Anis Matta Terkesan Dengan Sosok Pahlawan “Wage” R. Soepratman Yang Diangkat Ke Layar Lebar

0
209

Jakarta – Tokoh nasional Anis Matta melalui akun twitternya @anismatta memberikan testimoni dan kesan positif atas film-film sejarah bangsa yang diangkat menjadi sesuatu yang “happening” bagi generasi now. Menurut Anis Matta, film sejarah membentuk pribadi kita menjadi lebih baik hari ini.

Anis Matta menuangkan kesannya dalam sejumlah twitnya seusai nonton bareng sineas, pemeran film “Wage”, dan sejumlah aktivis pemuda. Refleksi FILM ‘WAGE, Kita Perlu Dekat Dengan Sejarah:

Alhamdulillah, hari ini saya diundang nonton bareng film “Wage” bersama tim yg memproduksi film ini..

Saya ingin mengapresiasi para insan film yg mengangkat tema sejarah ke layar perak.. Ini membuat sejarah dekat dgn masyarakat..

Bbrp yg saya tonton: Sang Pencerah dan Soekarno karya @hanungbramantyo, Sang Kiai karya @Rako_Prijanto, dan Banda: The Dark Forgotten Trail karya Jay Subiakto dan @lalatimothy..

Masyarakat perlu dekat dgn sejarah dan tidak melihat sejarah sebagai sesuatu yg membosankan atau menakutkan..

Sejarah adalah peristiwa masa lalu yg membentuk diri kita hari ini.. Belajar sejarah berarti belajar memahami diri kita labih baik lagi..

Saya tergelitik dgn film “Wage” krn mengangkat tokoh yg biasanya hanya dibahas sekilas dalam wacana sejarah kita.. Padahal, sumbangan Wage Rudolf Supratman sangat besar..

Bangsa Indonesia telah lebih dulu lahir sebelum negara Indonesia terbentuk.. Yaitu pada saat Sumpah Pemuda 28 Okt 1928..

Bangsa Indonesia lahir dari proses peleburan sosial (social blending) yang menghasilkan kebutuhan akan identitas baru..

Identitas baru itu ditunjukkan dgn nama Indonesia, sbg bangsa, tanah air, dan bahasa.. Inilah puncak penting dalam gelombang pertama sejarah Indonesia..

Pendiri bangsa kita tdk memilih menjadi bangsa “Hindia” atau memilih bahasa Jawa yg saat itu dominan di masyarakat..

Lagu Indonesia Raya yg diciptakan Wage Rudolf Supratman menjdi katalisator dari identitas baru tsb.. Lagu itu menegaskan “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.”

Bahkan saling takutnya, Belanda hanya mengizinkan lagu itu dinyanyikan tanpa syair, hanya alunan biola yg digesek Wage..

Banyak seniman dan budayawan berkontribusi dlm proses menjadi Indonesia.. Para penulis lagu, sastrawan, penyair, pemusik, juga para sineas..

Dgn bahasa seni dan estetika mereka menyentuh hati dan pikiran masyarakat.. Menjadi saksi dr peristiwa2 sejarah yg ditemuinya..

Tantangan skrg adalah menggabungkan seni dan budaya ke dalam industri kreatif yg membawa manfaat bagi peekonomian.. Juga mengangkat nama harum Indonesia di pentas dunia..

Apalagi kita skrg memasuki era “leisure economy”, di mana experience dan pemenuhan kebutuhan emosional multi menjd salah satu pilar ekonomi..

Itulah kekuatan seni dan budaya bagi masyarakat.. Mudah2an film Wage mampu mengangkat pentingnya Indonesia Raya dalam proses “menjadi Indonesia”..

Ayo nonton film Indonesia!!

@anismatta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here