2019, Bukan Lagi Milik Prabowo dan Jokowi

0
1086

Jakarta, Radarnusa.com – Hasil survey dari Lembaga Media Survey Nasional (MEDIAN) menyebutkan bahwa 40,6% publik menginginkan adanya capres alternatif selain Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Artinya, dua nama tersebut masih belum aman untuk bertarung di Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, problem ekonomi yang menjadikan masyarakat tidak ingin memilih Jokowi. Sedangkan, Prabowo juga dinilai tak mampu mengatasi persoalan ekonomi saat ini.

Redaksi Radarnusa.com melakukan wawancara dengan pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago yang juga merupakan direktur dari Volpox Center mengenai hasil survey tersebut. Berikut petikan wawancaranya.

Tempo lalu ramai diberitakan media bahwa terdapat hasil riset dari lembaga survey Median bahwa elektabilitas Jokowi dan Prabowo menurun, bagaimana pendapat anda ?

Terkait dengan elektabilitas Bapak Jokowi, itu kan hasil riset ya, artinya harus dihargai juga, mungkin lembaga survey satu bisa berbeda dengan lembaga survey yang lain. Tapi ini tetap menjadi evaluasi bagi pemerintah. Disitu mungkin ada poin – poin kelemahan juga kelebihan pemerintahan jokowi. Kelebihannya misalnya di infrastruktur yang dibangun, kelemahannya misalnya di ekonomi miko subsidi, pajak yang terlalu membunuh pengusaha , termasuk ketahanan keluarga dalam daya beli, ekonomi masyarakat yang hari ini menurun, walaupun disaat yang sama infrastrukturnya oke. Ya itu bagi jokowi harus diterima hasil surveynya, itu indikator yang terukur dengan metodelogi yang disiplin, bahwa tidak ada rekayasa hasil.

Ada tidak kemungkinan suatu lembaga riset memang sudah ditentukan hasil risetnya oleh sponsor ?

Ya , begini, kalau persoalan pesanan, saya tidak bisa menjawab ya atau tidak, kalau mereka betul – betul ketat dalam metodeloginya, disiplin dengan surveyornya, itu sebetulnya tidak terpengaruh dengan siapa sponsornya. Memang lembaga survey itu kan hanya sedikit mereka yang betul – betul membiayai sendiri, ada kecenderungan trendnya mereka disponsori. pertanyaannya adalah kalau disponsori mengubah hasil atau tidak.

Jadi meskipun disponsori, hasilnya akan tetap objektif ?

Sepanjang mereka menjaga metodeloginya, disiplin dalam pengambilan samplenya, kemudian surveyornya tidak menggiring dan seterusnya, itu tidak akan mengubah hasil. Tetap mereka akan objektif meski siapapun yang mensponsori.

Kembali lagi soal elektabilitas Prabowo dan Jokowi yang menurun , apakah ada nama baru selain kedua poros tersebut yang muncul dan relatif naik elektabilitasnya ?

Ya,soal hasil survey tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan jokowi ini masih pro kontra ,ada hasil riset yang mengatakan tingkat elektabilitasnya naik, juga ada yang hasilnya turun, juga ditambah hari ini ada yang sedang banyak diperbincangkan ,selama ini kita memang hanya mengenal 2 poros saja, yaitu poros jokowi dan poros prabowo, sekarang ada tokoh alternatif baru yang dihembuskan, walaupun dalam tanda petik, popularitas dia hanya di permukaan saja, belum bisa dikatakan menyalip, atau menyeimbangkan dua poros yang lalu, ya dia Bapak Gatot Nurmantyo ini.

Jadi dari sudut pandang mana sehingga Gatot Nurmantyo bisa dibilang memiliki kenaikan elektabilittas ?

ini kita bisa lihat, berapa persen elektabilitas dari gatot, dan trend elektabilitas ini faktornya apa. Bisa disebabkan karena dia bisa mengelola isu, bisa mengambil kebijakan – kebijakan yang populis, bisa juga dia mampu mengambil sentimen – sentimen isu yang positif dengan masyarakat, dan itu juga tidak selamanya elektabilitas itu akan baik, karena Gatot hari ini masih menjabat, ketika panggungnya sudah tidak ada lagi, bisa jadi akan menjadi lebih menarik lagi, apakah peta politiknya berubah , bisa elektabilittasnya makin naik atau malah meredup. Atau sebaliknya, Prabowo pun yang purnawirawan bisa juga menjaga popularitasnya , banyak orang mengatakan ketika Gatot tidak lagi menjabat, tidak akan dapat panggung lagi dan tidak akan naik elekabiliasnya.

Apakah tidak bisa dikatakan bahwa Jokowi sedang berjudi dengan isu Gatot ini, sebab Gatot sebetulnya adalah “orangnya” Jokowi ?

 

Terkait dengan berjudi, berarti bisa berbahaya ataupun malah bisa menguntungkan Presiden Jokowi , saya kira terlalu beresiko dan berbahaya jika persoalan Gatot ini By Design bukan alamiah, saya melihat hal ini merupakan polemik juga , buah simalakama bagi Jokowi sendiri, ketika gatot diberhentikan, karena dianggap melakukan “politik praktis” atau bahkan ada sindiran bahwa militer harus tunduk terhadap pemerintahan yang sah, nantinya akan ada effect yang menyebabkan orang kasihan terhadap Gatot ini, sehingga Jokowi membiarkan, atau yang ke dua Jokowi memang sedang menikmati permainan ini, memang sudah di design dan di setting, sehingga Gatot dibiarkan dilepas sendiri dulu, dengan harapan suaranya Prabowo bisa tergerus , tanpa Jokowi harus ekstra bekerja untuk menggerusnya, artinya dengan naiknya popularitas Gatot, artinya bisa memecah segmen dan ceruk potensialnya Prabowo , karena segmen pemilih Prabowo dengan Gatot hampir mirip. Sementara pada saat yang sama, segmen pemilih dari Jokowi tidak terganggu, karena dia nasionalis, kan ?

Artinya elektabilitas Jokowi menurun sebab ketidakberesan negara sedang elektabilitas Prabowo menurun sebab adanya kemunculan Gatot ?

Ya , saya kira seperti itu.

Terkait dengan segmentasi isu antara Prabowo dan Gatot, apa sebab spesifik yang membuat Prabowo menjadi kurang populer dibanding Gatot ?

Isu – isu yang diambil oleh Gatot memang isu – isu kanan, misalnya 212, bahwa ulama penjaga NKRI, senjata, film PKI, barangkali ini yang menjawab kenapa elektabilitas Prabowo turun, dan saya kira ini menjadi problem bagi Gerindra, termasuk kemarin Prabowo mengeluarkan pernyataan yangg sangat blunder ketika menggatakan bantuan Rohingya sebagai pencitraan.

Tsurayya Zahra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here