempermainkan keagungan Pancasila, karir politik Soeharto kandas tahun 1998. Sejarah terus berjalan dan ruang eksistensi Pancasila hanya hadir dalam pembelajaran sekolah dan ruang kelas kuliah. Indah sekali para pengajar membicarakan Pancasila sebagai nilai ketuhanan, tapi masyarakat seolah melupakan Tuhan ketika uang hadir di depan mata dan korupsi merajalela. Keadilan sosial digaungkan, tapi bebas saja ada pemimpin yang menjual asset negara kepada asing ketika berkuasa.

Jadilah Pancasila masuk ruang gelap, hanya masuk sebagai pengetahuan tanpa makna. Diajarkan tanpa berbasiskan keteladanan, mata airnya mengalir tapi tersumbat lumpur kemunafikan para elit yang bebas korupsi, menjual asset negara dan mengkayakan diri, sementara rakyat dibelit kenaikan BBM, listrik sampai sembako. Pertanyaannya, inikah Pancasila yang sesuai dengan harapan pendiri bangsa?

Kini ketika ada pemimpin ndeso berkuasa, lahir katanya dari kesederhanaan dan diyakini bagai penyelamat rakyat Indonesia, tiba-tiba menyanyikan lagu saya Indonesia, saya Pancasila. Lagu yang merdu, tapi terasa perih sebab diperdengarkan ketika kebebasan berpendapat dan hukum terinjak bebas. Dengan dalih kegentingan yang memaksa, meski perlu dicari lagi apa makna “kegentingan yang memaksa” pelan-pelan ormas yang berbeda pandangan dengan pemerintah dibubarkan. Modalnya pembubaran hanya satu, saya Pancasila dan Anda anti Pancasila. Tak peduli melanggar hukum, sebab pembubaran tak membutuhkan pembelaan di pengadilan.

Pancasila pula yang dijual, ketika beberapa hari ini pemimpin negara memberikan pidato Pancasila rumah kita. Sebuah spirit dan tema yang menarik, sayang itu semua harus ditunggangi kepentingan politik praktis. Demi 2019, demi kekuasaan, demi kelanggengan otoriter. Padahal semua rakyat bisa tahu, kekuasaan yang dimunculkan “berlaku seumur hidup” dan “berjalan dua periode” dapat mengarah kepada diktatorisme. Apalagi sepanjang kekuasaan, banyak kebijakan yang dipertanyakan karena menjauhkan rakyat dari cita-cita kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan.

Saya, Anda dan kita semua tentu tak rela Pancasila yang lahir dari semangat terbaik pendiri bangsa dijadikan alat taktis dan praktis politik penguasa. Terlalu sempit, memandang Pancasila demi tujuan pemilu, pembubaran ormas dan sebagainya. Berhentilah dan hentikan semua sikap itu. Kembali ke jalan yang lurus, dan berkacalah kepada catatan sejarah generasi Orla dan Orba. Mereka terbukti sudah merasakan kejatuhan yang tragis, karena menjadikan Pancasila sebagai alat gebuk lawan politik dan ajang memaksakan kehendak kepada kelompok kritis. Semoga pemimpin kita cepat sadar bahwa Pancasila adalah warisan terbaik perumus kebijakan Indonesia merdeka. Wahai pemimpin bangsa, cepatlah bertobat sebelum terlambat.

 

Inggar Saputra S.Pd, M.Si
Ketua Departemen Kajian Strategis KA KAMMI 2016-2020
Peneliti di Institute For Sustainable Reform (INSURE)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here