Asas Tunggal dan Tafsir Pancasilais Baru

0
263

Paska gerakan “Bela Islam 411 & 212” gelombang sospol Islam terus riuh. Ditambah pembubaran HTI melalui Perpu Ormas yang kemudian disahkan jadi UU Ormas. Ancaman regulasi ini berlaku bagi seluruh ormas.

Ada kata ampuh sebagai pemberangusan, yaitu #AntiPancasila. Tidak terlalu berlebihan monopoli tafsir ini dianggap sebagai senjata politik. Menjegal kekuatan lawan dengan serangkaian stigmanya.

Tanpa melihat problem ke dalam (baca: ngaca ka beungeut). Tafsir ini terus digoreng. Malah (seakan) Penjajahan, penjarahan SDA dan korupsi dianggap #pancasilais bahkan lebih #NKRI.

Hal lain yang tidak kalah mengecewakan. Tafsir ini jadi bahan provokasi, intimidasi dan persekusi. Tak lucunya lagi dialog, adu kemampuan dan adu kematangan dijauhi. “Aku Pancasilais, Aku NKRI” hanya slogan di HUNTU (baca: gigi), lain di hatinya.

Dalam Sundanya, “Hate jauh ku mikanyaah ka papada jalma. Resep pagetreng jeung dulur. Teu sadar keur diadukeun ku batur. jiga Domba Adu” (hati jauh mencintai sesama. suka berkonflik dengan saudara. Tida sadar, ia lagi diadu seperti Domba aduan)

Secara khusus bagi Islam. Konflik madzhab, dan furuiyah yang sifatnya fikih harusnya sudah selesai. Kita cukup lelah, umat Islam selalu berhadap hadapan. Korban yang tentunya umat Islam tidak terhitung.

Pengalaman Orde Lama, Orde Baru. Mulai dari Asas Tunggal Pancasila hingga UU Ormas di era Jokowi harus jadi kesadaran bersama. Islam harus hidup merdeka. Bebas di mimbar menyerukan panji panji Ilahi tanpa intimidasi.

Jika kemudian Islam dianggap pendatang baru. Agama asing di negeri nusantara yang sudah berabad-abad bertransformasi. Kita akan kehilangan Islam otentik. Moderasi Islam akan tertinggal jauh dengan kebutuhan jaman lintas benua.

Cukuplah.”Islam sangat Pancasilais dan Islam sangat Indonesia.” Tak terhitung jasanya umat ini membangun peradaban nusantara. Termasuk Pancasil sebagai tonggaknya.

By. Kana Kurniawan (Sekjen Pemuda PUI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here