Alumni UI Menggugat; Setelah Perppu Ormas Disahkan: Adakah Kebebasan Rakyat?

0
300

Jakarta – Perppu 2 Tahun 2017 telah menjadi Undang Undang dan itu artinya tidak ada lagi kebebasan rakyat untuk berserikat. Demikian disampaikan Herry Hernawan, aktivis UI tahun 1974 pada acara diskusi Alumni UI Menggugat pada 10/11/2017 di Bakoel Koffie, Cikini kemarin.

Herry yang juga pernah menjadi tahanan politik aksi demo menentang SU MPR tahun 1978 mengatakan “Kebebasan rakyat untuk berserikat itu dijamin Konstitusi dalam Pasal UUD 1945 dan tidak boleh dirampas penguasa. Jaminan ini ditujukan kepada penguasa, untuk melaksanakan dan memelihara, termasuk dalam aspek organisasi kemasyarakatan.

Disisi lain, Pemerintah juga berkewajiban menjalankan fungsi keamanan dan ketertiban, yang harus ditaati masyarakat. Oleh karena itu, sesungguhnya, dalam menjaga keseimbangan itu telah dengan baik dimuat dalam UU No. 17 Tahun 2013, bahwa terhadap Ormas yang dianggap melanggar ketentuan, maka setelah melalui tahap peringatan, penguasa mengajukan gugatan ke pengadilan, untuk diputus oleh Hakim.

Kondisi yang menghormati konsitusi tersebut, telah dilanggar Penguasa dengan menerbitkan Perppu No. 2 Tahun 2017 kata Herry yang aktif sejak mahasiswa pernah menjadi Ketua BPM FHUI tahun 1975 dan tahun 1977 menjabat wakil ketua SM FHUI.

“Penguasa menjadi otoriter baru manakala pemerintah semaunya sendiri menentukan mana organisasi yang harus mati dan harus hidup” tambah Herry Hernawan. Diakuinya bahwa penguasa memang berhak mengeluarkan Perppu, namun seharusnya dalam nuansa menghormati konstitusi, dengan penuh kearifan kepada rakyatnya. Tidak bisa semau sendiri, yang mencerminkan kesewenang-wenangan, dan melupakan bahwa Kekuasaan adalah amanat.

Alumni Lulusan Hukum Universitas Indonesia, sekaligus pendiri dan pengawas ILUNI UI 21 Juli 2017 menekankan bahwa dalam Perppu No. 2 Tahun 2017 yang kini menjadi UU, penguasa dengan tafsirnya sendiri, mempunyai hak untuk membubarkan suatu ormas yang sebelumnya sudah sah sebagai Badan Hukum atau sudah terdaftar.

Pengesahaan Perppu tersebut menjadi UU, tidak menghilangkan kesan bahwa Penguasa telah menggunakan instrumen politik untuk membungkam suara rakyat. Bahwa pengesahan Perppu No. 2 Tahun 2017 menjadi Undang Undang, tidak menghilangkan pendapat di masyarakat, bahwa hal itu terjadi dengan penuh dengan transaksi politis, bahkan mungkin penekanan halus kepada sebagian besar anggota Parlemen.

Herry menyimpulkan bahwa pengesahan (Perppu. Ed) menjadi Undang Undang, tak lain hanya pembenaran formal untuk membungkan hak berserikat rakyat yang dijamin Konstitusi, yang seharusnya juga dihormati Penguasa dan para wakil rakyat di Parlemen.

Pendapat Herry Hernawan tersebut diaminkan oleh para aktivis UI lainnya seperti Ramli Kamidin, Salim Hutadjulu, Andi Bachtiar, Ayu B Nurdin, Ishaq, Fuad Abdullah dan Ketua dan Sekjen ILUNI UI Ima Soeriokoesoemo dan Hidayat Matnur.

Sebagaimana yang diberitakan kemarin pada 10 November 2017 aktivis alumni UI mendaftarkan gugatan hukum resmi kepada pengadilan PTUN atas dibubarkannya secara sepihak organisasi ILUNI UI 21 Juli oleh Menteri Kemenhukam Yassona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here